Ditempa di Pedalaman Pidie, Menembus Darussalam: Jejak Santri Alumni MAN Beureunuen hingga Guru Besar

Prof. Dr. Marzuki, S.Pd.I., M.Si.

LENSAPOST.NET— Ada perjalanan yang tidak dibangun oleh satu lompatan besar.

Ia tumbuh dari langkah-langkah kecil yang dilakukan berulang-ulang: berangkat ke meunasah, menyimak pengajian, membaca kitab, menghormati guru, menempuh sekolah, lalu kembali belajar ketika sebagian orang mungkin sudah memilih beristirahat.

Perjalanan seperti itulah yang mengantarkan Prof. Dr. Marzuki, S.Pd.I., M.Si. dari Gampong Barieh, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, menuju jabatan akademik Guru Besar bidang Antropologi Pendidikan Islam di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Jabatan itu mulai berlaku dengan Terhitung Mulai Tanggal (TMT) 1 Juli 2026. Di atas kertas, pencapaian tersebut tampak sebagai satu baris dalam riwayat akademik. Namun, di baliknya terbentang lebih dari dua dekade pendidikan, pengabdian, penelitian, publikasi, dan amanah kelembagaan.

Tgk Marzuki dikenal sebagai sosok yang ramah dan bersahaja. Senyumnya mudah hadir ketika berbicara dengan orang lain. Sikap itu, barangkali, tidak terpisah dari lingkungan yang membentuknya sejak kecil: masyarakat Aceh yang menempatkan ilmu, adab, dan kedekatan dengan guru sebagai bagian penting dari kehidupan.

Ia lahir pada 1 Januari 1984 sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara, pasangan Abubakar dan Nurjannah. Masa kanak-kanaknya berlangsung di tengah kehidupan gampong yang dekat dengan tradisi pendidikan Islam. Dari ruang-ruang sederhana itulah fondasi intelektualnya dibangun.

Meunasah sebagai Pintu Pertama Mengenal ilmu

Pendidikan formal Marzuki dimulai di SD Negeri Barieh. Ia menyelesaikan pendidikan dasar itu pada 1996, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Tiro dan lulus pada 1999. Setelah itu, ia menjadi siswa MAN Beureuenun dan menuntaskan pendidikan menengah pada 2002.

Akan tetapi, kisah pendidikannya tidak pernah hanya berlangsung di sekolah. Sejak kecil, ia juga belajar agama di Meunasah Beulangong Basah, Ujong Rimba. Meunasah menjadi ruang pertama tempat ia mengenal dasar-dasar keislaman, mendengar penjelasan guru, dan menyaksikan bagaimana pengetahuan agama hadir dalam kehidupan masyarakat.

Dari meunasah, langkahnya berlanjut ke Dayah Bustanul Huda, Ujong Rimba. Di lingkungan dayah, kehidupan sehari-hari diatur oleh ritme belajar dan kedisiplinan. Membaca kitab, mengikuti pengajian, menjaga adab kepada guru, serta terlibat dalam kegiatan keagamaan menjadi pengalaman yang berjalan bersamaan dengan pendidikan formal.

Kemampuan membaca dan memahami kitab kuning mulai ditempa sejak usia muda. Marzuki tidak hanya hadir sebagai peserta pengajian. Ia juga dekat dengan para guru dan kerap membantu berbagai kegiatan keagamaan. Dalam proses itu, ia belajar bahwa ilmu tidak berhenti pada kemampuan menjawab pertanyaan di ruang belajar.

Ilmu harus dapat disampaikan dengan cara yang dipahami masyarakat. Ilmu juga perlu diterjemahkan menjadi sikap, pelayanan, dan tanggung jawab. Pengalaman membantu guru dalam khutbah, ceramah, dan kegiatan keagamaan resmi membuat Marzuki terbiasa berada di tengah masyarakat sejak usia muda.

Di sanalah ia melihat hubungan antara guru dan murid secara lebih dekat. Guru bukan hanya orang yang menyampaikan materi, melainkan teladan yang cara bicaranya, sikapnya, dan kepeduliannya ikut membentuk murid. Pengalaman tersebut kelak menjadi bekal penting ketika Marzuki memilih dunia pendidikan sebagai jalan pengabdian.

Kuliah Sambil Tetap Menjadi Santri

Tahun 2002 menandai perubahan besar dalam hidup Marzuki. Setelah lulus dari MAN Beureuenun, ia melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Di kampus, ia memasuki lingkungan akademik yang memperkenalkan tradisi penelitian, metodologi ilmiah, dan wawasan keilmuan yang lebih luas.

Namun, menjadi mahasiswa tidak membuatnya meninggalkan kehidupan sebagai santri. Pada tahun yang sama, ia melanjutkan pendidikan dayah di Dayah Darul Aman, Tungkop, Aceh Besar. Pendidikan tersebut dijalaninya hingga 2006, bersamaan dengan masa kuliah di IAIN Ar-Raniry.

Keputusan untuk tetap nyantri ketika menjadi mahasiswa memperlihatkan satu pilihan penting dalam hidupnya. Marzuki tidak melihat pendidikan formal dan pendidikan dayah sebagai dua jalan yang saling meniadakan. Keduanya justru berjalan berdampingan dan saling melengkapi.

