ACEH, Umum  

Sosok Sahabat Refi Syahputra: Menapaki Tangga Pengabdian dari IPNU, Ansor, ISNU hingga Mengemban Amanah di MPD

Lensapost.net I Subulussalam—Di tengah arus zaman yang kian cepat dan serba instan, masih ada sosok-sosok yang memilih jalan panjang bernama proses. Jalan yang tidak selalu terang, tidak selalu mudah, tetapi penuh makna.

Di antara deretan kader Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Subulussalam, nama Sahabat Refi hadir sebagai representasi dari ketekunan itu—tumbuh dari bawah, ditempa oleh organisasi, dan akhirnya dipercaya mengemban amanah strategis di ruang publik.

Dalam Kompercab I IPNU Kota Subulussalam yang digelar pada 26 April 2026. Sosok pria bersahaja Refi Syahputra, M. Pd hadir sebagai pemateri dengan tema “Keorganisasian”. Namun, yang ia bawa bukan sekadar materi. Ia membawa pengalaman hidup—sebuah perjalanan panjang dari bangku kaderisasi IPNU, dinamika GP Ansor, hingga kini menakhodai PC ISNU dan dipercaya sebagai Ketua Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kota Subulussalam.

Kandidat Doktor UIN Sumatera Utara itu  tidak datang sebagai sosok yang tiba-tiba besar. Ia adalah potret kader yang tumbuh dari akar, menyerap nilai, dan merawat tradisi organisasi dengan penuh kesadaran.

Ditempa dari Rahim Kaderisasi: IPNU dan Ansor sebagai Sekolah Kehidupan

Perjalanan Refi dalam dunia organisasi dimulai dari IPNU—Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama. Di sinilah fondasi awal itu diletakkan. IPNU bukan hanya tempat berkumpulnya pelajar, tetapi ruang pembentukan karakter, tempat belajar arti loyalitas, disiplin, dan tanggung jawab.

Sebagai kader muda, Refi tidak hanya hadir sebagai peserta. Ia berproses, berinteraksi, dan belajar memahami dinamika organisasi dari dalam. Ia merasakan bagaimana membangun komunikasi, menyatukan perbedaan, dan menjaga semangat kolektif dalam keterbatasan.

IPNU baginya adalah madrasah pertama dalam kepemimpinan. Dari sana, ia memahami bahwa menjadi bagian dari organisasi bukan tentang eksistensi pribadi, melainkan tentang kontribusi.

Perjalanan itu berlanjut ke GP Ansor—organisasi kepemudaan NU yang dikenal dengan militansi dan kedisiplinannya. Di Ansor, Refi menghadapi medan yang lebih kompleks. Tantangan bukan hanya soal mengelola organisasi, tetapi juga menjaga marwah, memperkuat jaringan, dan menjawab dinamika sosial yang terus berkembang.

Ia pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris PC GP Ansor Kota Subulussalam periode 2018–2022. Dalam peran ini, ia aktif menggerakkan berbagai kegiatan sosial-keagamaan, memperkuat basis kader, serta menjaga semangat kebersamaan di tengah tantangan zaman. Pengalaman ini menjadi titik penting yang mengasah kepemimpinan dan ketahanan dirinya dalam organisasi.

Di Ansor, ia belajar satu hal penting: bahwa loyalitas tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi harus dibuktikan dengan kerja nyata. Bahwa organisasi bukan sekadar struktur, tetapi ruh yang harus dijaga bersama.

Menakhodai ISNU dan MPD: Dari Aktivis Menjadi Arsitek Kebijakan

Perjalanan panjang dalam banom NU mengantarkan Refi pada fase baru: memimpin. Ia dinilai tepat memimpin PC ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) Kota Subulussalam periode 2024–2029. Di organisasi intelektual ini, ia berupaya menjadikan ISNU bukan sekadar ruang diskusi, tetapi motor penggerak pemikiran dan kolaborasi.

