LENSAPOST.NET – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) resmi menuntaskan transformasi sistem teknologi informasi (IT) sebagai fondasi utama dalam mempercepat pertumbuhan bisnis serta memperkuat layanan digital. Transformasi ini menjadi bagian dari agenda strategis perseroan selama satu tahun terakhir, dengan dukungan dan supervisi aktif dari Danantara.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menegaskan bahwa transformasi teknologi merupakan kebutuhan strategis di tengah pesatnya digitalisasi industri keuangan. Menurutnya, posisi BSI yang kini telah masuk dalam lima besar bank di Indonesia menuntut peningkatan kualitas layanan yang setara dengan bank-bank besar lainnya.
“Ekspektasi nasabah terhadap layanan dan sistem semakin tinggi. Karena itu, kami terus berupaya menghadirkan layanan yang setara dengan standar perbankan besar,” ujar Anggoro.
Transformasi ini juga menjadi langkah penting dalam mewujudkan visi BSI sebagai Top 5 Global Islamic Bank serta mencapai target 40 juta nasabah pada tahun 2030.
Selama proses transformasi, Danantara berperan aktif dalam memberikan arahan strategis dan memastikan implementasi berjalan sesuai prinsip tata kelola serta manajemen risiko. Seluruh tahapan dilakukan secara matang untuk menjamin kelancaran proses.
Dalam satu tahun terakhir, BSI juga mencatat pertumbuhan signifikan melalui dual licence sebagai bank syariah dan bank emas. Kehadiran bank emas menjadi motor baru dalam menjangkau segmen pasar yang sebelumnya belum tergarap. Hingga April 2026, jumlah nasabah BSI telah melampaui 24 juta, didorong oleh perolehan licence bank emas pada Februari 2025 serta perubahan status menjadi Persero pada awal 2026.
Salah satu proyek utama dalam transformasi ini adalah migrasi core banking dari sistem R10 ke R24 yang rampung pada pertengahan Mei 2026. Proyek tersebut melibatkan sekitar 1.500 personel lintas fungsi dan dilaksanakan secara bertahap melalui berbagai tahapan uji coba (rehearsal), dengan pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Danantara.
Hasil transformasi ini memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi operasional yang meningkat hingga sekitar 80 persen, mempercepat proses Close of Business (COB), serta memperbesar kapasitas sistem untuk mendukung ekspansi bisnis digital dan inovasi produk. Saat ini, tingkat ketersediaan layanan (availability) seluruh channel BSI mencapai 99,99 persen.
“Ruang untuk pertumbuhan nasabah dan inovasi fitur baru di BYOND sangat luas, karena kapasitas sistem masih terpakai di bawah 10 persen. Nasabah akan merasakan langsung peningkatan kecepatan dan kekuatan layanan IT kami,” tambah Anggoro.
Untuk memperkuat layanan digital, BSI terus mengembangkan platform BYOND by BSI untuk segmen ritel serta BEWIZE by BSI bagi nasabah institusi dan wholesale. Hingga Mei 2026, layanan mobile banking BSI telah digunakan lebih dari 10 juta pengguna dengan nilai transaksi melampaui Rp450 triliun. Sementara itu, BEWIZE juga menunjukkan pertumbuhan signifikan sebagai pendorong bisnis wholesale.
Kinerja keuangan BSI turut mencerminkan dampak positif dari transformasi dan ekspansi bisnis tersebut. Hingga Mei 2026, BSI membukukan laba bersih (unaudited) sebesar Rp3,39 triliun atau tumbuh 16,73 persen secara tahunan (year-on-year). Total aset mencapai Rp444 triliun, Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp372 triliun, serta pembiayaan sebesar Rp335 triliun dengan kualitas yang tetap terjaga.
Dengan fondasi teknologi yang semakin kuat, dukungan ekosistem strategis, serta model bisnis yang terus berkembang, BSI optimistis mampu menjadi motor penggerak ekonomi syariah nasional sekaligus menghadirkan layanan keuangan yang modern, inklusif, dan kompetitif.