Kampus memberinya ruang untuk mengembangkan cara berpikir akademik. Dayah menjaga kedekatannya dengan tradisi keislaman, adab belajar, dan kehidupan komunitas. Di antara dua ruang itulah ia membangun identitas intelektualnya.

Pada 2006, ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada Jurusan Tadris Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah, IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ia menuntaskan studi sekitar tiga setengah tahun dengan predikat cumlaude. Pada tahun yang sama, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister terbuka.

Marzuki memperoleh bantuan studi melalui kerja sama Program Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dan UIN Ar-Raniry, dengan konsentrasi Islamic Research. Program tersebut diselesaikannya pada 2008, setelah menjalani masa studi sekitar satu setengah tahun.

Pendidikan akademiknya kemudian berlanjut ke jenjang doktoral. Ia menempuh Program Studi Pendidikan Agama Islam pada Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan meraih gelar doktor pada 2022.

Rentang pendidikan itu menunjukkan ketekunan yang tidak selalu terlihat dari gelar yang tercantum di belakang nama. Ada masa ketika ia harus menata waktu, mengatur tenaga, dan menjaga konsistensi belajar. Ada pula proses panjang untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan yang dapat diuji dan dibagikan kepada orang lain.

Dari Ruang Kuliah enuju amanah Kepemimpinanm

Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Marzuki mulai memasuki dunia profesional sebagai akademisi. Pada 2008, ia mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil untuk formasi Dosen Metodologi Studi Islam. Ia dinyatakan lulus dan mendapat penempatan pertama di STAIN Malikussaleh Lhokseumawe, dengan TMT 1 Januari 2009.

Menjadi dosen membuat ruang pengabdiannya semakin luas. Ia tidak hanya mengajar di depan kelas. Ia juga terlibat dalam pengelolaan lembaga, pengembangan program studi, dan berbagai kegiatan akademik yang menuntut kemampuan bekerja bersama.

Selama bertugas di STAIN Malikussaleh Lhokseumawe, Marzuki dipercaya mengemban sejumlah amanah. Ia pernah menjadi Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat serta Ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syariah. Ia juga pernah menjadi sekretaris Program Studi PFS dan Program Studi PTE, serta Sekretaris Kopertais Wilayah V Aceh.

Jabatan-jabatan itu menempatkannya dalam berbagai situasi. Ia harus memahami kebutuhan mahasiswa, bekerja dengan sesama dosen, menyusun arah pengembangan lembaga, dan memastikan kegiatan akademik dapat berlangsung dengan baik. Di sana, kepemimpinan tidak hanya berarti mengambil keputusan. Kepemimpinan juga berarti mendengar, mengelola perbedaan, dan menyelesaikan pekerjaan yang sering kali tidak terlihat.

Pada 2014, Marzuki dipindahtugaskan kembali ke UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Hingga kini, ia bertugas sebagai dosen tetap pada Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Di Kampus Darussalam, kiprahnya terus berkembang. Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry. Di tengah tanggung jawab kelembagaan itu, ia tetap menjalankan tugas sebagai pengajar dan peneliti.

Ia hadir dalam seminar nasional maupun internasional, menjadi narasumber dan dosen tamu di sejumlah perguruan tinggi di Aceh dan luar Aceh. Ia juga aktif menulis pada jurnal nasional dan internasional. Pengalaman editorialnya antara lain sebagai editor Jurnal Didaktika UIN Ar-Raniry dan reviewer sejumlah jurnal terakreditasi Sinta serta jurnal bereputasi internasional.

Semua itu menjadi bagian dari proses yang mengantarkannya pada jabatan akademik Guru Besar. Tidak ada satu kegiatan yang berdiri sendiri. Pengajaran, penelitian, publikasi, pengabdian, dan kepemimpinan akademik saling bertemu dalam perjalanan yang panjang.

Antropologi Pendidikan yang Berangkat dari Pengalaman Hidup

Bidang kepakaran Marzuki, yakni Antropologi Pendidikan Islam, memiliki hubungan erat dengan pengalaman hidup yang ia jalani. Bidang ini memandang pendidikan tidak berdiri di ruang kosong. Pendidikan tumbuh dalam lingkungan sosial dan budaya. Ia dipengaruhi keluarga, tradisi, komunitas, lembaga pendidikan, serta cara masyarakat memaknai ilmu.

Pengalaman seorang anak yang belajar di meunasah, tumbuh sebagai santri, bersekolah di madrasah, lalu menempuh pendidikan tinggi bukan sekadar kisah pribadi. Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bagaimana pendidikan Islam hidup dalam keseharian masyarakat Aceh.

Meunasah menjadi pintu pertama. Dayah menjadi ruang pembentukan tradisi keilmuan. MAN Beureuenun memperkuat jalur pendidikan formal. IAIN Ar-Raniry membuka jalan menuju pendidikan tinggi. Darul Aman menjaga kesinambungan tradisi nyantri ketika ia menjadi mahasiswa. Setelah itu, perguruan tinggi menjadi ruang untuk mengembangkan keilmuan melalui pengajaran, penelitian, publikasi, dan pengabdian.

