LENSAPOST.NET – Fazriansyah Bupati LSM LIRA Indonesia desak Polda Aceh tangkap pelaku pemasangan spanduk provokatif di Banda Aceh terhadap ketua DPD I Golkar Aceh HM. Salim Fahkri serta mendesak pengusutan aktor intelektual dibaliknya
Lembaga Swadaya Masyarakat LSM LIRA Indonesia Kabupaten Aceh Tenggara mengecam keras pemasangan spanduk bernada provokatif yang menargetkan Ketua DPD I Partai Golkar Aceh sekaligus Bupati Aceh Tenggara, H. M. Salim Fakhry. Aksi tersebut dinilai sebagai bentuk kejahatan serius terhadap etika publik, hukum, dan prinsip demokrasi.
Spanduk yang memuat narasi bernada kebencian ditemukan terpasang di titik-titik strategis di Banda Aceh. Pemasangan diduga dilakukan secara sistematis pada malam hari oleh pihak tak dikenal. Konten yang disampaikan tidak hanya berupa kritik, tetapi juga mencakup tudingan tanpa dasar, serangan personal, serta narasi yang berpotensi memicu konflik sosial.
Bupati LSM LIRA Indonesia fazriansyah, menegaskan bahwa insiden ini melampaui batas kebebasan berekspresi.
“Ini bukan kritik konstruktif, melainkan serangan yang dirancang untuk merusak reputasi. Praktik seperti ini mencederai ruang publik dan harus diproses secara hukum,” ungkapnya, Rabu 22 April 2026.
Pola pemasangan yang terorganisir menunjukkan adanya perencanaan matang. Penegak hukum tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan, tetapi harus mengungkap pihak yang berada di balik layar.
“Penegakan hukum harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk melalui penelusuran rekaman CCTV, identifikasi pelaku, serta pengungkapan jaringan yang terlibat. Publik menunggu langkah tegas aparat,” tegasnya.
LSM LIRA Indonesia menegaskan bahwa kebebasan berekspresi tidak dapat dijadikan legitimasi untuk menyebarkan kebencian atau melakukan serangan terhadap individu. Kritik, menurut mereka, harus disampaikan secara terbuka, berbasis fakta, dan menjunjung tinggi etika publik.
Fazriansyah menjelaskan bahwasanya ketua DPD I Golkar Aceh tidak anti kritik. Ketua DPD I Golkar Aceh Muhammad Salim Fakhry, yang juga menjabat sebagai Bupati Aceh Tenggara periode 2025–2030 tidak anti kritik memang sejalan dengan sikap yang sering ditunjukkan Salim Fakhry.
“Saat masih jadi anggota DPR RI Komisi IV dan sekarang sebagai Bupati, beliau beberapa kali menegaskan terbuka terhadap masukan dan kritik dari masyarakat Aceh Tenggara,” imbuh Fazriansyah. []












