LENSAPOST.NET – Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) genap berusia 24 tahun pada 8 Juni 2026. Sejak berdiri pada 2002, BSMI konsisten mengabdikan diri dalam pelayanan kesehatan, penanggulangan bencana, dan misi kemanusiaan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional BSMI, Muhammad Djazuli Ambari, menegaskan bahwa perjalanan panjang organisasi ini merupakan bukti komitmen relawan dan tenaga kesehatan dalam melayani kemanusiaan tanpa diskriminasi.
“Selama 24 tahun, BSMI berupaya hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan. Dari berbagai bencana di Indonesia hingga krisis kemanusiaan global, kami terus menjalankan amanah ini secara profesional dan berkelanjutan,” ujarnya.
Saat ini, BSMI memiliki jaringan di 24 provinsi dan 155 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Jaringan ini menjadi kekuatan utama dalam mempercepat respons kemanusiaan, pelayanan kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat hingga ke daerah-daerah.
Di dalam negeri, BSMI aktif dalam penanganan berbagai bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, erupsi gunung api, hingga krisis kesehatan masyarakat. Selain tanggap darurat, BSMI juga menjalankan program rehabilitasi, layanan kesehatan, edukasi kebencanaan, dan pemberdayaan komunitas. Dalam bidang pendidikan, BSMI menerbitkan jurnal kemanusiaan Indonesian Red Crescent Humanitarian Journal (ICONHUM).
Peran aktif jaringan daerah terlihat dari kiprah BSMI Provinsi Aceh di bawah kepemimpinan Tedy Kurniawan Bakri. Dalam penanganan banjir besar di Aceh pada akhir 2025 hingga awal 2026, relawan BSMI diterjunkan ke berbagai wilayah terdampak seperti Aceh Tamiang, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, dan Aceh Timur.
Sebagai bagian dari pemulihan, BSMI mendirikan Klinik BSMI di Aceh Tamiang yang hingga kini terus memberikan layanan kesehatan. Selain itu, berbagai program seperti pengobatan gratis, sunatan massal, dan mobile clinic juga dilakukan untuk menjangkau masyarakat, termasuk di daerah terdampak bencana.
Relawan BSMI Aceh turut terlibat dalam pembersihan rumah warga pascabanjir serta menyalurkan program qurban pada Iduladha 1447 H di wilayah terdampak, khususnya Aceh Tamiang dan Bireuen, guna membantu percepatan pemulihan masyarakat.
Di tingkat internasional, BSMI telah berkiprah dalam berbagai misi kemanusiaan di negara terdampak konflik dan bencana. Di antaranya misi di Gaza, Palestina, termasuk pengiriman Emergency Medical Team (EMT) Indonesia yang diperkuat 14 dokter spesialis.
Selain Palestina, BSMI juga terlibat dalam respons kemanusiaan di Turki, Bangladesh, Myanmar, Filipina, Nepal, hingga dukungan bagi korban gempa di Myanmar. BSMI juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa asal Palestina melalui kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Menurut Djazuli, pengalaman panjang tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks, termasuk dampak perubahan iklim dan krisis global.
“BSMI akan terus memperkuat kapasitas relawan, tenaga medis, sistem respons darurat, dan jejaring kemanusiaan agar pelayanan semakin cepat, tepat, dan profesional,” katanya.
Memasuki usia ke-24, BSMI mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial sebagai fondasi masyarakat yang tangguh dan berkeadaban.
“Milad ini menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen kami. BSMI akan terus hadir melayani kemanusiaan, menguatkan harapan, dan membawa semangat kemanusiaan Indonesia untuk dunia,” pungkasnya.