Di titik ini, perjalanan Marzuki menjadi lebih dari kisah tentang keberhasilan meraih jabatan akademik. Ia adalah gambaran tentang bagaimana akar sosial dan budaya dapat ikut membentuk cara seseorang memahami pendidikan.

Seseorang yang pernah berada di posisi murid akan memahami bahwa proses belajar membutuhkan kesabaran. Seseorang yang pernah hidup dalam tradisi dayah akan mengenal pentingnya adab dan keteladanan. Seseorang yang kemudian masuk ke dunia akademik akan berhadapan dengan tuntutan metodologi, ketelitian, dan tanggung jawab ilmiah.

Ketiga pengalaman itu tidak harus dipertentangkan. Justru, ketika berjalan bersama, semuanya dapat melahirkan perspektif yang lebih utuh tentang pendidikan Islam. Pendidikan tidak cukup hanya dinilai dari capaian akademik. Ia juga perlu dilihat dari kemampuannya membentuk manusia yang berkarakter dan berguna bagi masyarakat.

Guru Besar sebagai Amanah, Bukan Garis Akhir

Pada 1 Juli 2026, Marzuki resmi memasuki babak baru sebagai Guru Besar bidang Antropologi Pendidikan Islam. Pencapaian itu menempatkannya dalam satu garis perjalanan yang panjang: anak Gampong Barieh, santri Ujong Rimba, alumni MAN Beureuenun, mahasiswa IAIN Ar-Raniry, santri Darul Aman, dosen, pengelola perguruan tinggi, doktor, hingga Guru Besar.

Gelar tersebut tidak menghapus jejak awal perjalanan. Di balik jabatan akademik itu tetap ada ruang sederhana tempat ia pertama kali belajar agama. Ada guru yang membimbingnya membaca kitab. Ada lingkungan dayah yang mengajarinya disiplin. Ada orang tua yang menjadi bagian dari fondasi hidupnya. Ada pula tahun-tahun panjang ketika cita-cita harus dijaga melalui kerja yang tekun.

Bagi dunia pendidikan, capaian seorang Guru Besar bukan sekadar penghargaan personal. Ia membawa tanggung jawab untuk memperluas pengetahuan, membimbing generasi berikutnya, dan memastikan ilmu tetap memiliki hubungan dengan kebutuhan masyarakat.

Bagi Marzuki, tanggung jawab itu memiliki makna yang lebih dalam karena bidang keilmuannya berangkat dari kehidupan sosial dan budaya. Ia meneliti serta mengajarkan pendidikan Islam bukan dari jarak yang sepenuhnya jauh. Ia pernah mengalami sebagian tradisi itu sebagai anak, santri, mahasiswa, dan akademisi.

Dari pedalaman Pidie menuju Kampus Darussalam, jalan yang ditempuhnya menunjukkan bahwa puncak akademik dibangun melalui proses yang panjang. Ada tahun-tahun sebagai santri. Ada masa belajar di madrasah. Ada kuliah sambil tetap nyantri. Ada perjuangan meraih sarjana, magister, dan doktor. Ada pengabdian sebagai dosen, penelitian, publikasi, serta amanah kepemimpinan.

Semua tahap itu menyimpan pelajaran yang sama: keberhasilan tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari ketekunan yang sering kali berlangsung jauh dari sorotan.

Kini, Marzuki kembali berada di lingkungan Darussalam bukan lagi hanya sebagai mahasiswa yang membawa kitab dan cita-cita. Ia hadir sebagai Guru Besar yang memikul amanah keilmuan. Akan tetapi, akar perjalanannya tetap hidup.

Dari Ujong Rimba ke Darussalam. Dari santri menjadi akademisi. Dari alumni MAN Beureuenun menuju Guru Besar. Kisah Prof. Dr. Marzuki adalah cerita tentang ilmu yang ditempuh setapak demi setapak, tentang pendidikan yang dibentuk oleh lingkungan, dan tentang akar yang tidak hilang ketika seseorang akhirnya sampai di puncak.

Di tengah perubahan zaman, kisah semacam ini penting untuk terus diceritakan. Banyak anak muda mengenal kesuksesan dari hasil akhirnya: gelar, jabatan, atau pengakuan publik. Padahal, setiap capaian memiliki masa panjang yang tidak selalu tampak. Ada kebiasaan belajar yang dijaga ketika tidak ada yang menyaksikan. Ada kegagalan yang harus dilalui tanpa banyak keluhan. Ada nasihat guru yang baru terasa maknanya bertahun-tahun kemudian.

Perjalanan Marzuki mengingatkan bahwa pendidikan memiliki daya ubah ketika dijalani dengan kesungguhan. Ia dapat membawa seseorang keluar dari batas geografis tempat ia dilahirkan, tanpa harus memutus hubungan dengan lingkungan asalnya. Justru dari sanalah seseorang dapat menemukan pertanyaan, pengalaman, dan tanggung jawab yang membuat ilmunya tetap berpijak pada kehidupan nyata.