LENSAPOST.NET — Ketua Majelis Pengurus Wilayah Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (MPW ICMI) Aceh, Dr Taqwaddin, mengajak para cendekiawan Muslim tidak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, tetapi juga mengedepankan kesantunan, keteladanan dan kerja nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hal itu disampaikan Taqwaddin dalam sambutannya pada pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) VIII ICMI Aceh di Hotel Azana Oasis Banda Aceh, Sabtu (12/9/2026).
“Cendekiawan adalah orang-orang cerdas yang santun,” kata Taqwaddin.
Menurutnya, kecendekiawanan tidak cukup diukur dari gelar akademik atau kemampuan menyampaikan gagasan. Seorang cendekiawan harus mampu menerjemahkan ilmu dan pemikirannya menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Karena itu, ia mengajak para cendekiawan Muslim Aceh ikut bekerja mewujudkan Aceh yang mulia dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Mengingat Sejarah Aceh
Dalam sambutannya, Taqwaddin juga mengangkat sejarah panjang Aceh dalam hubungan internasional. Ia mengingatkan bahwa Kesultanan Aceh pernah menjadi salah satu kekuatan politik dan intelektual penting di Asia Tenggara.
Menurut Taqwaddin, sejarah tersebut semestinya menjadi energi bagi generasi sekarang untuk membangun Aceh, bukan sekadar menjadi kebanggaan masa lalu.
“Kerajaan Aceh lebih tua dari Kerajaan Belanda. Aceh adalah kerajaan pertama yang mengakui kemerdekaan Belanda pada 1603,” ujarnya.
Ia juga menceritakan pernah ada seorang profesor berkebangsaan Belanda yang menyampaikan permintaan maaf terkait sejarah perang dan penjajahan Belanda terhadap Aceh melalui Ketua ICMI Aceh.
“Ada seorang profesor berkebangsaan Belanda meminta maaf melalui Ketua ICMI Aceh. Beliau mengatakan, seharusnya Belanda tidak berperang dengan Aceh,” ungkapnya.
Taqwaddin mengatakan perjalanan sejarah tersebut harus menjadi bahan pembelajaran bagi generasi sekarang. Aceh, menurutnya, memiliki pengalaman panjang dalam membangun kemandirian dan menghadapi perubahan politik global.
Hubungan Aceh dan Belanda sendiri kemudian berkembang menjadi konflik panjang. Perang Aceh melawan Belanda pecah pada 1873 dan berlangsung selama beberapa dekade.
Dorong Ketahanan Pangan
Dari sejarah tersebut, Taqwaddin kemudian mengaitkannya dengan persoalan Aceh saat ini, khususnya ketahanan pangan.
Ia mengingatkan bahwa pada masa lalu, keberadaan lumbung padi di rumah menjadi salah satu simbol kesejahteraan keluarga Aceh.
“Dulu salah satu simbol kemuliaan dan kesejahteraan adalah lumbung padi di rumah,” katanya.
Menurutnya, lumbung padi mencerminkan keluarga yang memiliki persediaan pangan dan tidak mudah bergantung kepada pihak lain.
Karena itu, ketahanan pangan harus menjadi salah satu agenda penting yang diperjuangkan ICMI Aceh.
“Cendekiawan Muslim Aceh diharap bekerja untuk membantu terwujudnya Aceh mulia dan membangun kesejahteraan masyarakat Aceh,” ujarnya.
Ia menilai ketahanan pangan tidak semata-mata berkaitan dengan sektor pertanian, tetapi juga menyangkut kemandirian ekonomi, kesejahteraan dan martabat daerah.
Para cendekiawan, kata dia, harus mampu membaca persoalan tersebut dan menawarkan gagasan yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.
Taqwaddin Kembali Maju
Taqwaddin juga menjelaskan bahwa kepemimpinan di ICMI berbeda dengan kepemimpinan kepala daerah.
“Kepemimpinan di ICMI berbeda dengan kepala daerah, baik otoritas, peran maupun fungsi kelembagaannya,” ujarnya.
Menurutnya, kepemimpinan organisasi cendekiawan lebih bertumpu pada gagasan, keteladanan, komunikasi dan kemampuan membangun kerja bersama.
Ia kemudian mengungkap perjalanan kepemimpinan ICMI Aceh pada periode sebelumnya. Menurutnya, dinamika organisasi ketika itu sempat membuat roda organisasi seperti kehilangan napas.
“ICMI Aceh dalam periode lalu pernah sempat seperti kehilangan napas karena kondisi yang berkembang saat itu,” katanya.
Atas kesepakatan Dewan Penasihat, Dewan Pakar dan Pengurus Harian, kemudian disepakati penunjukan dirinya sebagai Ketua MPW ICMI Aceh melalui mekanisme pergantian antarwaktu (PAW).
Kini, dalam Musywil VIII, Taqwaddin menyatakan kembali mencalonkan diri sebagai Ketua MPW ICMI Aceh.
“Untuk kelangsungan roda kepemimpinan organisasi, saya mencalonkan diri untuk dipilih dalam Muswil ini,” ujarnya.
Ia berharap proses pemilihan berlangsung dalam suasana persaudaraan dan kesantunan serta tetap mengutamakan kepentingan organisasi dan kemajuan Aceh.
Musywil VIII ICMI Aceh diharapkan menjadi momentum konsolidasi para cendekiawan Muslim untuk merumuskan agenda organisasi ke depan, terutama dalam memperkuat kemandirian ekonomi umat, ketahanan pangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian, ICMI diharapkan tidak hanya menjadi rumah bagi kaum intelektual Muslim, tetapi juga kekuatan gagasan yang ikut bekerja menghadirkan perubahan nyata bagi Aceh.












