LENSAPOST.NET – Kerajinan kasab Aceh merupakan salah satu warisan budaya daerah yang tidak hanya memiliki nilai seni tinggi, tetapi juga bernilai ekonomi. Di Aceh Barat, kerajinan tradisional ini terus dilestarikan oleh para pengrajin lokal, salah satunya melalui usaha yang dirintis sejak tahun 2000 oleh Ny. Ema Mutiara Deka, anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXVIII Dim 0105 Koorcab Rem 012 PD Iskandar Muda.
Usaha kerajinan kasab tersebut berawal dari motivasi untuk menambah penghasilan keluarga sekaligus membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Keterampilan menyulam kasab diperoleh secara turun-temurun dari orang tua yang juga merupakan pengrajin kasab Aceh. Bagi pelaku usaha, kasab tidak hanya memiliki nilai jual, tetapi juga menjadi media untuk menuangkan kreativitas sekaligus menjaga identitas budaya Aceh.
Dalam proses pembuatannya, kerajinan kasab menggunakan bahan utama berupa kain beludru dan kain bridal yang dipadukan dengan benang emas, perak, serta benang warna-warni berkualitas tinggi. Kain beludru dipilih karena mampu memberikan kesan mewah dan elegan, sekaligus cukup kuat menahan beban sulaman tanpa merusak tekstur kain.
Proses pembuatan kasab masih dilakukan secara manual atau tradisional. Tahapannya dimulai dari pembuatan motif pada kain, kemudian kain dipasang di atas meja kayu sebelum memasuki proses penyulaman tangan. Waktu pengerjaan bervariasi, mulai dari satu minggu hingga satu bulan, tergantung pada jenis dan tingkat kerumitan produk, seperti kain songket yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Motif yang umum digunakan dalam kerajinan kasab Aceh antara lain Pucok Rebung, Pinto Aceh, dan Sulubayung. Setiap motif memiliki makna filosofis tersendiri. Motif Pucok Rebung melambangkan harapan, kekuatan, dan pertumbuhan. Pinto Aceh mencerminkan nilai kerendahan hati, keterbukaan, serta kehangatan masyarakat Aceh. Sementara itu, motif Sulubayung yang khas Aceh Barat menggambarkan keindahan alam, kesucian, dan kehidupan yang harmonis.
Beragam produk dihasilkan dari kerajinan kasab, seperti pelaminan Aceh, perlengkapan peusijuk, busana, songket, tas, tempat tisu, hingga hiasan dinding. Produk-produk tersebut digunakan untuk keperluan adat, dekorasi pesta pernikahan, fashion, serta cinderamata bagi wisatawan.
Dalam hal pemasaran, produk kasab Aceh dipasarkan secara langsung kepada konsumen, melalui media sosial, serta pameran budaya. Target pasar utama meliputi wisatawan yang berkunjung ke Aceh Barat maupun masyarakat lokal, bahkan telah menjangkau pesanan dari luar daerah.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti keterbatasan modal, ketersediaan bahan baku berkualitas, serta menurunnya minat generasi muda untuk melanjutkan tradisi ini. Untuk mengatasi hal tersebut, usaha kerajinan kasab turut melibatkan masyarakat sekitar melalui pembentukan kelompok usaha, sehingga memberikan dampak positif terhadap perekonomian keluarga dan lingkungan.
Dukungan dari Pembina dan Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Daerah Iskandar Muda, Ny. Tri Joko Hadi Susilo, juga berperan penting dalam menjaga keberlangsungan usaha ini. Pada event “Persit Bisa” tahun ini, UMKM kerajinan kasab Aceh Barat turut ambil bagian dengan menampilkan inovasi baru melalui penguatan identitas produk serta strategi promosi yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.
Kegiatan “Persit Bisa” sendiri merupakan program pemberdayaan kreatif istri prajurit TNI Angkatan Darat yang tergabung dalam Persit Kartika Chandra Kirana. Program ini menjadi wadah untuk memamerkan produk UMKM, kerajinan daerah, seni budaya, serta peragaan busana, sekaligus mendorong kemandirian ekonomi keluarga.
Keikutsertaan kerajinan kasab Aceh Barat dalam kegiatan tersebut menjadi bukti nyata peran aktif Persit Kartika Chandra Kirana PD Iskandar Muda dalam melestarikan warisan budaya daerah sekaligus memperkuat daya saing produk lokal agar semakin dikenal di tingkat nasional hingga mancanegara. (*)












