. Merawat Tradisi, Menjemput Masa Depan: Perjuangan Abiya Riandi Syafri Mengirim Lima Guru Serambi Mekkah Kuliah S2 di UNISAI Samalanga

Lensapost. net| Nasional

Di lingkungan dayah, pengabdian bukan sekadar tentang berdiri di hadapan santri, mengajarkan kitab, atau menjaga tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama. Pengabdian juga berarti menyiapkan masa depan, membuka jalan bagi generasi penerus, dan memastikan pendidikan Islam tetap mampu menjawab perubahan zaman.

Prinsip itulah yang tercermin dalam langkah Dr. Tgk. Riyandi Syafri, MA, yang akrab disapa Abiya Riandi Syafri, pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Serambi Mekkah Al-Aziziyah. Di tengah dinamika pendidikan modern, ia terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia, salah satunya dengan mengirimkan lima orang guru untuk melanjutkan pendidikan magister (S2) bidang Hukum Keluarga Islam di Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga.

Bagi sebuah pesantren, keputusan tersebut bukan semata-mata tentang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di baliknya terdapat harapan besar agar para guru memiliki wawasan keilmuan yang semakin luas, kemampuan akademik yang semakin kuat, serta kesiapan untuk mendampingi santri menghadapi tantangan kehidupan yang terus berubah.

Langkah itu sekaligus menjadi pesan bahwa menjaga tradisi dayah tidak berarti menutup diri dari perkembangan pendidikan. Sebaliknya, tradisi keilmuan Islam dapat terus tumbuh apabila ditopang oleh semangat belajar, keterbukaan terhadap pengembangan ilmu, dan kesungguhan meningkatkan kualitas para pendidiknya.

Mengubah Pengabdian Menjadi Investasi Pendidikan

Bagi Abiya Riandi Syafri, peningkatan mutu tenaga pendidik merupakan bagian penting dari perjalanan sebuah lembaga pendidikan. Pesantren tidak cukup hanya mempertahankan keberadaan dan tradisi yang telah diwariskan. Pesantren juga perlu menyiapkan tenaga pendidik yang mampu mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan zaman.

Guru menempati posisi strategis dalam perjalanan pendidikan santri. Dari tangan para guru, pengetahuan disampaikan, nilai-nilai keislaman ditanamkan, dan karakter generasi muda dibentuk. Karena itu, peningkatan kapasitas guru menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat fondasi pendidikan pesantren.

“Peningkatan mutu tenaga pendidik saat ini sangat dibutuhkan untuk kemajuan sebuah lembaga, terutama pondok pesantren yang tumbuh dan berkembang di era modern ini,” demikian pernyataan Abiya Riandi Syafri.

Pernyataan tersebut memperlihatkan pentingnya menempatkan guru sebagai bagian utama dalam pembangunan pendidikan. Kualitas sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh bangunan, fasilitas, atau jumlah santri, tetapi juga oleh kemampuan orang-orang yang menjalankan proses pembelajaran setiap hari.

Keputusan mengirim lima guru menempuh pendidikan magister menjadi salah satu wujud dari pemikiran tersebut. Melalui pendidikan lanjutan, para guru diharapkan dapat memperkaya pengetahuan, memperluas perspektif akademik, serta membawa pengalaman baru ke lingkungan pesantren.

Pilihan bidang Hukum Keluarga Islam juga membuka peluang bagi para guru untuk memperdalam kajian hukum Islam yang berkaitan dengan kehidupan keluarga dan masyarakat. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat memperkuat khazanah keilmuan sekaligus memberikan manfaat bagi pengembangan pendidikan Islam.

Tentu saja, perjalanan menempuh pendidikan tinggi membutuhkan kesungguhan. Para guru harus membagi perhatian antara tanggung jawab akademik, pengembangan diri, dan pengabdian sebagai pendidik. Namun, tantangan itulah yang menjadikan pendidikan sebagai proses perjuangan yang membutuhkan komitmen jangka panjang.

Membuka Jalan bagi Santri Berprestasi

Perhatian Abiya Riandi Syafri terhadap pendidikan tidak berhenti pada peningkatan kualifikasi guru. Ponpes Serambi Mekkah Al-Aziziyah juga menjalin kerja sama dengan UNISAI Samalanga untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi santri berprestasi.

Melalui kerja sama tersebut, santri diharapkan memiliki peluang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang strata satu (S1) maupun strata dua (S2), sesuai persyaratan dan program studi yang tersedia.

Bagi santri, kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi dapat menjadi pintu menuju pengalaman akademik yang lebih luas. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan sesuai bidang yang dipelajari, tetapi juga berkesempatan membangun jaringan, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan mempersiapkan diri untuk berkontribusi lebih besar kepada masyarakat.

Di sinilah kerja sama antara pesantren dan perguruan tinggi memiliki arti strategis. Dayah memiliki tradisi pendidikan keislaman yang kuat, sedangkan perguruan tinggi menyediakan lingkungan akademik untuk memperdalam berbagai disiplin ilmu secara sistematis. Apabila keduanya berjalan beriringan, peluang pengembangan pendidikan bagi santri akan semakin terbuka.

