NEWS  

PT. PAAL Bantah Telah Jebak Warga Suak Pante Breuh Dengan Pinjaman Rp200 Setiap Bulan

Ratusan masyarakat Desa Suak Pante Breuh, Kecamatan Samatiga melakukan aksi pemblokiran jalan menuju PT.PAAL.

LENSAPOST.NET– PT. Prima Aceh Agro Lestari (PAAL) membantah tudingan masyarakat Desa Suak Pante Breuh, Kecamatan Samatiga yang mengatakan pihaknya menjebak petani plasma dengan pinjaman Rp 200 ribu per kartu keluarga (KK).

Humas PT. PAAL, Yunita mengatakan, sesuai dengan arahan dari keuchik dan aparatur Desa Suak Pante Breuh sejak 5 Februari lalu hingga saat ini sudah tidak ada aktivitas di lahan Afdeling satu perusahaan tersebut.

“Perusahaan komitmen untuk pembangunan kebun plasma sesuai MoU dengan pemerintah. Selama ini perusahaan telah mengganti rugi lahan di luar Hak Guna Usaha (HGU) untuk dijadikan kebun plasma,” kata Yunita, Kamis (8/2).

Mengenai tudingan bahwa PT. PAAL telah menjebak petani plasma dengan pinjaman Rp 200 ribu setiap bulan per KK sebut Yunita tidak benar kerana hal itu sudah sesuai dengan kesepakatan antara perusahaan dengan para petani plasma yang ada di wilayah tersebut.

“Bahkan penerima plasma pernah memohon kepada perusahaan pagar pinjaman dapat ditambahkan dari sebelumnya, jadi kami membantu jika selama ini perusahaan dianggap menjebak petani plasma dengan pinjaman Rp 200 ribu itu tidaklah benar,” katanya.

Yunita menjelaskan, untuk saat ini pihak perusahaan telah menyediakan kebun plasma bagi warga Desa Suak Pante Breuh seluas 69,77 hektar, yang mana lahan tersebut lokasinya berada di luar HGU perusahaan.

“Sementara mengenai lahan seluas 450 hektar yang dikatakan masyarakat adalah lahan yang berada di dalam HGU PT.PAAL. Perusahaan akan berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan akan meminta untuk dimediasi dalam menyelesaikan persoalan ini,” ujar Yunita.

Sebagai informasi, pada Selasa (6/2) lalu ratusan masyarakat dari Desa Suak Pante Breuh, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat melakukan aksi dengan memblokir jalan menuju PT. PAAL.

Aksi pemblokiran jalan tersebut dilakukan oleh masyarakat karena mereka menilai pihak perusahaan tidak menepati janjinya yaitu yaitu melakukan pembagian hasil sebesar 40 persen dari lahan plasma kepada masyarakat.

Padahal masyarakat telah memberikan lahan seluas 450 hektar untuk dipergunakan sebagai kebun plasma oleh PT. PAAL dengan perjanjian pembagian hasil 60 persen ke perusahaan dan 40 persen kepada masyarakat.

Masyarakat sekitar merasa dijebak oleh pihak perusahaan dengan memberikan pinjaman sebesar Rp 200 ribu setiap bulan per KK sementara untuk pembagian hasil dari plasma yang dijanjikan sejak 2007 hingga saat ini belum pernah diberikan.

Penulis: Saputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *