LENSAPOST.NET – Pemilu Legislatif 2024 kembali menegaskan dominasi Partai Aceh di panggung politik lokal. Meskipun sempat mengalami penurunan signifikan dalam jumlah kursi pada Pemilu 2019, Partai Aceh berhasil kembali menunjukkan eksistensinya dengan menambah perolehan kursi menjadi 22 di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).
Hal ini membuktikan bahwa Partai Aceh masih menjadi kekuatan politik yang cukup kuat di Aceh, terutama di wilayah pesisir timur. Namun, terdapat beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan.
Pengamat Kebijakan Publik, Dr. Usman Lamreung MSi, mengungkapkan bahwa meskipun Partai Aceh berhasil mempertahankan dominasinya di sejumlah wilayah seperti Sabang, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Tamiang, dan Aceh Jaya, partai ini justru kehilangan dukungan di wilayah Bireuen dan Langsa.
“Ini menjadi pertanyaan besar, mengapa Bireuen dan Langsa, yang dulu merupakan basis kuat Partai Aceh, kini justru jatuh ke tangan Partai Golkar dan PAN,” ujar Dr Usman yang juga akademisi Universitas Abulyatama, Sabtu 10 Agustus 2024.
Lebih lanjut, Dr. Usman menjelaskan bahwa wilayah pesisir barat Aceh, yang dulu juga menjadi basis kekuatan Partai Aceh, kini dikuasai oleh partai politik lain. Hanya Aceh Jaya yang masih menjadi wilayah kuat Partai Aceh.

Menyikapi hasil Pemilu 2024, Dr. Usman menekankan pentingnya Partai Aceh membangun koalisi untuk memuluskan langkah mereka dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Aceh yang akan digelar pada November 2024.
“Koalisi adalah sebuah keharusan bagi Partai Aceh, bukan hanya untuk memenangkan kursi Aceh satu, tetapi juga untuk memudahkan komunikasi politik dengan pemerintah pusat,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa banyak agenda penting yang perlu diselesaikan, termasuk revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA), yang memerlukan dukungan politik yang kuat.
Dalam konteks ini, Dr. Usman melihat bahwa Partai Aceh sangat mungkin untuk membangun koalisi dengan partai nasional, termasuk dalam pemilihan calon Wakil Gubernur yang akan mendampingi calon dari Partai Aceh.
“Maka sudah sangat wajar Partai Aceh dengan memperkuat barisan koalisi sangat memungkinkan mengambil calon wagub pendamping Mualem dari Parnas,” tutupnya.












