LENSAPOST.NET— Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh, Dr. Misran Fuadi, S.Ag., MAP, bersama Sekretaris DSI Aceh, Marzuki, S.Ag., MH, mengantar keberangkatan Kafilah Aceh menuju Jakarta untuk mengikuti Training Center (TC) Tahap I, Jumat (4/9/2026).
Kafilah Aceh tersebut dipersiapkan untuk menghadapi Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) ke-31 di Provinsi Jawa Tengah. Training Center menjadi bagian penting dari proses pembinaan untuk memastikan para peserta memiliki kesiapan yang matang sebelum tampil di tingkat nasional.
Sebanyak 58 peserta, 14 pelatih dan sembilan official akan mengikuti rangkaian persiapan secara bertahap. Selain meningkatkan kemampuan teknis pada masing-masing cabang, proses pembinaan juga diarahkan untuk menanamkan kecintaan yang lebih kuat terhadap Al-Qur’an.
Misran Fuadi mengatakan, keberhasilan dalam ajang MTQN memang menjadi salah satu target yang ingin dicapai. Namun, pembinaan kafilah tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar prestasi dalam perlombaan.
Menurutnya, para peserta merupakan generasi muda yang diharapkan mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Anak-anak kita ini tidak hanya kita siapkan untuk bertanding. Kita ingin mereka semakin dekat dengan Al-Qur’an, mencintainya, mempelajarinya dan membawa nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Misran.
Ia menjelaskan, MTQ dapat menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an. Melalui proses latihan dan pembinaan, peserta tidak hanya mengasah kemampuan membaca maupun menghafal, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memperdalam pemahaman terhadap kandungan Al-Qur’an.
Menurut Misran, kemampuan membaca Al-Qur’an perlu terus diperkuat. Namun, kemampuan tersebut harus berjalan seiring dengan upaya memahami dan mengamalkan pesan yang terkandung di dalamnya.
“Jangan sampai Al-Qur’an hanya kita baca ketika ada perlombaan. Setelah itu selesai. Yang kita harapkan justru bagaimana Al-Qur’an terus dibaca, dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan,” ujarnya.
Pembinaan Berkelanjutan untuk Prestasi dan Karakter
Kafilah Aceh telah menjalani sejumlah tahapan persiapan sebelum diberangkatkan ke Jakarta. TC Tahap I menjadi momentum untuk kembali mengevaluasi kesiapan peserta sekaligus memperbaiki berbagai kekurangan yang masih ditemukan selama proses latihan.
Sebelumnya, saat pelepasan kafilah di Gedung Serbaguna Sekretariat Daerah Aceh, Kamis (3/9), Plt Sekda Aceh, Taufik, ST, M.Si, berpesan agar seluruh peserta menjaga kesehatan, stamina dan sikap selama mengikuti rangkaian MTQN.
Taufik juga meminta para peserta berangkat dengan niat yang baik serta memiliki keyakinan dan semangat untuk memberikan kemampuan terbaik bagi Aceh.
“Berangkatlah dengan niat yang baik, dengan keyakinan, ketekunan, dan semangat untuk memberikan yang terbaik,” ujar Taufik.
Selain kemampuan di arena perlombaan, para peserta juga diingatkan untuk menjaga nama baik Aceh. Mereka dinilai bukan hanya membawa nama pribadi, tetapi menjadi bagian dari rombongan yang mewakili Aceh di tingkat nasional.
Ketua Harian LPTQ Aceh, Dr. H. Hajarul Akbar, MA, sebelumnya turut menekankan pentingnya pembinaan yang serius, terarah dan berkelanjutan.
Ia mengingatkan kembali pengalaman pembinaan menghadapi MTQ Nasional 2003 di Kalimantan Tengah. Saat itu, Aceh mampu meraih peringkat keempat setelah menjalani masa training selama delapan bulan.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bahan penting dalam membangun pola pembinaan yang lebih terarah untuk menghadapi MTQN ke-31. Terlebih, Aceh juga diproyeksikan menjadi tuan rumah MTQN 2028.
Perkuat Aqidah, Ibadah dan Kecintaan terhadap Al-Qur’an
Bagi DSI Aceh, pembinaan kafilah tidak hanya berkaitan dengan target prestasi. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an serta fondasi keagamaan yang kuat.
Misran mengatakan, kedekatan dengan Al-Qur’an perlu berjalan bersama dengan penguatan aqidah dan ibadah.
Aqidah menjadi dasar keyakinan seorang Muslim, sementara ibadah merupakan bentuk ketaatan yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, keduanya perlu dibangun sejak dini agar pendidikan agama tidak berhenti pada pemahaman teoritis.
“Kalau aqidahnya kuat, ibadahnya juga kita harapkan semakin baik. Al-Qur’an menjadi salah satu pegangan untuk membentuk itu. Karena itu, pendidikan Al-Qur’an harus terus kita hidupkan di tengah masyarakat, terutama kepada anak-anak dan generasi muda,” kata Misran.
Ia berharap pengalaman mengikuti TC dan MTQN nantinya tidak hanya memberikan pengalaman kompetisi kepada para peserta, tetapi juga membentuk pribadi yang dapat menjadi teladan di lingkungan masing-masing.
Para peserta diharapkan mampu menjadi motivasi bagi generasi muda lainnya untuk mengenal Al-Qur’an, belajar membacanya, memahami kandungannya dan menjadikannya sebagai pedoman kehidupan.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, Misran menilai generasi muda Aceh harus memiliki kemampuan untuk mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan landasan agama.
“Anak-anak kita harus menguasai ilmu dan teknologi. Itu tidak boleh kita tinggalkan. Tapi mereka juga harus punya pegangan agama. Kita ingin generasi Aceh yang maju, berprestasi, tetapi tetap kuat aqidahnya, baik ibadahnya dan dekat dengan Al-Qur’an,” ujarnya.
Kafilah Aceh selanjutnya akan mengikuti Training Center Tahap I di Jakarta sebelum melanjutkan tahapan persiapan menuju MTQN ke-31 di Jawa Tengah.
Dengan pembinaan yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, Aceh tidak hanya berharap meraih prestasi terbaik di ajang nasional, tetapi juga melahirkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an, kuat aqidahnya, baik ibadahnya serta mampu membawa nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. (***)












