Opini  

Banjir Tak Cukup Dicatat: Aceh Perlu Transformasi Digital dalam Membaca Jejak Air

Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T.

Oleh: Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T.

Banjir datang, air surut, kerusakan dihitung, bantuan disalurkan, lalu perhatian perlahan beralih.

Siklus tersebut terus berulang.

Padahal, setiap kejadian banjir sebenarnya meninggalkan data yang sangat berharga.

Batas genangan.

Ketinggian air.

Arah aliran.

Lokasi kerusakan.

Endapan sedimen.

Perubahan sungai.

Kondisi tutupan lahan.

Jika semua informasi tersebut hanya berhenti sebagai dokumentasi, kita kehilangan kesempatan untuk belajar.

Di era transformasi digital, jejak banjir seharusnya dapat diubah menjadi pengetahuan untuk mencegah bencana berikutnya.

Banjir Meninggalkan Data

Ketika banjir terjadi, masyarakat sekarang dapat merekam kondisi menggunakan telepon genggam.

Foto dan video dapat menunjukkan tinggi genangan.

Lokasi dapat diperoleh melalui GPS.

Citra satelit dapat digunakan untuk melihat luas wilayah terdampak.

Data curah hujan dan tinggi muka air dapat memberikan informasi mengenai kondisi hidrologis.

Jika berbagai sumber informasi tersebut digabungkan, kita dapat memperoleh gambaran yang jauh lebih lengkap mengenai suatu kejadian.

Inilah peluang transformasi digital dalam pengelolaan bencana air.

Dari Foto Menjadi Bukti Hidrologis

Satu foto banjir mungkin terlihat sederhana.

Namun, jika diketahui lokasi, waktu, dan kondisi lingkungan di sekitarnya, foto tersebut dapat menjadi bagian dari rekonstruksi kejadian.

Misalnya, sebuah foto menunjukkan air mencapai jendela rumah.

Foto lain memperlihatkan endapan lumpur setelah air surut.

Foto berikutnya menunjukkan kerusakan tebing sungai.

Jika seluruh informasi tersebut dipetakan berdasarkan lokasi dan waktu, pola kejadian mulai terlihat.

Data masyarakat dapat menjadi salah satu sumber informasi awal dalam hidrologi forensik, yaitu pendekatan untuk merekonstruksi kejadian hidrologis dan mencari faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya bencana.

Mengapa Banjir Bisa Semakin Merusak?

Banjir tidak hanya ditentukan oleh banyaknya hujan.

Besarnya dampak juga dipengaruhi oleh kondisi daerah tangkapan, perubahan penggunaan lahan, kapasitas sungai, kondisi drainase, topografi, dan keberadaan bangunan di jalur aliran.

Karena itu, setelah banjir terjadi, pertanyaan penting bukan hanya:

“Berapa besar kerugiannya?”

Tetapi:

“Mengapa air bisa sampai ke lokasi tersebut?”

Dan:

“Mengapa kerusakannya menjadi sebesar itu?”

Teknologi digital dapat membantu menjawab pertanyaan tersebut.

GIS dan Citra Satelit Harus Menjadi Bagian dari Memori Bencana

Sistem Informasi Geografis atau GIS memungkinkan berbagai data ditempatkan pada lokasi yang sama.

Peta genangan dapat dibandingkan dengan jaringan sungai.

Tutupan lahan dapat dibandingkan dengan daerah terdampak.

Topografi dapat digunakan untuk memahami arah aliran.

Data curah hujan dapat dianalisis bersama kondisi sungai.

Citra satelit dapat membantu melihat perubahan wilayah sebelum dan sesudah kejadian.

Dengan demikian, pemerintah tidak hanya memiliki laporan tertulis mengenai banjir.

Pemerintah memiliki peta memori bencana.

Artificial Intelligence Bukan Pengganti Ahli

Perkembangan kecerdasan buatan juga membuka peluang baru.

AI dapat membantu mengolah foto, video, citra satelit, dan data dalam jumlah besar.

Misalnya, sistem dapat membantu mengidentifikasi area genangan atau mengelompokkan laporan masyarakat berdasarkan lokasi.

Namun, teknologi tidak boleh dipandang sebagai pengganti analisis hidrologi.

AI dapat membantu menemukan pola.

Tetapi penjelasan mengenai penyebab dan konsekuensi hidrologis tetap membutuhkan pengetahuan ilmiah.

Teknologi seharusnya memperkuat keputusan manusia, bukan menggantikannya.

Data Harus Dikumpulkan Sebelum Bencana

Kesalahan yang sering terjadi adalah baru mencari data setelah bencana.

