LENSAPOST.NET– Akademisi Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha), Dr. Taufik A. Rahim, menyoroti persoalan pengelolaan dan pembagian lahan bagi eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang hingga kini masih menjadi bagian dari persoalan reintegrasi Aceh.
Menurut Taufik, tidak semua eks kombatan memiliki latar belakang sebagai pekebun, petani, peternak atau nelayan. Karena itu, kebijakan pembagian lahan harus mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan masing-masing penerima.
Ia mengingatkan adanya risiko lahan yang diberikan kepada penerima akhirnya berpindah penguasaan akibat tekanan ekonomi.
“Sebagian besar lahan dan tanah yang diberikan kepada eks kombatan tidak berlangsung terlalu lama akan beralih kepemilikan serta dikuasai segelintir orang,” kata Taufik.
Menurutnya, kebutuhan ekonomi keluarga dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong penerima melepas lahan yang diperoleh melalui program reintegrasi.
Taufik juga mengingatkan agar kebijakan pertanahan pascakonflik tidak justru membuka ruang konsentrasi penguasaan tanah oleh kelompok tertentu.
Ia menilai persoalan lahan harus ditempatkan dalam kerangka keberlanjutan ekonomi penerima dan perlindungan terhadap aset hasil program reintegrasi.
“Yang harus dibangun adalah keseimbangan ekonomi, keadilan, kesetaraan dan pemerataan,” ujarnya.
Taufik berharap pemerintah mengevaluasi kembali kebijakan lahan eks kombatan agar tujuan reintegrasi sebagaimana semangat perdamaian Aceh tetap terjaga.












