LENSAPOST.NET — Transparansi Tender Indonesia (TTI) mempertanyakan pola perencanaan pengadaan Al-Qur’an senilai sekitar Rp19,94 miliar pada Dinas Pendidikan Dayah Aceh.
Pertanyaan tersebut muncul karena pengadaan dibagi ke dalam lima zona dengan nilai paket yang nyaris identik, meski wilayah, jumlah dayah dan jumlah santri di masing-masing zona berbeda.
Menurut TTI, pola lima paket bernilai hampir sama menimbulkan pertanyaan apakah perencanaan disusun berdasarkan kebutuhan riil masing-masing zona atau justru anggaran dibagi terlebih dahulu ke dalam lima paket.
Koordinator TTI, Nasruddin Bahar, mengatakan perencanaan pengadaan semestinya berangkat dari data kebutuhan, bukan sekadar pembagian nominal.
Dinas Pendidikan Dayah Aceh diminta membuka jumlah dayah penerima pada masing-masing zona, jumlah santri, kebutuhan Al-Qur’an setiap dayah serta mekanisme yang digunakan dalam menetapkan kuantitas barang.
“Jangan sampai pola perencanaannya terbalik. Seharusnya kebutuhan dihitung terlebih dahulu kemudian keluar nilai anggaran. Bukan anggaran dibagi hampir sama, setelah itu baru dicari kebutuhan untuk menyesuaikan nilai paket,” ujar Nasruddin.
TTI menilai data kebutuhan tersebut penting untuk menjelaskan dasar munculnya nilai anggaran pada masing-masing paket.
Menurut TTI, kesamaan nilai paket belum membuktikan adanya pelanggaran. Namun kondisi tersebut merupakan indikator awal yang cukup kuat untuk dilakukan pemeriksaan lebih mendalam.
TTI meminta proses perencanaan pengadaan dapat dijelaskan secara terbuka agar publik mengetahui hubungan antara jumlah kebutuhan, volume barang dan nilai anggaran yang ditetapkan.