Padahal, untuk mengetahui apakah suatu kejadian merupakan anomali atau bagian dari pola yang berulang, kita membutuhkan data historis.

Curah hujan.

Debit sungai.

Tinggi muka air.

Perubahan tutupan lahan.

Kondisi drainase.

Topografi.

Lokasi bangunan.

Semua perlu dikumpulkan secara berkelanjutan.

Dengan data historis, kejadian baru dapat dibandingkan dengan kejadian sebelumnya.

Aceh Membutuhkan Sistem yang Belajar dari Bencana

Bayangkan jika setiap banjir di Aceh masuk ke dalam satu sistem digital.

Lokasinya tercatat.

Waktunya tercatat.

Ketinggian genangannya tercatat.

Curah hujannya tersimpan.

Kerusakannya dipetakan.

Perubahan sungainya terdokumentasi.

Kemudian, seluruh data tersebut dapat digunakan untuk memperbarui peta risiko.

Banjir yang terjadi hari ini tidak lagi menjadi kejadian yang berdiri sendiri.

Ia menjadi bagian dari pembelajaran sistem.

Inilah esensi transformasi digital dalam pengelolaan bencana.

Masyarakat Bisa Menjadi Sensor

Pemerintah tidak mungkin menempatkan alat pengukur di setiap sudut wilayah.

Namun, masyarakat berada di lokasi ketika bencana terjadi.

Karena itu, masyarakat dapat menjadi bagian dari sistem pemantauan.

Laporan genangan.

Foto kondisi sungai.

Ketinggian air.

Kerusakan infrastruktur.

Semua dapat dikumpulkan melalui platform digital.

Tentu, informasi tersebut perlu diverifikasi.

Tetapi, jika dikelola dengan baik, data masyarakat dapat memperluas kemampuan pemantauan pemerintah.

Jangan Hanya Digitalisasi Laporan

Transformasi digital bukan sekadar mengubah laporan kertas menjadi file PDF.

Jika hanya itu yang dilakukan, kita belum benar-benar melakukan transformasi.

Transformasi berarti data dapat digunakan untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik.

Data banjir harus dapat dianalisis.

Peta risiko harus diperbarui.

Informasi harus dapat digunakan oleh pemerintah daerah.

Masyarakat harus mendapatkan informasi yang relevan.

Dan hasil analisis harus kembali menjadi kebijakan.

Digitalisasi tanpa perubahan cara mengambil keputusan hanya memindahkan dokumen, bukan menyelesaikan masalah.

Banjir Harus Menjadi Pelajaran

Setiap bencana seharusnya meninggalkan dua hal:

Kerusakan yang harus dipulihkan dan pengetahuan yang harus digunakan.

Kerusakan dapat diperbaiki.

Tetapi, jika pengetahuannya hilang, kita mungkin akan menghadapi kerusakan yang sama pada masa depan.

Karena itu, Aceh perlu membangun sistem pengelolaan bencana air yang mampu mengingat.

Mengingat di mana banjir terjadi.

Mengingat seberapa tinggi airnya.

Mengingat bagaimana air bergerak.

Mengingat apa yang berubah.

Dan mengingat mengapa kerusakan terjadi.

Dari Jejak Air Menjadi Keputusan

Teknologi sudah tersedia.

GIS tersedia.

Citra satelit tersedia.

Sensor semakin murah.

Telepon pintar ada di tangan masyarakat.

Data hidrologi dapat dikembangkan.

Tantangannya adalah mengintegrasikan semuanya menjadi sistem yang berguna.

Aceh tidak harus menunggu bencana berikutnya untuk memulai.

Data kejadian masa lalu dapat dikumpulkan.

Jejak banjir dapat direkonstruksi.

Peta risiko dapat diperbarui.

Dan rekomendasi kebijakan dapat disusun berdasarkan bukti.

Banjir tidak cukup hanya dicatat. Banjir harus dipelajari.

Sebab, setiap genangan meninggalkan jejak.

Setiap kerusakan menyimpan informasi.

Dan setiap kejadian seharusnya membuat kita lebih siap menghadapi kejadian berikutnya.

Transformasi digital yang sesungguhnya bukan ketika kita memiliki lebih banyak data.

Transformasi terjadi ketika data membuat kita mengambil keputusan yang lebih baik sebelum air kembali menjadi bencana.

Tentang Penulis

Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., adalah dosen Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung. Bidang keahliannya meliputi hidrologi, sumber daya air, hidrologi forensik, serta bencana dan daya rusak air.