Muktamar Nahdlatul Ulama bukan sekadar arena memilih siapa yang akan menduduki kursi Ketua Umum PBNU. Lebih dari itu, muktamar merupakan momentum besar untuk menentukan arah perjalanan jam’iyah, menjaga marwah ulama, memperkuat persatuan Nahdliyin, serta memastikan NU tetap menjadi rumah besar bagi umat Islam dari Sabang sampai Merauke.
Kabar mengenai Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, yang disebut telah mengajukan pengunduran diri karena hendak maju sebagai calon Ketua Umum PBNU tentu semakin membuat dinamika Muktamar NU menarik untuk diikuti. Menurut laporan Suara.com pada 26 Agustus 2026, surat pengunduran diri tersebut disebut telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai konsekuensi aturan bagi pejabat negara yang hendak maju sebagai Ketua Umum PBNU.
Siapa pun yang akhirnya terpilih harus kita hormati sebagai hasil permusyawaratan para pemilik suara di lingkungan Nahdlatul Ulama. Namun, sebagai bagian dari keluarga besar Nahdliyin, tentu tidak salah apabila muncul sebuah harapan: semoga pada Muktamar kali ini lahir Ketua Umum PBNU dari luar Pulau Jawa.
Harapan tersebut bukan berarti mempertentangkan Jawa dengan luar Jawa. Bukan pula bermaksud mengatakan bahwa kader NU dari Jawa kurang layak memimpin. NU justru mengajarkan persaudaraan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap siapa pun berdasarkan ilmu, akhlak, kapasitas, serta pengabdiannya.
Namun, NU hari ini telah berkembang menjadi organisasi dengan jaringan yang sangat luas. Basis Nahdliyin tidak hanya berada di Jawa, tetapi juga tumbuh kuat di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, hingga berbagai negara di dunia. Karena itu, terbukanya ruang kepemimpinan nasional bagi kader dari berbagai wilayah dapat menjadi simbol bahwa PBNU benar-benar menjadi rumah bersama seluruh Nahdliyin Indonesia.
Sejarah sebenarnya telah memberikan teladan yang sangat indah melalui sosok KH Idham Chalid, ulama besar yang berasal dari Kalimantan Selatan. Beliau terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada 1956 ketika baru berusia sekitar 34 tahun dan memimpin NU hingga 1984. NU Online bahkan menggambarkan kepemimpinan KH Idham Chalid sebagai keberhasilan yang “mematahkan mitos Jawa dan luar Jawa” dalam kepemimpinan NU.
KH Idham Chalid membuktikan bahwa jarak geografis dari pusat kekuasaan tidak menentukan kualitas kepemimpinan seseorang. Putra daerah dari Kalimantan mampu memimpin NU selama sekitar 28 tahun dan menjadi salah satu tokoh nasional penting pada masanya.
Spirit itulah yang rasanya layak dihidupkan kembali.
Sudah saatnya kita memandang bahwa kader terbaik NU dapat lahir dari mana saja. Bisa dari Jawa, Sumatra, Aceh, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, maupun Papua. Yang terpenting bukan alamat kelahirannya, melainkan kedalaman ilmunya, kematangan akhlaknya, kemampuannya merangkul seluruh kelompok, kemandiriannya dari kepentingan politik praktis, serta kesungguhannya mengurus umat.
Bila pada Muktamar kali ini Allah menakdirkan seorang kader dari luar Jawa menjadi Ketua Umum PBNU, hal tersebut dapat menjadi pesan simbolik yang sangat kuat bahwa NU benar-benar milik seluruh Indonesia.
Kita merindukan pemimpin PBNU yang mampu merangkul, bukan memukul; menyatukan, bukan mempertajam perbedaan; mendengar suara daerah, bukan hanya suara elite pusat; serta membawa NU semakin dekat dengan pesantren, ulama, santri, dan masyarakat akar rumput.
Karena itu, harapan agar Ketua Umum PBNU berikutnya berasal dari luar Jawa hendaknya dibaca sebagai aspirasi pemerataan kepemimpinan, bukan sentimen kedaerahan.
Siapa pun yang menang nantinya tetap harus kita hormati. Dalam tradisi NU, jabatan bukanlah sesuatu yang harus diperebutkan dengan permusuhan, melainkan amanah besar yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Semoga Muktamar NU melahirkan pemimpin terbaik. Dan apabila sejarah berkenan berulang, semoga kembali hadir sosok dari luar Pulau Jawa yang mampu meneruskan jejak besar KH Idham Chalid—memimpin NU bukan hanya untuk satu wilayah, satu kelompok, atau satu kepentingan, melainkan untuk seluruh Nahdliyin dan kemaslahatan bangsa Indonesia.
NU lahir dari para ulama, dibesarkan oleh umat, dan kepemimpinannya harus menjadi milik seluruh Nusantara.
Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq
Dr. Tgk. Nanda Saputra, M.Pd
Ketua PC ISNU Kab. Pidie.












