LENSAPOST.NET – Keberadaan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di sejumlah desa menuai sorotan dari kalangan petani.
Imammukim Cot Saluran, Blang Bintang, Aceh Besar H, Tgk. Zakaria, menilai para penyuluh yang ditempatkan di desa-desa tidak memberikan manfaat signifikan, bahkan dinilai menjadi beban bagi petani.
Menurutnya, peran PPL yang seharusnya hadir mendampingi petani di lapangan justru tidak terlihat, terutama saat musim tanam tiba.
“Setiap musim tanam, kami berharap penyuluh ada bersama petani. Tapi kenyataannya, mereka tidak pernah terlihat di lapangan,” ujar Tgk. Zakaria, Jumat 26 Juni 2026.
Ia juga menyoroti lemahnya respons PPL ketika petani menghadapi serangan hama. Alih-alih memberikan solusi konkret, para penyuluh disebut lebih sering berdebat tanpa tindakan nyata.
“Ketika kami melapor soal hama yang menyerang padi, bukannya langsung turun ke lapangan mencari solusi, yang terjadi malah debat,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan petani di kawasan Blang Bintang. Mereka mengaku tidak mengenal siapa penyuluh pertanian di desa mereka karena tidak pernah bertemu di lapangan.
“Kami tidak tahu siapa penyuluh di kampung kami. Tidak pernah lihat di sawah. Bahkan kami kira sudah dibubarkan,” ujar salah seorang petani.
Sementara itu, Bang Agam Rayeuk menilai keberadaan PPL saat ini sudah tidak efektif. Ia bahkan mengusulkan agar program tersebut dievaluasi secara menyeluruh.
“Tidak perlu lagi penyuluh kalau hanya menghabiskan uang negara. Lebih baik anggaran dialihkan untuk infrastruktur seperti irigasi, jalan usaha tani, dan pompa air,” katanya.
Ia menambahkan, saat ini petani justru lebih banyak belajar secara mandiri melalui platform digital seperti YouTube dan media sosial lainnya.
“Kami sekarang belajar dari YouTube, lebih jelas dan mudah dipahami,” ungkapnya.
Para petani berharap pemerintah, baik pusat maupun daerah, dapat mengevaluasi kinerja PPL. Mereka menegaskan bahwa penyuluh seharusnya aktif mendampingi petani di sawah, bukan hanya berada di kantor.
“Kalau memang bekerja, seharusnya mereka ada di lapangan setiap masa tanam, bukan hanya sesekali,” tutup Bang Agam Rayeuk.











