lensapost.net I BANDA ACEH- Instruktur Nasional Moderasi Beragama Dr. Mawardi, S.Th.I., M.A., menegaskan bahwa perbedaan agama dan keyakinan tidak boleh menjadi penghalang bagi masyarakat untuk saling membantu ketika menghadapi bencana. Solidaritas kemanusiaan harus menjadi landasan utama dalam menyelamatkan korban dan memperkuat ketangguhan masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan Mawardi saat menjadi narasumber perspektif Islam dalam Seminar Nasional Lintas Agama bertema “Berbeda Keyakinan, Bersama dalam Kemanusiaan: Kolaborasi Lintas Umat Beragama dalam Membangun Ketangguhan Menghadapi Bencana”, yang berlangsung di Gedung LPPM UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Kamis (22/10/2026).
Menurut Mawardi yang juga Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dalam situasi bencana, keselamatan jiwa dan kebutuhan kemanusiaan harus menjadi prioritas bersama. Perbedaan agama, suku, maupun kebangsaan tidak seharusnya membatasi kepedulian terhadap masyarakat yang sedang mengalami musibah.
Ia menjelaskan bahwa pengalaman tsunami Aceh pada 2004 menjadi bukti nyata pentingnya solidaritas lintas agama dan bangsa. Ketika bencana melanda, masyarakat dari berbagai belahan dunia datang memberikan bantuan tanpa mempersoalkan identitas keagamaan korban.
Mawardi menilai pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa manusia tidak dapat menghadapi bencana sendirian. Kerja sama, kepedulian, dan kesediaan membantu sesama merupakan kekuatan penting dalam penanganan serta pemulihan pascabencana.
Dalam perspektif Islam, lanjutnya, kepedulian terhadap sesama merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan sosial. Ajaran agama harus mampu mendorong umat untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas, termasuk mereka yang berbeda keyakinan.
Mawardi menguraikan tiga konsep persaudaraan yang relevan dalam membangun solidaritas kemanusiaan, yakni ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.
‘’Ukhuwah Islamiyah merupakan persaudaraan sesama umat Islam, ukhuwah wathaniyah menekankan persaudaraan kebangsaan, sedangkan ukhuwah insaniyah merupakan persaudaraan universal yang melampaui batas agama, suku, dan negara,’’ulasnya
Menurutnya, konsep ukhuwah insaniyah memiliki makna penting dalam penanggulangan bencana karena menempatkan seluruh manusia sebagai sesama yang berhak memperoleh pertolongan tanpa diskriminasi.
Sosok tokoh pendidikan Aceh Besar itu juga menekankan pentingnya menerjemahkan nilai-nilai keagamaan menjadi tindakan nyata. Solidaritas tidak cukup diwujudkan melalui simpati, tetapi harus disertai kerja sama dalam membantu korban, menyalurkan bantuan, dan mendukung pemulihan masyarakat.
Ia turut mengingatkan pentingnya peran perguruan tinggi dalam membentuk mahasiswa yang menghargai keberagaman dan memiliki kepekaan sosial. Pendidikan moderasi beragama diharapkan mampu memperkuat kesadaran bahwa perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk bekerja sama dalam urusan kemanusiaan.
Sementara itu, Ketua Panitia, Fijal Andika, mengatakan kegiatan yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Studi Agama-Agama (HIMASAA) UIN Ar-Raniry tersebut menghadirkan tiga narasumber dari perspektif agama berbeda.
Ketiganya adalah Dr. Mawardi, S.Th.I., M.A., dari perspektif Islam, Dr. Samarel Telaumbanua, S.PAK., M.Pd., dari perspektif Protestan, serta Radha Krisna dari perspektif Hindu.
Fijal menjelaskan, seminar tersebut menjadi ruang dialog akademik untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai pentingnya kolaborasi lintas agama dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.
Selain diskusi, kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut turut menampilkan pertunjukan seni dari Sanggar Keulabe Puteh.
Seminar ini diharapkan mendorong mahasiswa dan tokoh lintas agama untuk memperkuat kerja sama kemanusiaan, menjaga kerukunan, serta meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana












