LENSAPOST.NET— Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggandeng Poros Pelajar dalam diskusi publik bertajuk Perempuan dan Pendidikan untuk memperingati Hari Kartini. Kegiatan ini menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa Kartini bukan sekadar simbol, melainkan energi gerakan perempuan Indonesia dalam memperjuangkan pendidikan, keadilan, dan kesempatan.
Kepala Biro Umum Kemendikdasmen, Herdiana, menegaskan bahwa semangat Kartini masih sangat relevan hingga saat ini. Menurutnya, selama isu pendidikan, keadilan, dan kesempatan masih diperjuangkan, maka nilai-nilai perjuangan Kartini tetap hidup dan harus terus dilanjutkan.
“Kalau hari ini kita masih berbicara tentang pendidikan, keadilan, dan kesempatan, itu artinya semangat Kartini masih sangat relevan,” ujar Herdiana saat membuka kegiatan tersebut, Rabu 22 April 2026.
Dalam paparannya, Herdiana menyebutkan tiga peran penting perempuan dalam dunia pendidikan. Pertama, sebagai pendidik karakter, di mana ibu menjadi tempat pertama anak belajar nilai-nilai kehidupan. Kedua, sebagai pilar generasi, karena kualitas masa depan sangat ditentukan oleh pendidikan yang diberikan perempuan. Ketiga, sebagai fondasi pendidikan, yang dimulai sejak anak dalam kandungan hingga tumbuh dewasa.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Kemitraan Direktorat Pendidikan Non Formal dan Informal, Desi Elvera Dewi, mengungkapkan bahwa partisipasi perempuan dalam pendidikan terus meningkat. Namun, ia menyoroti masih adanya kesenjangan dalam partisipasi di dunia kerja dan sektor sosial-ekonomi.
“Meskipun partisipasi pendidikan perempuan tinggi, tidak semuanya berlanjut ke dunia kerja,” jelas Desi.
Diskusi ini turut menghadirkan perwakilan organisasi pelajar, seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), yang menyuarakan perspektif generasi muda.
Ketua Umum PP IPM, Dany Rahmat Muharram, menekankan pentingnya pendidikan yang berkualitas dan merata untuk menciptakan kesetaraan di ruang publik. Ia juga mendorong pelajar untuk berpikir kritis sebagai subjek utama dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik.
Senada, Ketua Bidang Organisasi PP IPNU, Muhammad Ghulam Dhofir, mengajak pelajar—khususnya perempuan—untuk aktif mengembangkan diri. Menurutnya, pelajar perlu mengenali minat, membangun kepercayaan diri, serta memperluas wawasan melalui membaca dan bergabung dalam komunitas.
Sementara itu, perwakilan PP IPPNU menyoroti tiga refleksi kunci dari semangat Kartini, yakni agensi intelektual, percakapan kolektif, dan refleksi kritis. Ketiganya dinilai penting untuk mendorong pelajar perempuan dalam mendobrak dominasi laki-laki di ruang publik.
“Pelajar perempuan harus berani mendobrak fenomena male mainstream atau dominasi laki-laki di ruang publik,” tegasnya.












