Umum  

Sembilan Dosen UIN Ar-Raniry Jadi Narasumber AICIS 2024 Semarang

Keterangan Foto: Konferensi sesi pleno ketiga AICIS 2024 topik "Fiqh and Religious Moderation in Global Context" (Fiqih dan Moderasi Beragama dalam Konteks Global) menghadirkan tiga orang pembicara, yaitu; Prof. Madya Dr. Kamaluddin Nurdin Marjuni (Universiti Islam Sultan Sharif Ali, Brunei Darussalam); Prof. Dr. Kamaruzaman (UIN Ar-Raniry Aceh, Indonesia); dan Prof. Rahimin Afandi bin Abdul Rahim (University of Malaya, Malaysia). Pleno digelar di Auditorium Kampus III UIN Walisongo, Semarang pada Sabtu (03/02/2024)

LENSAPOST.NET — Sembilan dosen dari Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh dipercaya menjadi narasumber, pembahas dan moderator dalam acara tahunan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-23 yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang, Jawa Tengah.

Forum pertemuan ratusan akademisi internasional ini mengungsung tema ‘Redefining The Roles of Religion in Addressing Human Crisis: Encountering Peace, Justice, and Human Rights Issues’ yang berlangsung selama 4 hari, pada 1-4 Februari 2024.

Kesembilan dosen yang terpilih sebagai narasumber, pembahas dan moderator dalam AICIS 2024 Semarang tersebut berasal dari berbagai fakultas dan bidang keilmuan di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Mereka adalah Prof Dr Kamaruzzaman, Prof Dr Phil Abdul Manan, Dr Abdul Jalil Salam, Dr Chairul Fahmi, Dedi Sumardi, MA dan Ihdi Karim Makinara, MH. Sementara yang menjadi moderator masing-masing Prof Dr Eka Srimulyani, Prof Dr Mursyid Djawas dan Dr Anton Widianto.

Berdasarkan keterangan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prof Dr Muhammad Yasir Yusuf mengatakan bahwa AICIS 2024 diselenggarakan dalam beberapa rangkaian, di antaranya sesi pleno, pertemuan pemimpin otoritas agama, diskusi paralel, serta serangkaian expo mulai dari produk halal hingga pameran pendidikan tinggi internasional.

Sementara itu, Rektor UIN Ar-Raniry Prof Dr Mujiburrahman MAg menyambut baik tema konferensi AICIS tahun ini. Menurutnya, konferensi ini sangat relevan dengan krisis kemanusian global. Mujib menilai bahwa krisis kemanusian global salah satunya disebabkan karena hilangnya nilai-nilai moralitas dalam keberagamaan yang selama ini menjadi kendali utama dalam sikap, tindakan yang dilakukan oleh manusia.

“Pada hakikatnya dengan Kembali Kepada nilai dasar agama, akan menjadikan manusia untuk saling menghargai, menghormati dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Semoga AICIS 2024 ini mampu melahirkan Semarang Charter yang akan menjadi salah satu rekomendasi mendasar bagi bangsa Indonesia dalam menyikapi krisis kemanusiaan global,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Mujib juga memberikan apresiasi kepada dosen yang terlibat sebagai narasumber dalam berbagai pertemuan ilmiah, termasuk keikutsertaan sebagai peserta dan juga pemateri pada forum konferensi internasional AICIS 2024 di UIN Walisongo Semarang.

“Kontribusi ilmiah dari para dosen akan memperkuat citra UIN Ar-Raniry sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berkomitmen pada pengembangan ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang studi Islam dan tentunya akan memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan reputasi institusi untuk mengisi akreditasi unggul,” tegasnya.

Di AICIS 2024, Prof Kamaruzaman: Dunia Digital Pengaruhi Cara Berpikir Manusia

Sementara itu, salah seorang dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang tampil sebagai narasumber, Prof Dr Kamaruzaman pada Sesi pleno yang dipandu oleh Prof Eka Srimulyani membahas topik terkait moderasi beragama pada dunia digital.

Dalam pemaparannya, Sabtu (3/2/2024), Sosok yang juga Presiden Asian Muslim Action Network (AMAN) ini mengatakan bahwa dunia digital memengaruhi perubahan cara berpikir manusia di masa depan.

“Ada dua cara berpikir, pertama fast (cepat), intuitive (berdasarkan intuisi), dan emotional (bersifat emosional). Yang kedua orang yang slow (santai) dan sangat logis),” jelas Kamaruzzaman.

Ia menjelaskan bahwa orang yang berpikir dengan cara yang pertama cenderung kesulitan menerima konsep moderasi beragama dan akan menciptakan cara beragama yang agresif. Sementara orang dengan pola pikir yang kedua akan cenderung toleran dan bijaksana dalam menghadapi perbedaan.

“Era digital lambat laun menggiring orang-orang untuk meninggalkan cara berpikir kedua (logis dan bijaksana) dan beralih ke cara berpikir pertama (cepat, intuitif, dan emosional),” terangnya.

Pada era digital masa depan, akan banyak perubahan kebiasaan yang terjadi dalam proses transfer ilmu agama karena pengaruh kemajuan teknologi. [ ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *