Ketika Program Negara Menyentuh Akar Rumput

Hamparan kebun timun yang tumbuh subur, menjadi sumber harapan bagi para petani.

LENSAPOST.NET – Aceh Barat Daya, daerah yang dikenal dengan julukan Nanggroe Sigupai, menyimpan potensi sumber daya alam yang melimpah, khususnya di sektor pertanian.

Letaknya yang strategis di jalur nasional lintasan Meulaboh–Tapak Tuan menjadi nilai tambah tersendiri. Akses yang mudah membuat masyarakat di Desa Lhang, Kecamatan Setia, Kabupaten Aceh Barat Daya, menjadikan sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi.

Lebih dari itu, ketika program negara benar-benar hadir dan menyentuh hingga ke akar rumput, harapan baru pun mulai tumbuh.

Komoditas padi masih mendominasi di wilayah ini. Namun, sebagian petani mulai melirik tanaman hortikultura, salah satunya timun. Masa panen yang relatif cepat serta kebutuhan modal yang tidak besar menjadikan komoditas ini cukup diminati. Ditambah lagi, kondisi lahan yang subur membuat budidaya timun semakin menjanjikan.

Hal inilah yang mendorong Suhendra (33), salah satu petani setempat, untuk menanam timun.

Di balik potensi tersebut, petani masih dihadapkan pada persoalan klasik, seperti fluktuasi harga, keterbatasan akses pasar, hingga minimnya dukungan sarana produksi.

“Selama ini tanaman kami tumbuh baik, hasil panen juga melimpah. Masalahnya ada di harga. Saat panen, timun kami sering dibeli murah, bahkan pernah hanya Rp2.000 per kilogram,” ujar Suhendra.

Kondisi tersebut membuat sebagian petani sulit berkembang, bahkan tak sedikit yang mulai kehilangan harapan terhadap masa depan usaha tani mereka.

Namun, hadirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah menjadi angin segar bagi masyarakat desa, khususnya petani timun. Program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang baru dalam rantai distribusi pangan lokal.

Desa Lhang menjadi salah satu contoh bagaimana kebijakan negara mampu memberi dampak nyata hingga ke tingkat bawah.

“Sejak ada program MBG, timun kami mulai dicari langsung ke kebun. Harga juga naik dan sangat membantu meningkatkan ekonomi petani,” kata Suhendra.

Permintaan timun sebagai pelengkap menu bergizi terus meningkat. Petani yang sebelumnya kesulitan menjual hasil panen, kini mulai memiliki pasar yang lebih pasti.

“Masa panen timun cepat, dalam seminggu bisa dua kali petik. Alhamdulillah, kami rutin memasok dua sampai tiga kali seminggu ke dapur MBG di Suak Carong. Memang baru satu dapur, tapi kami berharap ke depan makin banyak yang menyerap hasil panen kami,” lanjutnya.

Kepastian pasar ini memberikan rasa aman sekaligus motivasi bagi petani untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil tani.

Meski demikian, keberhasilan program tidak bisa hanya dilihat dari sisi hilir. Penguatan sektor hulu tetap menjadi hal penting, seperti penyediaan bibit unggul, pelatihan teknis, kemudahan akses pupuk, hingga dukungan permodalan.

Tanpa itu, peningkatan permintaan justru bisa menjadi tekanan bagi petani yang belum siap secara kapasitas.

“Kami berharap pemerintah daerah bisa membantu bibit unggul, mempermudah akses pupuk, dan memperbaiki irigasi. Intinya, kami ingin pemerintah benar-benar menjadi pendorong kemajuan petani,” tegas Suhendra.

Di sisi lain, program ini juga membuka ruang kolaborasi antara pemerintah daerah, kelompok tani, dan berbagai pihak terkait. Jika dikelola dengan baik, Desa Lhang tidak hanya menjadi pemasok bahan pangan, tetapi juga berpotensi berkembang menjadi model desa mandiri pangan yang berkelanjutan.

Anggota DPRK Aceh Barat Daya, Dedi Saputra, mendorong dinas terkait untuk segera memetakan sentra produksi pertanian.

“Hadirnya program MBG membuat permintaan bahan baku seperti sayuran meningkat. Kita dorong pemerintah untuk membuat kebijakan dan memetakan sentra produksi guna mendukung kebutuhan dapur MBG dan masyarakat umum,” ujarnya.

Ia menambahkan, program dari pemerintah pusat ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

“Kita sangat yakin program ini bisa menjadi titik awal kebangkitan ekonomi petani,” tambahnya.

Optimisme tersebut menjadi modal sosial penting dalam pembangunan daerah. Program Makan Bergizi Gratis pada akhirnya bukan hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga tentang menghidupkan kembali harapan.

Desa Lhang menjadi bukti bahwa ketika program negara hadir dan berpihak, perubahan bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.