LENSAPOST.NET – Staf Khusus Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia sekaligus Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, Rian Firmansyah, mendorong para seniman dan pelaku budaya Aceh untuk mengembangkan kekayaan budaya daerah menjadi produk ekonomi kreatif yang bernilai ekonomi tanpa meninggalkan akar budayanya.
Hal itu disampaikan Rian saat berdiskusi dengan para seniman dan pegiat budaya di Banda Aceh, Kamis (18/6/2026). Menurutnya, kebudayaan dan ekonomi kreatif memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi.
“Kebudayaan bertugas menjaga nilai dan identitas budaya, sedangkan ekonomi kreatif bertugas mengolah kekayaan budaya itu menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan mampu menghasilkan pendapatan,” kata Rian.
Ia menjelaskan, seni dan budaya tidak lagi hanya dipandang sebagai ruang ekspresi, tetapi juga dapat menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan. Perkembangan teknologi digital telah membuka akses yang lebih luas bagi para kreator untuk memasarkan karya mereka ke tingkat nasional bahkan internasional.
Menurut Rian, tantangan yang masih dihadapi daerah-daerah di luar kota besar adalah cara pandang masyarakat yang belum sepenuhnya melihat profesi kreatif sebagai pekerjaan yang menjanjikan. Padahal, industri kreatif saat ini menjadi salah satu sektor yang tumbuh pesat dan mampu menciptakan lapangan kerja baru.
“Anak muda sekarang cenderung ingin bekerja sesuai minat dan passion mereka. Ekonomi kreatif memberikan ruang untuk itu, sekaligus membuka peluang menghasilkan pendapatan dari karya yang mereka ciptakan,” ujarnya.
Rian mengatakan Kementerian Ekonomi Kreatif saat ini fokus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif melalui pengembangan sumber daya manusia, perlindungan kekayaan intelektual, serta membuka akses pasar bagi para pelaku kreatif.
Ia menilai Aceh memiliki potensi besar di berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai dari seni pertunjukan, musik, film, kuliner, kriya hingga konten digital yang berakar pada budaya lokal.
Menurutnya, konsep “hyperlocal” atau penguatan identitas daerah justru menjadi kekuatan baru di era digital. Karya yang mengangkat bahasa, tradisi, dan cerita lokal dapat diterima secara luas selama memiliki kualitas dan alur cerita yang kuat.
Rian mencontohkan keberhasilan sejumlah karya kreatif berbasis budaya daerah di Indonesia yang mampu menembus pasar nasional tanpa harus menghilangkan identitas lokalnya.
Karena itu, ia mengajak para seniman Aceh untuk terus berkarya dan berinovasi serta berani memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana memperluas jangkauan karya mereka.
“Kita ingin lahir lebih banyak local hero dari Aceh. Dari daerah menjadi juara nasional, lalu berkembang menjadi pemain global. Potensi itu ada, tinggal bagaimana kita membangun kapasitas, kualitas, dan jejaringnya bersama-sama,” kata Rian.
Ia menegaskan, tujuan utama pengembangan ekonomi kreatif adalah menjadikan budaya sebagai kekuatan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan para pelaku seni dan budaya sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah persaingan global.
Hadir pada pertemuan Rian dengan seniman antara lain Chairian Ramli, Thayeb Loh Angen, Masrizal Rubi, Wina SW1, Nazar Shah Alam, Sarjev, dan lain-lain, sementara Rian Firmansyah turut didampingi Adi Rivai dan wahyu Wicaksono, Ketua koordinator ICCN Miswar Njong.[]