Di sisi lain, kiprah akademiknya juga menguatkan peran tersebut. Refi merupakan dosen tetap di STIT Hamzah Fansuri (STIT Hafas) dan tengah menempuh studi doktoral di UIN Sumatera Utara. Dunia akademik memberinya ruang refleksi sekaligus pijakan ilmiah dalam merumuskan gagasan.

Tidak hanya itu, ia juga aktif sebagai penyuluh agama di Kementerian Agama, memperluas pengabdian hingga ke masyarakat secara langsung. Perpaduan antara pengalaman organisasi, dunia akademik, dan pengabdian sosial menjadikan Refi sosok yang utuh—tidak hanya berpikir, tetapi juga bertindak.

Amanah yang lebih besar datang ketika ia terpilih sebagai Ketua Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kota Subulussalam periode 2025–2030. Sebagai lembaga keistimewaan daerah, MPD memiliki peran strategis dalam merumuskan arah pendidikan. Di sinilah Refi tidak hanya menjadi aktivis, tetapi juga arsitek kebijakan.

Salah satu gagasan yang menonjol adalah penguatan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Pendidikan untuk perguruan tinggi. Di bawah kepemimpinannya, program ini mengalami transformasi signifikan. Jika sebelumnya hanya menjangkau perguruan tinggi swasta dan jurusan sosial, kini diperluas ke perguruan tinggi negeri, termasuk bidang kesehatan dan vokasi seperti politeknik keteknikan.

Langkah ini lahir dari proses panjang—komunikasi, diplomasi, dan jejaring lintas lembaga. Ia aktif menjalin kerja sama dengan kampus-kampus di Aceh dan Sumatera Utara, membuka akses yang lebih luas bagi generasi muda Subulussalam.

Tidak berhenti di tingkat kebijakan, ia juga dikenal sering turun langsung ke sekolah-sekolah—baik di bawah Dinas Pendidikan maupun Kementerian Agama. Kehadirannya bukan sekadar formalitas, tetapi wujud kepedulian nyata terhadap pendidikan di akar rumput.

Realistis dan Filosofis: Jejak Sunyi yang Berbuah Nyata

Refi lahir di Pulo Belen, 10 Mei 1989. Latar belakang sederhana itu tidak menghalanginya untuk terus melangkah dan berproses. Justru dari sanalah ia belajar arti kesungguhan, kesabaran, dan konsistensi.

Ia bukan tipe pemimpin yang gemar tampil di panggung. Ia tidak banyak berbicara, tetapi konsisten bekerja. Dalam diamnya, ada keteguhan. Dalam langkahnya, ada arah yang jelas.

Prinsip hidupnya terangkum dalam satu motto: Realistis dan Filosofis. Realistis dalam membaca keadaan, dan filosofis dalam mengambil keputusan. Setiap langkah dipertimbangkan matang, tidak reaktif, dan berorientasi pada hasil jangka panjang.

Dalam dunia yang seringkali mengedepankan pencitraan, Refi justru memilih jalan sunyi: bekerja tanpa banyak sorotan. Ia percaya bahwa hasil akan berbicara lebih lantang daripada narasi.

Jejak pengabdiannya menjadi bukti. Dari IPNU, Ansor, ISNU, hingga MPD—semuanya bukan sekadar jabatan, tetapi ruang untuk memberi makna.

Bagi generasi muda Nahdliyin, sosok Refi adalah pengingat bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil. Bahwa kesuksesan bukan tentang seberapa cepat naik, tetapi seberapa kuat bertahan dan seberapa besar kontribusi yang diberikan.

Dari Pulo Belen hingga panggung pengabdian di Kota Subulussalam, perjalanan itu masih terus berlangsung. Dan seperti yang ia yakini, kerja-kerja sunyi yang dilakukan dengan kesungguhan akan selalu menemukan jalannya—menjadi cahaya, meski tak selalu terlihat, namun terasa manfaatnya bagi banyak orang.