LENSAPOST.NET– Pemerintah Kabupaten Aceh Timur bersama Satuan Tugas Pusat Unggulan Produksi Lestari (Satgas PUPL) meluncurkan Program Rehabilitasi Kebun Kelapa Sawit Petani Swadaya Pasca Bencana Banjir Hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Timur.
Program ini didukung oleh para lembaga mitra yang mendukung pembangunan ekonomi hijau di Kabupaten Aceh Timur seperti Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) dan Forum Konservasi Leuser (FKL), melalui program National Initiative for Sustainable & Climate Smart Oil Palm Smallholders (NISCOPS).
NISCOPS merupakan program kerja sama internasional dengan pendanaan dari pemerintah Belanda dan Inggris yang bertujuan mendukung petani kelapa sawit swadaya agar dapat memproduksi minyak sawit secara berkelanjutan, ramah iklim, dan memenuhi standar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, S.Hi, M.Si., melalui Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Aceh Timur, Murdhani, S.STP, M.Si., mengatakan program tersebut merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan pemerintah daerah bersama Satgas PUPL dan para mitra, dalam mendukung pembangunan perkebunan kelapa sawit rakyat yang produktif dan berkelanjutan.
Menurut Murdhani, program bantuan ini menyasar kebun sawit milik petani yang mengalami kerusakan sedang hingga berat akibat banjir hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025 lalu.
Bantuan yang diberikan, tambahnya, ditargetkan menjangkau 350 petani binaan dengan cakupan lahan seluas 411 hektare di sejumlah wilayah terdampak banjir di Kecamatan Ranto Peureulak dan Peunaron.
“Pemerintah berterima kasih atas upaya percepatan pemulihan produktivitas kebun petani yang terdampak banjir sehingga dapat kembali berproduksi dan mendukung pemulihan ekonomi masyarakat,” kata Murdhani saat penyerahan bantuan program secara simbolis di Desa Seumanah Jaya, Kec. Ranto Peureulak, Kab. Aceh Timur, Kamis (18/6/2026).
Sementara itu, Koordinator Satgas PUPL, Ibrahim, SP, mengatakan program ini dirancang untuk mempercepat pemulihan kebun petani melalui penyediaan sarana kerja, pembersihan lahan, serta aplikasi pupuk dolomit guna memperbaiki kondisi tanah pascabencana.
“Harapannya agar produktivitas kebun dapat pulih dan kesejahteraan petani kembali meningkat,” ujar Ibrahim.
Ibrahim menjelaskan, program rehabilitasi dilaksanakan selama satu bulan dengan tiga komponen utama, yakni pengadaan alat kerja berupa sepatu boot dan cangkul, pembersihan lahan dari semak dan vegetasi pengganggu, serta penyaluran pupuk dolomit untuk memperbaiki pH tanah dan meningkatkan kesuburan lahan.
Selain mendorong pemulihan ekonomi petani, program ini juga diharapkan memperkuat praktik pengelolaan kebun yang berkelanjutan serta meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak bencana hidrometeorologi di sektor perkebunan.
“Para petani yang menerima bantuan merupakan petani binaan yang telah aktif didampingi sejak 2023 melalui Program Kelapa Sawit Berkelanjutan,” ujarnya.
Selama beberapa tahun terakhir, Satgas PUPL bersama para mitra telah menjalankan berbagai kegiatan, mulai dari pendampingan petani, penguatan kelembagaan kelompok tani, pelatihan praktik budidaya berkelanjutan, pemetaan kebun, hingga pengembangan kemitraan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
“Melalui berbagai program ini, Pemkab Aceh Timur bersama Satgas PUPL terus berupaya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan di kawasan perkebunan rakyat,” pungkas Ibrahim.