Abiya Riandi Syafri berharap kemitraan dengan UNISAI Samalanga dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Harapan tersebut mencerminkan pandangan bahwa pengembangan pendidikan tidak seharusnya berhenti pada satu program atau satu angkatan, tetapi perlu dirawat menjadi komitmen berkelanjutan.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada civitas akademika UNISAI Samalanga atas kesempatan yang diberikan kepada guru dan santri Ponpes Serambi Mekkah Al-Aziziyah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Bagi pesantren, kesempatan tersebut diharapkan menjadi titik awal bagi perkembangan lembaga pada masa mendatang. Bagi para guru dan santri, kesempatan itu merupakan dorongan untuk terus belajar dan memanfaatkan pendidikan sebagai jalan pengabdian.

Menjaga Tradisi, Menjawab Tantangan Zaman

Perjalanan pendidikan pesantren selalu berkaitan dengan upaya menjaga kesinambungan tradisi. Dayah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan pengabdian kepada masyarakat.

Namun, perubahan sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan menghadirkan tantangan baru. Dunia pendidikan membutuhkan pendidik yang mampu mempertahankan nilai-nilai dasar keislaman sekaligus memahami kebutuhan generasi masa kini.

Dalam konteks tersebut, peningkatan kualifikasi akademik guru menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan warisan keilmuan dayah dengan tuntutan pendidikan modern.

Bagi Abiya Riandi Syafri, langkah ini merupakan bagian dari upaya mendorong Ponpes Serambi Mekkah Al-Aziziyah terus berkembang. Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik individu, tetapi juga dari seberapa besar ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi santri, lembaga, dan masyarakat.

Lima guru yang melanjutkan studi magister membawa harapan agar pengetahuan yang mereka peroleh kelak dapat kembali memperkaya lingkungan pendidikan pesantren. Dengan demikian, pendidikan tinggi tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi, melainkan menjadi modal bersama untuk memperkuat kualitas pembelajaran.

Perjuangan semacam ini memang tidak selalu menghasilkan perubahan dalam waktu singkat. Peningkatan mutu guru membutuhkan proses, konsistensi, dan dukungan dari berbagai pihak. Demikian pula, perluasan kesempatan pendidikan bagi santri membutuhkan kerja sama yang terpelihara dan kebijakan yang berkelanjutan.

Karena itu, langkah yang ditempuh Ponpes Serambi Mekkah Al-Aziziyah dapat dipandang sebagai bagian dari ikhtiar jangka panjang untuk membangun pendidikan yang lebih kuat.

Pengabdian yang Melampaui Lingkungan Dayah

Selain memimpin Ponpes Serambi Mekkah Al-Aziziyah, Abiya Riandi Syafri juga kembali dipercaya memimpin Pengurus Besar Himpunan Alumni Santri Aceh Jambi (PB HASA).

Peran dalam organisasi alumni santri membuka ruang bagi penguatan silaturahmi dan kolaborasi antarlulusan. Jejaring tersebut berpotensi menjadi modal sosial untuk mempertemukan pengalaman, pengetahuan, serta gagasan dalam mendukung kemajuan pendidikan Islam.

Alumni pesantren memiliki latar belakang dan pengalaman yang beragam. Apabila terhubung dalam kerja sama yang produktif, mereka dapat berkontribusi melalui berbagai bidang sesuai kapasitas masing-masing.

Dalam kerangka itu, pendidikan, kepemimpinan pesantren, dan organisasi alumni memiliki hubungan yang saling melengkapi. Pendidikan menyiapkan sumber daya manusia, pesantren membentuk karakter dan tradisi keilmuan, sedangkan organisasi alumni menyediakan ruang untuk menjaga hubungan dan mengembangkan kontribusi bersama.

Pada akhirnya, perjuangan memajukan dayah bukan hanya tentang mempertahankan apa yang telah diwariskan, tetapi juga menyiapkan sesuatu yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

Lima guru yang melanjutkan studi magister di UNISAI Samalanga menjadi bagian dari ikhtiar tersebut. Di balik langkah mereka, terdapat harapan agar ilmu yang diperoleh dapat kembali menguatkan pendidikan pesantren dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Jalan pengabdian memang panjang. Ia menuntut kesabaran untuk membangun, ketekunan untuk belajar, dan keberanian untuk melakukan perubahan tanpa kehilangan akar tradisi.

Bagi Ponpes Serambi Mekkah Al-Aziziyah, perjalanan itu terus dilakoni melalui pengembangan kualitas guru, pembukaan akses pendidikan bagi santri berprestasi, dan penguatan jejaring alumni. Sebuah ikhtiar yang menempatkan ilmu bukan hanya sebagai sesuatu yang dipelajari, melainkan juga sebagai amanah untuk diteruskan dan diabdikan bagi masa depan pendidikan Islam.