Umum  

Hapus Stigma Menakutkan, Kapolda Aceh Ubah Kantor Polisi Jadi Rumah Aman bagi Warga

LENSAPOST.NET – Kepemimpinan Inspektur Jenderal Polisi Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M. di Kepolisian Daerah (Polda) Aceh menuai sorotan positif dari berbagai kalangan. Jenderal bintang dua lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 itu dinilai berhasil membawa perubahan signifikan melalui pendekatan kepemimpinan yang humanis, visioner, serta berakar pada kearifan lokal.

Sebagai putra daerah kelahiran Tangse, 20 Juni 1968, Marzuki Ali Basyah memiliki pemahaman mendalam terhadap karakteristik sosial masyarakat Aceh. Hal ini menjadi modal penting dalam merumuskan kebijakan keamanan yang tidak hanya tegas, tetapi juga mampu menyentuh sisi emosional masyarakat.

Sejak awal menjabat, ia dinilai sukses meruntuhkan sekat psikologis antara polisi dan warga. Melalui keteladanan dan instruksi yang konsisten, citra kantor polisi di Aceh kini berubah menjadi ruang yang ramah dan terbuka, bukan lagi tempat yang menakutkan bagi masyarakat yang ingin mencari keadilan atau menyampaikan aduan.

Transformasi tersebut tidak hanya terlihat dari sisi pelayanan, tetapi juga dari posisi kepolisian di tengah masyarakat. Di bawah kepemimpinannya, kantor polisi hadir sebagai bagian yang menyatu dengan kehidupan warga, memberikan rasa aman sekaligus manfaat nyata di lingkungan sekitar.

Perubahan ini turut melahirkan kesadaran kolektif di tengah masyarakat. Warga kini memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi fasilitas kepolisian sebagai aset negara yang inklusif dan dekat dengan rakyat.

Hubungan antara Polri dan masyarakat pun mengalami pergeseran paradigma. Kepolisian tidak lagi dipandang sebagai institusi yang berjarak, melainkan mitra sejajar yang bekerja bersama masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

Pendekatan humanis tersebut diperkuat melalui berbagai program sosial yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Personel kepolisian aktif terlibat dalam kegiatan keagamaan di masjid dan pesantren, yang merupakan pusat kehidupan sosial budaya di Aceh.

Selain itu, Polda Aceh juga mendorong penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar wilayah kerja. Langkah ini tidak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga turut menggerakkan perekonomian masyarakat akar rumput.

Dalam menjaga stabilitas keamanan, Marzuki Ali Basyah juga mengedepankan komunikasi kultural dengan melibatkan tokoh agama dan tokoh adat. Pendekatan ini terbukti efektif dalam meredam potensi konflik melalui cara-cara yang sejuk dan persuasif.

Di bidang lingkungan, ia menggagas program Green Policing atau Kepolisian Hijau. Program ini menegaskan komitmen Polda Aceh dalam menjaga kelestarian alam, khususnya dalam penanganan kerusakan hutan dan praktik pembalakan liar.

Keberhasilan program tersebut tidak lepas dari penerapan strategi kolaborasi pentahelix, yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, dan media massa. Sinergi ini mendorong kesadaran kolektif untuk menjaga ekosistem sekaligus memberikan edukasi lingkungan kepada generasi muda.

Tak hanya itu, Polda Aceh juga berperan aktif dalam mendukung program prioritas nasional, khususnya ketahanan pangan. Melalui instruksi langsung, jajaran kepolisian hingga tingkat Polres dan Polsek dilibatkan dalam pendampingan sektor pertanian bersama instansi terkait dan kelompok tani.

Berbagai capaian tersebut memperlihatkan kapasitas kepemimpinan Marzuki Ali Basyah sebagai sosok yang mampu menggabungkan ketegasan dengan pendekatan humanis. Transformasi yang dibawanya dinilai berhasil menghapus stigma lama, sekaligus menjadikan Polda Aceh sebagai institusi yang dicintai, dihormati, dan menyatu dengan masyarakat.