Lensapost. net| MEDAN — Perjuangan panjang seorang santri menuntut ilmu kembali berbuah manis. Dosen Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Tgk. Ahmad Yani, resmi menyandang gelar Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI) ke-108 Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) setelah sukses mempertahankan disertasinya dalam sidang promosi doktor yang berlangsung di Aula Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UINSU Medan, Kamis (10/9/2026).
Sidang yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB itu tidak sekadar menjadi prosesi akademik. Selama hampir tiga jam, Tgk. Ahmad Yani harus mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya di hadapan tim penguji melalui serangkaian pertanyaan mengenai latar belakang penelitian, landasan teori, metodologi, temuan lapangan hingga novelty atau kebaruan ilmiah yang ditawarkan.
Disertasi berjudul “Manajemen Strategis Dayah Salafiah dalam Penguatan Nilai-Nilai Islam Melalui Pembinaan Masyarakat di Kabupaten Bireuen (Studi Multisitus di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb)” akhirnya berhasil dipertahankan. Penelitian tersebut mengangkat tema yang sangat dekat dengan perjalanan hidupnya sebagai santri, pendidik, sekaligus akademisi yang tumbuh dari lingkungan dayah.
Dalam pemaparannya, Tgk. Ahmad Yani menjelaskan bahwa persoalan utama penelitian bukan sekadar melihat banyaknya aktivitas pembinaan masyarakat yang dilakukan dayah. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah bagaimana seluruh aktivitas tersebut dikelola melalui proses manajemen strategis yang meliputi formulasi, implementasi, hingga evaluasi secara berkelanjutan.
Dari penelitian multisitus yang dilakukan di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb, lahir sebuah novelty bertajuk “Strategic Fit: Model Dua Jalur Manajemen Strategis Dayah Salafiah.”
Konsep tersebut menjelaskan bahwa efektivitas sebuah dayah tidak ditentukan oleh besar atau kecilnya lembaga, tetapi oleh kesesuaian strategi dengan kapasitas organisasi, sumber daya, budaya kelembagaan, serta kondisi sosial masyarakat di sekitarnya.
Penelitian menemukan bahwa Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga memiliki pola manajemen yang lebih formal, terstruktur, dan didukung jaringan alumni yang luas. Sebaliknya, Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb mengembangkan pendekatan partisipatif-kekeluargaan dengan mengandalkan kedekatan sosial, hubungan personal antara teungku dan masyarakat, serta modal sosial yang kuat.
“Bukan berarti satu lebih baik dari yang lain. Keduanya efektif sesuai karakter dan konteks masing-masing,” terang Tgk. Ahmad Yani di hadapan tim penguji.
Temuan tersebut sekaligus memperkaya kajian manajemen pendidikan Islam dengan menghadirkan perspektif baru bahwa pengelolaan dayah tetap dapat berkembang secara strategis tanpa harus meninggalkan nilai-nilai Islam, tradisi keulamaan, dan budaya khas pesantren Aceh.
Sidang promosi doktor dipimpin Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag sebagai Ketua Sidang dan Prof. Dr. Tien Rafida, M.Hum sebagai Sekretaris Sidang. Sementara tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Abdurrahman, M.Pd dan Dr. Yusuf Hadijaya, MA selaku promotor/penguji, Prof. Dr. Candra Wijaya, M.Pd dan Prof. Dr. Amiruddin Siahaan, M.Pd sebagai penguji internal, Prof. Dr. Zainuddin, M.Pd dari Universitas Negeri Medan sebagai penguji eksternal, serta Dr. Fatkhur Rohman, MA sebagai penguji lintas ilmu.
Keberhasilan tersebut menjadi puncak perjalanan akademik Tgk. Ahmad Yani yang dimulai dari bangku sekolah di Aceh Utara. Lahir di Alue Papen, Kecamatan Nisam, pada 3 April 1983, ia mengawali pendidikan di SD Negeri 1 Nisam dan SMP Negeri 1 Nisam sebelum melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Pesantren MUDI Mesra Samalanga.
Kecintaannya terhadap dunia pendidikan Islam membawanya melanjutkan studi di STAI Al-Aziziyah Samalanga, kemudian meraih gelar Magister Manajemen Pendidikan Islam di IAIN Lhokseumawe. Pada 2021, ia melanjutkan studi doktor di UINSU hingga berhasil menyelesaikannya lima tahun kemudian.
Di sela aktivitas akademik, Tgk. Ahmad Yani tetap aktif mengabdi sebagai dosen tetap UNISAI Samalanga. Ia juga pernah menjadi staf pengajar Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Kepala Pusat Layanan Pendidikan Komputer IAI Al-Aziziyah, Kepala Biro Kepegawaian IAI Al-Aziziyah, dan kini dipercaya sebagai Kepala Bagian Kemahasiswaan UNISAI Samalanga. Sejumlah karya ilmiahnya juga telah dipublikasikan di berbagai jurnal nasional pada bidang manajemen pendidikan Islam, kepemimpinan dayah, inovasi pembelajaran, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Humas UNISAI Samalanga, Tgk. Mursalin, MH, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan Tgk. Ahmad Yani menjadi bukti komitmen UNISAI dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat tradisi riset di lingkungan perguruan tinggi berbasis dayah.
“Capaian ini bukan hanya kebanggaan bagi keluarga besar UNISAI Samalanga, tetapi juga menjadi motivasi bagi dosen dan mahasiswa untuk terus berkarya melalui penelitian yang memberikan solusi bagi masyarakat,” kata Tgk. Mursalin.
Usai dinyatakan lulus, Tgk. Ahmad Yani menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT serta terima kasih kepada kedua orang tuanya, istri tercinta Iqlima, ketiga anaknya, seluruh keluarga, guru-guru, khususnya Almukarram Almursyid Abu MUDI, para promotor, dosen pembimbing, sivitas akademika UINSU, keluarga besar UNISAI Samalanga, serta semua pihak yang telah mendukung proses studinya.
Baginya, gelar doktor bukanlah akhir perjalanan, melainkan amanah baru untuk terus mengembangkan pendidikan Islam melalui riset dan pengabdian.
Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi referensi bagi pengelola dayah dan pemerintah dalam menyusun kebijakan yang menghargai karakter masing-masing dayah tanpa menghilangkan jati diri serta tradisi keilmuan Islam yang telah diwariskan para ulama selama berabad-abad.












