Bank Mandiri Siap Masuk Aceh Usai Aturan Bank Konvensional Direvisi

Gedung Bank Mandiri [Foto: CNBC]

LENSAPOST.NET – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) merespons terkait dengan rencana pemerintah provinsi Aceh yang membuka peluang mengembalikan operasional bank konvensional dengan merevisi qanun atau peraturan daerah Aceh.

Direktur Utama BMRI Darmawan Junaidi mengatakan, Bank Mandiri akan turut mendukung keputusan Otoritas Jasa Keuangan yang juga menyokong hal itu. Apalagi, perusahaan berharap perekonomian di Aceh dapat terus tumbuh.

Kendati demikian, Bank Mandiri sebagai pemegang saham mayoritas di PT Bank Syariah Indonesia TBK (BRIS) akan lebih memperioritaskan dukungan kepada BSI untuk meningkatkan layanan dan penetrasi bisnis di Aceh.

“Namun Bank Mandiri juga siap apabila dibutuhkan untuk layanan perbankan konvensional,” katanya saat dihubungi Katadata.co.id, Jumat (14/7).

Darmawan menyebut, nantinya Bank Mandiri berencana untuk mengedepankan layanan bank digital yang dimiliki perusahaan baik untuk nasabah retail maupun korporasi di Aceh.

Sebelumnya, OJK memberi dukungan rencana bank konvensional untuk dapat melakukan kegiatan perbankan di Aceh. Sebagaimana diketahui, saat ini Pemerintah Provinsi Aceh merevisi Qanun atau peraturan daerah Aceh Nomor 11 Tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, tidak ada masalah terkait rencana bank konvensional untuk masuk ke Aceh. “Namun harus dipikirkan biaya dan sebagainya. Bentuk kantor (bank konvesnionalnya) seperti apa yang dibuka di Aceh, tapi jelas akan bantu ekonomi Aceh,” kata Dian saat ditemui wartawan, Rabu (12/7).

Dian mengatakan OJK tidak ingin ada perlakuan yang berbeda antara bank konvensional maupun bank syariah. Dia ingin masyarakat dapat memilih layanan perbankannya sendiri.

Pengamat Perbankan Paul Sutaryono mengatakan rencana pengoperasian kembali bank konvensional di Daerah Istimewa Aceh merupakan sinyal bagus untuk industri perbankan nasional.

“Mengapa? Lantaran, perlu dicatat bahwa perbankan konvensional pada prinsipnya memiliki produk dan jasa perbankan yang lebih banyak dibandingkan dengan perbankan syariah,” kata Paul, kepada Katadata.co.id, Jumat (14/7).

Dengan demikian, kata Paul, industri perbankan di Aceh akan lebih berkembang dengan perbankan syariah dan perbankan konvensional secara bersamaan.Dia menuturkan saat ini makin banyak perusahaan yang mengembangkan sayap bisnisnya di Aceh.

Artinya, bisnis perbankan harus mengikuti perkembangan bisnis pada umumnya. “Konsep itu dalam industri perbankan internasional disebut sebagai banks follow the customers,” tuturnya.

Ujungnya, bisnis yang terus berkembang akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah setempat. Alhasil, pertumbuhan ekonomi di Aceh akan lebih subur di masa mendatang.

Paul berpesan agar bank selalu bertindak hati-hati untuk mengucurkan kredit, sebagai satu upaya mitigasi risiko kredit. “Dengan demikian, bisnis lancar dan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) akan terkendali atau di bawah ambang batas 5%,” katanya.

Praktisi Perbankan BUMN dan Peneliti Lembaga ESED Chandra Bagus Sulistyo berpendapat, para pelaku usaha di Aceh sudah sangat lama menyampaikan aspirasinya agar Aceh merevisi peraturan yang membolehkan bank konvensional kembali beroperasi.

Chandra menyebut, permasalahannya yaitu pemangku kepentingan di sana yang menetapkan qanun padahal tidak semua masyarakat Aceh menghendaki keberadaan aturan tersebut.

“Dan momentumnya beberapa waktu lalu ketika BSI mengalami kegagalan dalam IT nya, sehingga terjadi kemacetan operasional. Jadi benar-benar mengganggu kondisi perekonomian di aceh,” ucap Chandra, saat dihubungi Katadata.co.id, Jumat (14/7).

Alhasil, masyarakat Aceh akhirnya meminta kepada regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar bank konvensional dapat beroperasi di Aceh.

Chandra menuturkan bank konvensional pasti berkenan untuk membuka kantor layanannya di Aceh. Apalagi, menurutnya, membuka layanan menjadi peluang bisnis bagi bank konvensional.

“Menurut pandangan saya, di negara mayoritas Islam juga menerapkan tidak hanya sistem syariah, mereka juga membuka sistem konvensional. Tujuannya untuk membuka iklim kompetisi di antara mereka,” ujar dia.

Menurutnya, bank konvensional dan bank syariah sama-sama akan memberikan dampak positif bagi kemajuan perekonomian Aceh. Namun demikian, bank konvensional perlu memastikan peraturan ini tidak bersifat jangka pendek.

Di sisi lain, dia juga menyebut apabila pemerintah ingin memasukkan bank konvensional di Aceh, agar menyiapkan rencana jangka panjang untuk aturan operasional.

Sumber; Katadata.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *