Umum  

Pengajian KWPSI, Tgk Sirajuddin: Atasi Empat Kelemahan Generasi

Dr Tgk Sirajuddin Saman MA

LENSAPOST.NET – Pada saat Nabi Ibrahim as dibakar oleh api, seekor burung pipit berupaya memadamkan api dengan meneteskan air dari paruhnya. Bolak-balik dia mengambil air lagi dan meneteskannya ke api. Dia tahu air yang diteteskannya tidak sebanding besarnya api yang membara. Namun, setidaknya di akhirat kelak dia bisa menjawab jika Allah bertanya apa dilakukannya ketika melihat Nabi Ibrahim dibakar.

Begitulah kesimpulan dari kisah yang diceritakan disampaikan oleh Dr Tgk Sirajuddin Saman MA dalam pengajian bertajuk ‘Jangan Tinggalkan Generasi Lemah’ yang digelar Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Warung Kopi Garuda, Banda Aceh, Rabu malam, 9 Agustus 2023.

Tgk Sirajuddin di hadapan para jamaah menjelaskan hikmah dari kisah tersebut adalah terus berbuat baik dengan kemampuan kita. Dengan luasnya Aceh, meskipun apa yang bisa kita lakukan kecil akan tetapi ada sesuatu dilakukan untuk penegakan syariat Islam. “Kita tidak boleh membiarkan generasi jauh dari Islam,” pungkasnya dalam pengajian yang dimoderatori Ketua KWPSI Dosi Elfian.

Menurut Tgk Sirajuddin ada empat kelemahan generasi yang berbahaya yakni kelemahan akidah, ibadah, ilmu, dan ekonomi. Akidah merupakan pondasi seseorang dalam melaksanakan syariat Islam. Kalau akidah tidak kuat meniadakan keyakinan dalam hatinya bahwa segala seusuatu dan balasan adalah nyata dari Allah.

Luqman merupakan sosok orang tua sebagai teladan dalam mendidik akidah anak. Bahkan kisah Luqman mendidik anaknya supaya berpegang teguh kepada akidah terabadikan dalam Al-Qur’an.

Dalam materinya, Tgk Sirajuddin juga mempertanyakan bagaimana orang tua sekarang mengajarkan kedisiplinan anaknya menjaga shalat. Menurutnya, orang tua sekarang minim melakukannya, melainkan lebih memperhatikan jajan si anak. Sayangnya lagi, orang tua terkadang jarang memperhatikan kehalalan nafkah yang dibawa pulang ke rumahnya.

Tgk Sirajuddin menambahkan kondisi pemuda banyak lemah dari segi ibadah. Hal ini terlihat dari jamaah Jumat di masjid daerah perkambungan, jumlah pemuda hadir ke masjid sedikit, tidak sebanding jumlah mereka sebenarnya. Anak muda lebih banyak menghabiskan waktu di warung kopi.

“Jika generasi muda tidak berkarya untuk masa depan, menggantungkan diri kepada orang tua, kalau sang ayah berpulang kepada Allah tanpa meninggalkan harta yang banyak, apa yang bisa dilakukan oleh anak muda itu,” ujarnya dengan nada bertanya.

Ketika satu daerah orang yang meninggalkan shalat sudah banyak, dikhawatirkan Allah akan menurunkan bala. Misalnya, Allah mengurangi curah hujan dalam setahun sehingga banyak pohon mati, melambungnya harga pangan, pemimpin di gampong hanya memikirkan kesejahteraan dirinya sendiri. “Ketika allah menurunkan bala, sama rata (merasakannya). Ketika ibadah lemah, maksiat pasti muncul.” pungkasnya.

Tgk Sirajuddin menerangkan bahwa kelemahan ilmu begitu berbahaya. Misalnya, saat mengambil hasil alam tanpa ilmu menyebabkan kerusakan alam sehingga terjadi banjir bandang. Jika tidak dibekali ilmu, maka masyarakat Aceh akan menjadi budak di negeri sendiri. Budaya membaca dinilai tidak sampai lima Aceh. Sementara kejayaan Islam pada masa Rasulullah dan sahabat hebatnya karena ilmu.

Terakhir, kelemahan ekonomi yang bisa disebabkan rendahnya semangat kerja. Kemiskinan tidak boleh dikembalikan kepada hakikat.

Ada tiga pihak yang bertanggung jawab terhadap kelemahan-kelemahan tersebut yakni pemerintah, orang tua, dan masyarakat. Kemungkaran dapat dicegah dengan kekuasaan. Tgk Sirajuddin mengapresiasi Surat Edaran Pj Gubernur Aceh tentang Penguatan dan Peningkatan Pelaksanaan Syariat Islam Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Masyarakat di Aceh. “Bila penduduk suatu negeri beriman maka Allah akan menurunkan rahmat-Nya,” paparnya. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *