LENSAPOST.NET – Akademisi Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha), Dr. Taufik A. Rahim, mempertanyakan kejelasan penggunaan anggaran sekitar Rp18,6 miliar yang dialokasikan untuk berbagai program bantuan bagi eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Menurut Taufik, anggaran tersebut antara lain dialokasikan untuk pengadaan alat pertanian sekitar Rp7,683 miliar melalui 13 paket, bantuan ternak usaha Rp7,042 miliar melalui 15 paket, revitalisasi tambak dan infrastruktur Rp2,512 miliar melalui tujuh paket, kegiatan dan pengawasan Rp922,35 juta melalui delapan paket, serta usaha perorangan dan bantuan kecil sekitar Rp130 juta melalui empat paket.
Ia menilai besarnya anggaran tersebut harus diikuti keterbukaan mengenai penerima manfaat dan bentuk bantuan yang diberikan.
“Ini bukan sekadar catatan angka kuantitatif dan akumulatif nilai rupiah semata, tetapi perlu pertanggungjawaban penggunaan uang negara,” kata Taufik dalam keterangan tertulis kepada LensaPost, Rabu 16 Setember 2026.
Ia meminta pemerintah dan lembaga terkait melakukan verifikasi terhadap kelompok penerima, jenis barang, jumlah, spesifikasi, lokasi penyaluran hingga dampak bantuan terhadap penerima.
Taufik juga menyoroti perlunya memastikan kelompok tani maupun penerima bantuan benar-benar aktif dan memenuhi ketentuan sebagai penerima program.
Menurutnya, pemeriksaan penting dilakukan agar anggaran yang bersumber dari APBA tersebut benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat yang menjadi sasaran program reintegrasi.
Ia meminta pengawasan tidak berhenti pada dokumen administrasi, tetapi dilakukan dengan pemeriksaan langsung di lapangan.
“Perlu monitoring dan investigasi terhadap anggaran APBA yang bernilai fantastik tersebut,” ujarnya.
Taufik menegaskan, evaluasi program reintegrasi harus mengutamakan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar besarnya anggaran yang terserap.












