LENSAPOST.NET – Kain wastra yang membawa jejak budaya, produk pangan lokal yang mencari pasar, hingga transaksi digital melalui QRIS menjadi bagian dari wajah Meuseuraya Festival 2026.
Di Balee Meuseuraya Aceh, Banda Aceh, pada 22–25 Oktober 2026, festival ini mempertemukan kreativitas pelaku usaha dengan peluang kemitraan, pembiayaan, dan promosi.
Lebih dari sekadar ruang pameran, Meuseuraya menghadirkan upaya mempertemukan warisan budaya dengan kebutuhan ekonomi masa kini.
Hasilnya terlihat dari laporan penutupan festival yang disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, pada Minggu (25/10) malam.

Kegiatan yang melibatkan 150 UMKM dari sektor makanan, minuman, wastra, kriya, itu menarik sekitar 10.000 pengunjung.
Nilai business matching tercatat mencapai Rp13,7 miliar, transaksi penjualan sekitar Rp3 miliar, sedangkan pembiayaan UMKM yang difasilitasi perbankan mencapai Rp1,5 miliar.
Ketiga angka tersebut menggambarkan beragam peluang ekonomi yang terbuka, mulai dari penjualan langsung hingga penjajakan kemitraan dan akses pembiayaan.
Di balik angka-angka itu, tantangan UMKM bukan hanya menarik perhatian pengunjung, tetapi juga mempertahankan pembeli setelah festival berakhir.
Salah satu langkah yang ditempuh ialah mempertemukan produsen pangan lokal dengan pasar yang lebih terarah melalui penandatanganan kerja sama antara UMKM produsen telur ayam dan tempe dengan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kemitraan tersebut membuka peluang bagi produk lokal masuk ke rantai pasok yang berkelanjutan. Agar manfaatnya benar-benar dirasakan pelaku usaha, kerja sama itu perlu berlanjut menjadi pemesanan rutin dan memberi kepastian permintaan.
Festival ini juga menunjukkan bahwa tradisi dan teknologi dapat berjalan beriringan.
Peragaan busana wastra yang menampilkan karya dari 12 kabupaten/kota di Aceh mengangkat tenun, bordir, dan songket sebagai identitas budaya sekaligus potensi ekonomi kreatif.
Pada saat yang sama, Bank Indonesia Provinsi Aceh bersama PT Bank Aceh Syariah menyerahkan perangkat Soundbox QRIS kepada Ketua Forum Pedagang Kota Banda Aceh.
Perangkat tersebut memungkinkan pedagang menerima konfirmasi pembayaran melalui notifikasi suara, membantu memeriksa transaksi secara langsung sekaligus mengurangi risiko penipuan pembayaran digital. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya membuat transaksi usaha lebih praktis dan aman.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, mengapresiasi sinergi pemerintah daerah, perbankan, Dekranasda, dan berbagai mitra dalam pengembangan ekonomi Aceh.
“Melalui semangat Meuseuraya, atau gotong royong, kita mempertemukan kreativitas pelaku usaha dengan dukungan Pemerintah Daerah, Perbankan, dan berbagai mitra agar UMKM Aceh semakin maju dan berdaya saing,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menilai sinergi berbagai pihak menjadi bagian penting dalam memperkuat perekonomian Aceh.
Semangat itu tercermin dalam Meuseuraya, yang mempertemukan kreativitas pelaku usaha dengan dukungan pemerintah daerah, perbankan, dan mitra strategis.
“Pertumbuhan ekonomi kita ini utamanya didorong oleh kinerja sektor pertanian, perdagangan, serta konstruksi, sejalan dengan percepatan proses pemulihan pascabencana” ujar Agus pada acara Aceh Economic Forum (AEF) edisi Triwulan III 2026 yang mengangkat tema “Pascabencana Hidrometeorologi: Mendorong Perekonomian Aceh Tumbuh Lebih Cepat, Lebih Resilien, dan Lebih Mandiri”.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai rangkaian dari Meuseuraya Festival 2026.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Aceh, Taufik, S.T., M.Si., menekankan pentingnya sinergi pembangunan melalui penguatan sektor pertanian, pengembangan UMKM, pengendalian inflasi, dan ekonomi kreatif.
Pemerintah Aceh berharap kegiatan ini dapat membuka peluang usaha, memperluas pemasaran produk lokal, serta mendorong kreativitas pelaku UMKM dan perajin agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Kami memandang festival ini sebagai wadah yang sangat baik untuk memperkuat ekonomi masyarakat, mengembangkan kreativitas, dan melestarikan budaya Aceh,” ujar Taufik.
Semangat penguatan ekonomi syariah turut terlihat melalui penetapan kantin Universitas Islam Negeri Ar-Raniry sebagai Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (Zona KHAS), yang mendorong penerapan standar kehalalan, kebersihan, dan keamanan pangan bagi konsumen.
Meuseuraya Festival 2026 membawa tiga filosofi, yakni Meuhase (berdampak), Meusapat (berhimpun bersama), dan Meuseuraya (bersinergi melalui gotong royong).

Namun, keberhasilan festival tidak berhenti pada jumlah pengunjung atau nilai transaksi selama empat hari.
Ukuran penting berikutnya ialah sejauh mana penjajakan bisnis berubah menjadi pesanan nyata, pembiayaan membantu usaha berkembang, dan wastra Aceh memperoleh pasar yang lebih luas tanpa kehilangan identitasnya.
Jika kesinambungan kemitraan dan pendampingan dapat dijaga, Meuseuraya berpeluang menjadi jembatan yang menghubungkan kekayaan budaya dengan pertumbuhan ekonomi Aceh yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
#MeuseurayaFestival2026












