LENSAPOST.NET — Direktur Utama PT Pembangunan Aceh (PEMA) Perseroda, Faisal Ilyas SE MM, meraih penghargaan SMSI Aceh Award 2026 kategori “Tokoh Muda Inspiratif”.
Penghargaan tersebut diberikan dalam Malam Anugerah SMSI Aceh Award 2026 yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Aceh di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh, Sabtu malam (5/9/2026).
Faisal menjadi salah satu dari 20 tokoh dan institusi yang menerima penghargaan. Para penerima berasal dari berbagai bidang, antara lain pemerintahan, legislatif, penegakan hukum, dunia usaha, perbankan, energi, sosial, lingkungan hingga kemanusiaan.
Penghargaan tersebut diberikan pada momentum penting dalam perjalanan karier Faisal, setelah dirinya dipercaya memimpin salah satu perusahaan strategis milik Pemerintah Aceh.
Faisal resmi menjabat Direktur Utama PT PEMA setelah serah terima jabatan dengan Mawardi Nur pada 10 Agustus 2026.
Posisi tersebut menempatkan Faisal pada salah satu simpul strategis pengelolaan bisnis daerah. Sebagai Badan Usaha Milik Aceh, PEMA memiliki mandat untuk mengoptimalkan potensi daerah sekaligus memberikan kontribusi terhadap perekonomian dan Pendapatan Asli Aceh.
Dinilai Mewakili Generasi Muda Aceh
Penghargaan “Tokoh Muda Inspiratif” kepada Faisal tidak semata-mata berkaitan dengan posisinya sebagai pimpinan perusahaan daerah.
Perjalanan profesional Faisal melintasi sejumlah sektor, mulai dari manajemen, ekonomi kreatif, kewirausahaan, penyiaran hingga pengembangan bisnis.
Faisal menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang dan Magister Manajemen di Universitas Syiah Kuala. Saat ini, ia juga sedang menempuh pendidikan doktoral Ilmu Manajemen di Universitas Syiah Kuala.
Sebelum dipercaya menjadi Direktur Utama, Faisal menjabat Direktur Komersial PT PEMA sejak 2024.
Ia juga memiliki pengalaman dalam pengembangan ekonomi kreatif, perfilman, intellectual property, inkubasi bisnis serta pembangunan ekosistem ekonomi kreatif.
Faisal pernah menjadi Staf Divisi Pendidikan pada Tsunami & Disaster Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, Direktur PT Banda Malaka Utama, serta tenaga ahli penyusunan Peta Jalan Ekonomi Kreatif Provinsi Aceh di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Ia juga pernah dipercaya sebagai Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Aceh periode 2021–2024.
Beragam pengalaman tersebut membuat perjalanan profesional Faisal tidak hanya bertumpu pada sektor birokrasi maupun korporasi.
Kini, pengalaman lintas sektor itu menjadi modal yang harus dibuktikan dalam memimpin PT PEMA.
Tantangan Besar di PEMA
PT PEMA memiliki tiga pilar bisnis utama, yakni migas, agroindustri serta jasa dan perdagangan. Seluruh saham perusahaan dimiliki Pemerintah Aceh.
Tantangan yang dihadapi pun tidak ringan. PEMA bukan hanya dituntut menghasilkan keuntungan perusahaan, tetapi juga diharapkan menjadi instrumen pemerintah daerah dalam menggerakkan perekonomian, membuka investasi, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan penerimaan daerah.
Pergantian kepemimpinan pada 10 Agustus 2026 menjadi momentum bagi PEMA untuk memperkuat kinerja sekaligus mengembangkan bisnis strategis Aceh.
Salah satu sektor yang terus dikembangkan adalah kawasan industri melalui Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong. Kawasan tersebut diarahkan menjadi pusat pertumbuhan industri dan hilirisasi komoditas unggulan daerah.
Sejumlah aktivitas industri telah dikembangkan oleh tenant, termasuk pembangunan fasilitas produksi baja ringan di atas lahan sekitar lima hektare dengan kapasitas produksi hingga 2.000 ton per bulan.
Selain itu, terdapat pengembangan fasilitas produksi garam industri dan gudang penyimpanan.
