ACEH, Umum  

Sosok Sahabat Refi Syahputra: Menapaki Tangga Pengabdian dari IPNU, Ansor, ISNU hingga Mengemban Amanah di MPD

Lensapost. net| Subulussalam—Riuh tepuk tangan kader IPNU Kota Subulussalam pecah ketika satu nama dipanggil ke depan forum Kompercab I. Bukan tokoh yang gemar tampil di panggung, bukan pula sosok yang sering menghiasi ruang-ruang publik dengan retorika panjang.

Ia melangkah tenang, menyapa seperlunya, lalu berdiri di podium dengan sikap yang sederhana namun tegas. Dialah Refi Syahputra—seorang kader Nahdliyin yang meniti tangga pengabdian bukan dengan loncatan, tetapi dengan kesabaran proses yang panjang.

Di hadapan para pelajar NU, ia berbicara tentang “Keorganisasian”. Namun, yang mengalir bukan sekadar teori. Ia menyampaikan sesuatu yang lebih dalam: pengalaman hidup. Perjalanan yang ditempa sejak masa muda, diuji dalam dinamika organisasi, hingga kini mengantarkannya pada posisi strategis sebagai Ketua Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kota Subulussalam.

Nama Refi mungkin tidak selalu muncul di ruang-ruang viral. Namun bagi kalangan Nahdliyin, khususnya di Subulussalam, jejaknya terasa nyata—dalam gerak organisasi, dalam program pendidikan, dan dalam kerja-kerja sunyi yang perlahan membuahkan hasil.


Ditempa dari Akar: Santri, IPNU, dan Lahirnya Spirit Organisasi

Setiap perjalanan besar selalu memiliki titik mula. Bagi Refi Syahputra, titik itu dimulai sejak masa santri. Lingkungan dayah membentuk karakter dasar: disiplin, kesabaran, dan adab dalam menuntut ilmu.

Sebagai alumni Pondok Pesantren Darul Muta’allimin (PPDM) Tanah Merah, Aceh Singkil, ia tidak berhenti pada status alumni. Pada tahun 2025, Refi menjadi salah satu penggagas dan pelopor bangkitnya kembali organisasi alumni yang sempat vakum melalui Musyawarah Besar (Mubes). Dari momentum itu lahirlah Ikatan Alumni Pesantren Darul Muta’allimin (IKAPDM) sebagai wadah silaturahmi dan konsolidasi alumni.

Dalam lintasan IPNU, Refi juga pernah dipercaya secara organisatoris. Meski tidak sempat terbit SK dan dilantik secara formal, proses yang dijalaninya tetap menjadi bagian penting dalam membentuk pemahaman awal tentang organisasi. Ia belajar bahwa pengabdian tidak selalu bergantung pada legitimasi formal, tetapi pada kesungguhan dalam berproses.

IPNU baginya adalah fondasi—tempat ia mengenal arti kebersamaan, tanggung jawab, dan pentingnya kerja kolektif.


Diuji di Ansor: Tempaan Loyalitas dan Keteguhan

Jika IPNU adalah fondasi, maka GP Ansor adalah ruang tempaan. Dalam rentang waktu 2020 hingga 2024, Refi aktif di GP Ansor Kota Subulussalam dan terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi, sosial, dan keagamaan.

Di fase inilah ia benar-benar diuji. Ansor dengan karakter militansinya menuntut loyalitas, disiplin, dan kesiapan menghadapi dinamika organisasi yang tidak sederhana. Berbagai tantangan—baik internal maupun eksternal—menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Namun justru dari situlah Refi tumbuh. Ia belajar mengelola perbedaan, menjaga komunikasi, dan tetap berdiri teguh pada prinsip. Baginya, loyalitas bukan sekadar slogan, tetapi dibuktikan dengan kerja nyata.

Pengalaman di Ansor membentuk karakter kepemimpinan yang matang: tenang dalam menghadapi persoalan, tidak reaktif, tetapi tegas dalam sikap. Sebuah karakter yang menjadi bekal penting dalam peran-peran berikutnya.


Mengabdi dan Memimpin: ISNU, Dunia Akademik, hingga MPD

Memasuki fase berikutnya, Refi tidak hanya bergerak sebagai aktivis, tetapi juga sebagai intelektual dan akademisi. Ia dipercaya memimpin PC ISNU Kota Subulussalam periode 2025–2029.

Di bawah kepemimpinannya, ISNU diarahkan tidak hanya sebagai ruang diskusi, tetapi juga sebagai motor penggerak gagasan dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Sejalan dengan itu, kiprah akademiknya juga terus berkembang. Ia memulai karier sebagai asisten dosen di STIT Hamzah Fansuri (STIT Hafas) sejak tahun 2016, kemudian menjadi dosen tetap dari 2019 hingga 2024. Pengalaman ini membentuk fondasi keilmuan dan pengabdiannya di dunia pendidikan.

Sejak 2025 hingga sekarang, Refi melanjutkan pengabdiannya sebagai dosen di STAI Janatul Firdaus. Tidak hanya itu, ia juga dipercaya mengemban jabatan struktural sebagai Wakil Ketua I (Waka I), yang mempertegas kapasitasnya dalam kepemimpinan akademik.

Puncak dari perjalanan ini adalah amanah sebagai Ketua Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kota Subulussalam periode 2025–2030. Di posisi ini, ia berperan dalam merumuskan arah kebijakan pendidikan daerah.

Salah satu terobosan penting yang dilakukan adalah penguatan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Pendidikan Perguruan Tinggi. Program ini diperluas dari kampus swasta ke perguruan tinggi negeri, serta menjangkau jurusan yang lebih variatif, termasuk bidang kesehatan dan vokasi seperti politeknik keteknikan.

Langkah ini membuka akses lebih luas bagi generasi muda Subulussalam untuk memperoleh pendidikan tinggi yang relevan dengan kebutuhan zaman. Tentu saja, capaian ini bukan hasil instan, melainkan melalui proses panjang—komunikasi, diplomasi, dan kerja sama lintas lembaga.

Refi juga dikenal sebagai sosok yang tidak hanya bekerja di balik meja. Ia turun langsung ke sekolah-sekolah, berdialog dengan guru dan siswa, serta melihat kondisi nyata di lapangan.

Dalam setiap langkahnya, ia memegang prinsip: Realistis dan Filosofis—membaca realitas secara jernih dan mengambil keputusan dengan pertimbangan matang.


Perjalanan Refi Syahputra adalah potret tentang kesetiaan pada proses. Dari santri, IPNU, Ansor, ISNU, hingga MPD, semuanya dilalui dengan satu benang merah: pengabdian.

Ia tidak banyak bercerita, tetapi jejaknya nyata. Dalam dunia yang sering riuh oleh pencitraan, ia memilih jalan sunyi—bekerja, memberi, dan membangun.

Bagi generasi muda Nahdliyin, kisah ini menjadi pengingat bahwa tidak ada jalan instan dalam pengabdian. Semua harus ditapaki, dijalani, dan dimaknai.

Dari Pulo Belen hingga ruang kebijakan pendidikan, Refi Syahputra telah menunjukkan bahwa kaderisasi yang kuat akan melahirkan kepemimpinan yang kokoh—jejak perjuangan yang tidak hanya layak ditulis, tetapi juga diteladani.

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwammith Thariq.