SBY Terharu Melihat Aceh “Tergugu”, Puisi Din Saja Jadi Momen Paling Mengharukan di Tibang

Penyair Aceh, Din Saja

LENSAPOST.NET – Di tengah semangat aksi membersihkan bantaran sungai, menanam pohon, dan menebar benih ikan, suasana mendadak hening. Penyair Aceh, Din Saja, berdiri di atas panggung sederhana dan mulai melafalkan bait demi bait puisi yang menggambarkan kecintaan Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), terhadap Aceh dan alam.

Puisi berjudul “Langit Biru di Sepanjang Pantai Hatimu” itu menjadi salah satu momen paling menyentuh dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-25 Partai Demokrat melalui rangkaian Gerakan Langit Biru Indonesia Asri di bantaran Sungai Tibang, Banda Aceh, Jumat (31/7/2026).

Di hadapan Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, Wakil Wali Kota Afdhal Khalilullah, Anggota DPR RI H.T. Ibrahim, Plt Ketua DPD Partai Demokrat Aceh Rian Syaf, serta ratusan kader, relawan, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat, Din Saja mengajak hadirin menyelami hubungan emosional antara SBY, Aceh, dan alam.

Dengan bahasa puitis, ia menggambarkan SBY bukan sekadar tokoh politik, melainkan sosok yang memandang penghijauan sebagai jalan merawat masa depan.

“SBY terharu, melihat Aceh tergugu—bukan karena kehilangan langit, melainkan karena sejarah yang masih basah oleh air mata,” lantunnya, membuat suasana seketika sunyi.

Dalam puisinya, pohon dimaknai sebagai simbol harapan yang tumbuh di atas tanah yang pernah terluka. Akar melambangkan keteguhan, daun menghadirkan kesejukan, sementara hutan menjadi warisan bagi generasi yang bebas dari beban dendam masa lalu.

Din Saja juga menyisipkan kritik sosial yang menggugah perenungan melalui bait, “Bangsa ini tidak kekurangan penanam pohon. Yang sering hilang adalah penanam nurani.” Pesan tersebut menegaskan bahwa pelestarian lingkungan harus berjalan seiring dengan tumbuhnya kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial.

Pembacaan puisi itu menyatu dengan aksi nyata para peserta, mulai dari membersihkan sungai, menanam pohon, hingga menebarkan benih ikan. Seni dan gerakan lingkungan berpadu menjadi satu pesan kuat: menjaga alam berarti menjaga kehidupan.

Di penghujung pembacaan, Din Saja menutup puisinya dengan harapan agar Aceh terus melangkah dalam damai, mewariskan hutan yang hijau, laut yang teduh, dan langit biru bagi generasi mendatang.

Tepuk tangan panjang mengiringi akhir penampilan tersebut. Di bawah kibaran bendera biru, puisi itu bukan hanya menjadi persembahan untuk HUT ke-25 Partai Demokrat, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap alam akan menemukan maknanya ketika ditanam bersama nurani.