Ratusan Siswa Baru Ikuti MPLS Ramah, SMPN 1 Bandar Dua Tanamkan Disiplin dan Karakter di Kota Santri Japakeh

Lensapost. net| Pidie Jaya – Pagi di Ulee Glee Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya yang populer dengan negeri Japakeh selalu menghadirkan suasana yang khas. Lantunan ayat suci dari dayah dan meunasah mengiringi aktivitas masyarakat yang sejak lama menjadikan kawasan ini sebagai pusat pendidikan Islam.

Tak berlebihan jika Bandar Dua dikenal sebagai Kota Santri Japakeh, tempat bertebaran dayah, tradisi keilmuan, adab, dan nilai-nilai keagamaan tumbuh berdampingan dengan pendidikan formal.

Di jantung kawasan itu berdiri SMP Negeri 1 Bandar Dua. Sebagian dindingnya telah menua dimakan usia, namun bangunan itu tetap kokoh menyimpan jejak sejarah. Dari ruang-ruang kelas sederhana itulah lahir banyak ulama, guru, aparatur sipil negara, anggota TNI-Polri, tenaga kesehatan, akademisi, hingga tokoh masyarakat yang kini mengabdi di berbagai bidang.

Senin pagi, 13 Juli 2026, sekolah itu kembali menyambut sejarah baru. Sebanyak 187 peserta didik berdiri rapi mengikuti apel pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah.

Wajah-wajah penuh harapan itu menjadi generasi penerus yang kelak akan melanjutkan estafet pengabdian dari sekolah yang telah melahirkan begitu banyak insan bermanfaat.

Sekolah Tua, Semangat yang Tak Pernah Menua

Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan zaman, SMP Negeri 1 Bandar Dua tetap menjaga jati dirinya sebagai sekolah yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter.

Kepala SMP Negeri 1 Bandar Dua, Nazaruddin, S.Pd.I., M.M., menegaskan bahwa MPLS bukan sekadar agenda tahunan, melainkan fondasi awal pembentukan kepribadian peserta didik.

“MPLS bukan sekadar pengenalan lingkungan sekolah, tetapi menjadi fondasi awal dalam membentuk peserta didik yang berkarakter, berprestasi, dan berakhlak mulia. Seluruh kegiatan dilaksanakan secara edukatif, humanis, serta bebas dari perundungan maupun perploncoan,” ujarnya.

Selama lima hari, siswa dikenalkan dengan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun), tata tertib sekolah, literasi pagi, etika bermedia digital, pengenalan ekstrakurikuler, hingga pendidikan kesehatan dan penguatan nilai-nilai keagamaan. Semua dirancang agar mereka merasa sekolah adalah rumah kedua yang aman, nyaman, dan menyenangkan.

Belajar Disiplin dari Kehidupan

Kamis siang, 16 Juli 2026 jelang dhuha pasukan muda dengan pakaian seragam kuning campuran mentari masih bersinar hangat bersahabat di atas lapangan sekolah. Di bawah arahan personel Koramil Bandar Dua, para siswa mengikuti pelatihan wawasan kebangsaan dan kedisiplinan.

Suara aba-aba terdengar lantang. Langkah-langkah kecil yang semula belum seragam perlahan menjadi kompak. Para prajurit tidak hanya mengajarkan baris-berbaris, tetapi juga menanamkan arti tanggung jawab, kerja sama, menghargai waktu, dan mencintai tanah air.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Fajri, S.Pd., menjelaskan bahwa MPLS Ramah melibatkan berbagai unsur, mulai dari Puskesmas, Koramil, Polsek, PMI, hingga tokoh agama.

“Kami ingin peserta didik memperoleh bekal yang utuh, bukan hanya tentang pelajaran di kelas, tetapi juga kesehatan, kedisiplinan, kepedulian sosial, wawasan kebangsaan, dan pembinaan akhlak sejak hari pertama mereka berada di sekolah,” katanya. kamis, (16/7/2026)

Di balik seluruh aktivitas itu, Maria Laini, M.Pd., sosok guru enerjik dan bertelenta itu dan pernah menakhodai sebagai Pelaksana Tugas  (PLT) di sekolah tersebut, kini dipercaya sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana, memastikan lingkungan sekolah tetap bersih, tertata, dan nyaman. Baginya, pendidikan karakter dimulai dari kebiasaan sederhana.

“Ketika anak-anak menjaga kebersihan kelas, merawat fasilitas sekolah, datang tepat waktu, dan menghormati guru serta teman, sesungguhnya mereka sedang belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab. Karakter dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari,” ujarnya.

Menitipkan Masa Depan di Kota Santri

Tokoh pendidikan Pidie Jaya, Masrur kandidat doktor UIN Ar-raniry Banda Aceh itu menilai pendidikan karakter merupakan investasi terbesar bagi masa depan daerah.

“Sekolah yang hebat bukan hanya menghasilkan lulusan berprestasi, tetapi juga melahirkan generasi yang jujur, disiplin, berakhlak, dan peduli terhadap sesama. Itulah modal utama membangun bangsa,” katanya.

Menjelang penutupan MPLS, tepatnya Jum’at 17 Juli 2026 panitia telah menyiapkan segudang kegiatan, diantaranya para siswa mengikuti Jumat Berkah Mengaji, prosesi peusijuek, refleksi bersama, dan pemberian penghargaan kepada peserta terbaik. Rangkaian kegiatan itu menjadi simbol bahwa perjalanan mereka sebagai pelajar baru baru saja dimulai.

Di balik dinding-dinding tua SMP Negeri 1 Bandar Dua tersimpan ribuan kisah tentang mimpi yang berhasil diwujudkan. Kini, 187 mimpi baru kembali dititipkan di sekolah yang berdiri di jantung Kota Santri Japakeh.

Suatu hari nanti, mungkin dari barisan siswa itu akan lahir kembali ulama yang menyejukkan umat, guru yang mencerdaskan bangsa, dokter yang mengabdi kepada masyarakat, aparat yang menjaga negeri, atau pemimpin yang membawa perubahan.

Setiap langkah besar selalu bermula dari sebuah ruang kelas. Dan di sekolah tua yang penuh sejarah itu, harapan terus tumbuh, satu generasi demi satu generasi.