LENSAPOST.NET – Polri mengerahkan 10 anjing pelacak (K9) SAR berpengalaman ke Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk memperkuat operasi pencarian korban pascagempa bumi.
Kesepuluh K9 dari Direktorat Polisi Satwa (Ditpolsatwa) Korsabhara Baharkam Polri diterbangkan menggunakan pesawat khusus CN-295 Polri P-4501 dengan rute Pondok Cabe–Labuan Bajo, Minggu (16/8/2026).
Selain 10 K9, sebanyak 21 personel Ditpolsatwa turut diberangkatkan untuk mendukung operasional di lapangan. Tim dipimpin Iptu Erasmus selaku Katim K9, didukung Ipda drh. Linda dan Aipda Triyo sebagai tenaga veteriner, serta para handler dan personel pelindung.
Sepuluh K9 yang diterjunkan terdiri dari Walet, Ari, Rubin, Dasa, Gyra, Sita, Koni, Kyara, Gejlon, dan Gizi. Mereka memiliki kemampuan Canine Search and Rescue (CSAR) untuk membantu menemukan korban, termasuk mendeteksi aroma tubuh manusia yang telah meninggal dunia.
Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan dalam kondisi ketika korban tertimbun reruntuhan, tertutup material, maupun berada di lokasi yang sulit ditemukan secara visual.
Berpengalaman di Lokasi Bencana
Pengerahan K9 ke Flores diperkuat pengalaman Ditpolsatwa dalam operasi pencarian korban bencana di Sumatera Utara pada Desember 2025.
Saat itu, empat K9, yakni Walet, Ari, Rubin, dan Dasa, dikerahkan untuk menyisir bantaran sungai serta lokasi yang diduga menjadi tempat korban tertimbun material maupun hanyut terbawa arus.
Dalam operasi tersebut, K9 memberikan indikasi pada sejumlah titik penting yang kemudian ditindaklanjuti tim gabungan hingga ditemukan korban.
Pengalaman itu menjadi bekal bagi tim dalam menjalankan misi kemanusiaan di Flores. K9 bekerja sebagai bagian dari tim SAR yang didukung handler, tenaga veteriner, personel pelindung, serta unsur terkait lainnya.
Dibagi Tiga Regu
Setelah apel pelepasan yang dipimpin Dirpolsatwa, tim melakukan loading perlengkapan dan dibagi menjadi tiga regu untuk melaksanakan tugas bantuan kendali operasi (BKO) di wilayah hukum Polda NTT.
Sejumlah wilayah yang menjadi perhatian awal adalah Kabupaten Sikka, Manggarai, dan Manggarai Timur. Namun, personel dan K9 dapat digeser ke wilayah lain sesuai perkembangan situasi serta kebutuhan pencarian di lapangan.
Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan kecepatan menjadi salah satu prioritas dalam penanganan bencana.
“Kecepatan merupakan salah satu hal yang paling utama. Pagi ini kami kembali memberangkatkan tim tersebut. Nantinya pembagian tugas akan dilakukan melalui koordinasi dan komunikasi dengan Polda NTT,” ujar Trunoyudo.
Ia menegaskan Polri memahami kebutuhan masyarakat terdampak terhadap proses pencarian dan penyelamatan korban.
“Kami memahami betul dan sama-sama berempati bahwa proses pencarian sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita di sana. Yang paling utama adalah bagaimana Polri dapat memberikan evakuasi dan penyelamatan bagi korban yang masih selamat,” katanya.
Bawa 3,4 Ton Logistik
Pesawat CN-295 P-4501 tidak hanya membawa K9 dan personel. Pesawat tersebut juga mengangkut 10 kennel box K9, empat box perlengkapan tim dan pakan K9, serta berbagai bantuan logistik.
Total muatan mencapai sekitar 3.411 kilogram atau 3,4 ton. Di dalamnya terdapat 45 dus makanan siap saji, 10 unit Wontech, 409 kilogram obat-obatan bantuan, 60 kilogram banner dan stiker, serta perlengkapan pendukung lainnya.
Setibanya di Labuan Bajo, tim akan berkoordinasi dengan Polda NTT untuk menentukan lokasi penugasan dan prioritas pencarian.
Pengerahan K9 menggunakan pesawat khusus menjadi bagian dari langkah percepatan Polri agar kemampuan pencarian, personel pendukung, dan perlengkapan dapat segera digunakan di wilayah terdampak.
10 K9 berpengalaman, 21 personel pendamping, dan 3,4 ton dukungan logistik dikerahkan dalam satu misi: mempercepat pencarian korban serta membantu masyarakat Flores yang terdampak gempa.