Jika berkembang secara optimal, kawasan industri tersebut berpotensi menciptakan efek berantai terhadap ekonomi Aceh melalui investasi, penyerapan tenaga kerja serta pertumbuhan usaha pendukung.
Penghargaan Sekaligus Tantangan
Predikat “Tokoh Muda Inspiratif” membawa ekspektasi baru terhadap Faisal.
Penghargaan tidak boleh berhenti pada seremoni dan piagam. Justru setelah penghargaan diterima, ukuran keberhasilan akan semakin ditentukan oleh kinerja nyata.
Publik tentu akan menunggu apakah kepemimpinan Faisal mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan bisnis, peningkatan pendapatan perusahaan, perluasan investasi dan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat Aceh.
Apalagi PEMA merupakan perusahaan yang seluruh sahamnya dimiliki Pemerintah Aceh. Karena itu, kinerja perusahaan pada akhirnya tidak hanya menjadi urusan korporasi, tetapi juga berkaitan dengan kepentingan publik.
Profesionalisme dan tata kelola menjadi bagian penting dalam menjalankan perusahaan daerah.
PEMA sendiri membawa visi menjadi perusahaan daerah yang profesional, inovatif dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Aceh.
Misinya antara lain mengelola sumber daya daerah secara optimal, mendorong pertumbuhan ekonomi serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan Aceh melalui pengelolaan bisnis yang profesional dan berintegritas.
Dalam konteks tersebut, penghargaan SMSI Aceh Award 2026 dapat dibaca sebagai apresiasi sekaligus tantangan bagi Faisal.
Apresiasi karena seorang profesional muda Aceh dipercaya memimpin perusahaan strategis daerah. Tantangan karena masyarakat menunggu kemampuan kepemimpinan baru dalam mengubah potensi daerah menjadi sumber pendapatan yang nyata dan berkelanjutan.
Menariknya, penghargaan SMSI Aceh Award 2026 bukan satu-satunya apresiasi yang diterima Faisal dalam waktu berdekatan.
Pada 29 Agustus 2026, ia juga menerima Serambi Award 2026 kategori “New Economic Growth Driver for Aceh”sebagai Direktur Utama PT PEMA.
Dua penghargaan tersebut membuat nama Faisal semakin mendapat perhatian publik. Namun, tantangan terbesar justru dimulai setelah penghargaan diterima.
Sebab, ukuran keberhasilan seorang pimpinan perusahaan daerah bukan seberapa banyak penghargaan yang diperoleh, melainkan seberapa besar perubahan nyata yang dapat dirasakan masyarakat.
Menunggu Pembuktian
Aceh memiliki potensi besar di sektor energi, agroindustri, perdagangan, kawasan industri hingga ekonomi kreatif. Seluruh potensi tersebut membutuhkan pengelolaan yang profesional dan berorientasi jangka panjang.
Dalam konteks itu, latar belakang Faisal yang memadukan manajemen, ekonomi kreatif, kewirausahaan, penyiaran dan pengembangan bisnis menjadi modal yang menarik untuk diuji di perusahaan daerah.
Ketua Umum SMSI Pusat Firdaus menyebut penerima SMSI Award ditetapkan melalui proses seleksi dengan mempertimbangkan rekam jejak dan kontribusi terhadap masyarakat.
Ketua SMSI Aceh Aldin NL juga menegaskan penghargaan tersebut diharapkan mendorong para penerima untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan kontribusinya.
Dengan demikian, predikat Tokoh Muda Inspiratif yang disematkan kepada Faisal Ilyas bukan sekadar penghargaan atas perjalanan masa lalu.
Penghargaan tersebut sekaligus menjadi pertaruhan untuk masa depan.
Di tengah kebutuhan Aceh memperkuat ekonomi daerah dan mengurangi ketergantungan terhadap anggaran pemerintah, publik kini menanti apakah generasi muda seperti Faisal mampu membuktikan bahwa perusahaan daerah dapat dikelola secara modern, profesional, transparan dan menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Penghargaan telah diterima. Tantangan sesungguhnya baru dimulai.












