LENSAPOST.NET – Arema FC telah memperkenalkan Robi Darwis sebagai salah satu pemain barunya untuk menghadapi musim baru 2026/27.
Bergabungnya pemain serba bisa itu menjadi bagian dari langkah tim untuk memperkuat komposisi pemain yang datang dari Persib Bandung yang merupakan klub sukses menjuarai kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia selama tiga musim berturut-turut.
Bagi pemain asal Cianjur itu, keputusan meninggalkan Bandung bukanlah pilihan yang diambil secara tergesa-gesa. Di balik kepindahannya ke Malang, ada proses pencarian klub yang mampu memberikan kepastian sekaligus menunjukkan keseriusan membangun kerja sama.
Dimana menjelang berakhirnya kompetisi musim lalu, ia mengaku belum memperoleh kepastian mengenai masa depannya di Persib. Situasi tersebut membuatnya mulai mencari peluang baru dengan meminta agennya membuka komunikasi dengan sejumlah klub.
“Saya melihat keseriusan itu datang dari Arema FC. Alhamdulillah negosiasinya berjalan, jadi tidak banyak lika-liku dan tidak perlu menunggu lama,” kata Robi Darwis.
Selain itu, di usia yang akan menginjak 23 tahun pada Agustus 2026 nanti, ia merasa membutuhkan klub yang mampu memberikan kesempatan berkembang melalui menit bermain yang cukup.
Terbukti dengan keseriusan manajemen Arema FC, kebutuhannya terpenuhi dengan kontrak yang diberikan selama dua musim.
“Saya juga ingin mengangkat tim yang memang meminati saya,” kata pemain Timnas Indonesia kelompok umur itu.
Kini dengan kemampuannya bermain di beberapa posisi, Robi Darwis diharapkan dapat menambah variasi pilihan bagi pelatih Marcos Santos dalam menyusun kekuatan Arema FC sepanjang musim depan.
Dia akan mengenakan nomor punggung 21. Pilihan tersebut ternyata bukan sekadar angka yang tersedia, tetapi memiliki makna khusus dalam perjalanan hidupnya.
“Saya sebentar lagi mau menikah. Kemarin memang ada beberapa opsi nomor, tapi sudah ada yang memakai. Jadi saya memutuskan tanya apakah bisa ambil nomor 21,” imbuhnya.
Sementara itu meski belum lama berada di Malang, Robi sudah merasakan salah satu budaya yang sangat melekat dengan masyarakat setempat, yakni boso walikan.
“Sedikit kaget saja bingung seperti mas dipanggil Sam atau saya dipanggil Ibor,” kata Robi Darwis.
“Jadi kata yang sudah lama tinggal di sini katanya sering dibalik,” pungkasnya.












