LENSAPOST.NET— Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, pendokumentasian sejarah dan budaya semakin dipermudah dengan adanya aplikasi inovatif. Salah satu aplikasi dimaksud dalam hal ini adalah Memorygraph.
Memorygraph dikembangkan oleh ROIS-DS Center for Open Data in the Humanities dan Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Kyoto University, Jepang.
Memorygraph memungkinkan pengambilan foto dengan komposisi yang sama, sangat berguna untuk fotografi sekarang-dan-dulu, sebelum-dan- sesudah, fotografi titik tetap, dan lainnya. Di Aceh, aplikasi ini menawarkan potensi besar dalam mendokumentasikan situs-situs bersejarah dan dampak bencana, seperti tsunami.
Untuk memanfaatkan potensi ini dan sebagai wujud implementasi kerjasama yang telah disepakati, CSEAS Kyoto University bersama dengan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala (USK), dan Balai Arsip Statis dan Tsunami (BAST) Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menyelenggarakan workshop bertajuk “Dari Foto ke Memori: Pemanfaatan Memorygraph dalam Mempertahankan Ingatan Kolektif” yang diadakan pada tanggal 21-22 Agustus 2024 di Gedung BAST-ANRI, Bakoy, Aceh Besar.
Workshop ini diisi oleh Assoc. Prof. Dr. Yoshimi Nishi dari CSEAS Kyoto University sebagai pemateri dan Alfi Rahman, S. I.Kom., M.Si., Ph.D sebagai moderator.
Sementara itu, peserta workshop merupakan perwakilan dari beberapa instansi dan organisasi yang ada di Provinsi Aceh, di antaranya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Museum Tsunami Aceh, Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan USK, Pusat Riset Ilmu Sosial dan Budaya (PRISB) USK, Youth Disaster Awareness Forum, termasuk TDMRC dan BAST-ANRI serta MAN Model Banda Aceh sebagai perwakilan pelajar.
Workshop ini juga merupakan bagian dari rangkaian acara “Peringatan 2 Dekade Gempa dan Tsunami: Aceh Built Back Better” yang akan diselenggarakan oleh BAST ANRI pada bulan Desember mendatang, bertujuan untuk memperkenalkan dan melatih penggunaan aplikasi Memorygraph, serta melakukan dokumentasi lapangan di beberapa situs penting di Aceh.
Melalui workshop ini, peserta diharapkan dapat memahami dan menggunakan aplikasi Memorygraph secara efektif, menghasilkan dokumentasi fotografi yang konsisten dari situs- situs bersejarah, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya dokumentasi berkelanjutan dalam pelestarian sejarah dan budaya.












