LENSAPOST.NET – Ancaman serius membayangi sektor pertanian di Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Sedikitnya 500 hektare lahan persawahan di Desa Rukoen Damee terancam gagal tanam bahkan beralih fungsi akibat rusaknya jaringan irigasi yang hingga kini belum tertangani secara optimal.
Para petani mengaku menjadi korban lambannya koordinasi antarinstansi, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, yang dinilai saling melempar tanggung jawab dalam penanganan persoalan tersebut.
Kerusakan jaringan irigasi yang menjadi sumber utama pasokan air menyebabkan distribusi air ke areal persawahan tidak lagi berjalan normal. Dampaknya, ratusan petani kesulitan mengolah lahan dan terancam kehilangan musim tanam.
Kepala Desa Rukoen Damee, Mustafik, menyebutkan kerusakan irigasi telah berlangsung cukup lama tanpa adanya langkah konkret yang mampu menjawab kebutuhan mendesak petani.
“Akibat kurangnya pasokan air, sekitar 500 hektare sawah terancam gagal tanam dan beralih fungsi menjadi lahan tanaman lain seperti jagung, kacang, hingga sawit,” ujarnya.
Ia merinci, kerusakan berat pada saluran irigasi mencapai sekitar 2.000 meter, sementara kerusakan kategori sedang sepanjang 1.000 meter. Kondisi ini membuat suplai air ke lahan pertanian semakin tidak mencukupi.
Mustafik juga menyoroti lemahnya koordinasi antarinstansi pasca peralihan kewenangan Daerah Irigasi (DI) dari pemerintah kabupaten ke pemerintah provinsi. Menurutnya, perubahan tersebut justru memperlambat penanganan di lapangan.
“Seolah-olah terjadi saling lempar tanggung jawab. Masyarakat jadi bingung harus mengadu ke mana, sementara kondisi irigasi semakin parah,” katanya.
Ia berharap Pemerintah Aceh melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Dinas Pengairan dapat bersinergi dengan pemerintah kabupaten guna mempercepat perbaikan jaringan irigasi.
Keluhan serupa juga disampaikan petani setempat, Tarmizi (60). Ia mengaku khawatir kondisi ini akan menurunkan produktivitas pertanian dan memaksa petani meninggalkan usaha tani padi.
“Pasokan air sangat kurang. Mau tidak mau lahan terpaksa ditanami komoditas lain. Kami khawatir ratusan hektare sawah gagal tanam tahun ini,” ungkapnya.
Selain berdampak pada pertanian, kerusakan irigasi juga memicu persoalan lain. Warga setempat, Nurlaila (50), mengungkapkan genangan air saat hujan kerap masuk ke rumah warga dan merusak jalan desa.
“Kalau hujan, air sering masuk ke rumah. Jalan desa juga rusak, aktivitas warga jadi terganggu,” keluhnya.
Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat dan konkret. Pasalnya, jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya pada petani, tetapi juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan daerah.
Di tengah gencarnya program swasembada pangan nasional, para petani kini hanya berharap satu hal sederhana: air kembali mengalir ke sawah mereka sebelum musim tanam benar-benar terlewatkan.











