LENSAPOST.NET | BANDA ACEH — Perwakilan dayah mengikuti kegiatan penguatan kompetensi teungku dayah yang digelar Dinas Pendidikan Dayah Aceh di Grand Nanggroe Hotel, Banda Aceh, Selasa (28/4/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Silahuddin, M.Ag., Ketua Program Doktor Pendidikan Agama Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, sebagai pemateri. Ia menyampaikan materi tentang peluang dan tantangan peningkatan sumber daya manusia teungku dayah di tengah perkembangan zaman.
Dalam paparannya, Dr. Silahuddin mengatakan dayah saat ini berada dalam ruang perubahan yang cukup besar. Menurutnya, kemajuan teknologi informasi yang sangat cepat telah memengaruhi pola belajar, pola komunikasi, dan kebutuhan santri.
Karena itu, pendekatan pembelajaran di dayah tidak boleh berhenti pada pola lama. Ia menilai metode pembelajaran perlu terus diperbarui sesuai kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan kekhasan tradisi keilmuan dayah.
“Di sisi lain, santri hidup dalam lingkungan yang semakin akrab dengan teknologi digital. Karena itu, teungku dayah perlu memiliki literasi digital agar mampu memanfaatkan teknologi secara tepat tanpa menghilangkan nilai-nilai adab, takzim, dan tradisi keilmuan dayah,” ujarnya.
Menurut dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu, pembelajaran dayah tetap harus menjaga kekuatan tradisionalnya, terutama dalam kajian fikih mazhab Syafi’i, tauhid aliran Asy’ari, dan tasawuf al-Ghazali.
Namun, kata dia, pendekatan, metode, media, serta manajemen pendidikan perlu diperkuat agar proses belajar di dayah menjadi lebih bermakna, menyenangkan, dan efektif bagi santri.
Mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Besar itu juga menyoroti pentingnya kemampuan pedagogik bagi teungku dayah. Menurutnya, pendidik tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus mampu merancang pengalaman belajar yang bermakna.
“Pendidikan berkualitas dimulai dari guru berkualitas. Guru menjadi pemantik minat dan bakat siswa, membangun karakter dari keteladanan, serta merancang pengalaman belajar yang bermakna,” ulasnya.
Selain kompetensi pedagogik, Pengurus Majelis Pendidikan Daerah Aceh Besar itu berharap teungku dayah juga memiliki kompetensi sosial dan dakwah. Hal ini penting karena dayah tidak berdiri sendiri, melainkan berada di tengah masyarakat.
“Alumni dayah selama ini juga banyak berperan aktif dalam kehidupan sosial, bahkan mendirikan dayah-dayah baru sebagai bagian dari keberlanjutan tradisi keilmuan Islam di Aceh,” paparnya.
Dewan Pakar Pergunu Aceh itu juga menggarisbawahi pentingnya pola pikir bertumbuh bagi para pendidik. Teungku dayah, katanya, harus berani menghadapi tantangan, lebih sabar dan solutif saat santri mengalami kesulitan, serta mampu membangun suasana belajar yang nyaman.
Dengan pola pikir bertumbuh, pendidik diharapkan lebih kreatif, fleksibel, dan terus menyempurnakan diri dalam menjalankan tugas pendidikan di dayah.
Ia juga berharap kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam memperkuat mutu pendidikan dayah secara bertahap. Upaya tersebut meliputi pengembangan sumber daya manusia, penguatan kurikulum, perbaikan metode pembelajaran, peningkatan sarana dan prasarana, serta penguatan evaluasi pendidikan.
“Kegiatan penguatan SDM ini juga menjadi ruang refleksi bagi para pengelola dayah untuk melihat peluang dan tantangan secara lebih terbuka. Di tengah arus globalisasi, dayah memiliki peluang besar sebagai pusat akhlak dan agama, didukung oleh masyarakat dan pemerintah, serta memiliki jaringan alumni yang luas,” katanya.
Dr. Silahuddin menambahkan, peluang tersebut harus diiringi dengan kesiapan tenaga pendidik, fasilitas, kurikulum, dan tata kelola kelembagaan.
Dengan peningkatan kompetensi teungku dayah, ia berharap pendidikan dayah di Aceh terus berkembang tanpa kehilangan identitas keislaman dan kearifan lokal yang telah mengakar kuat dalam masyarakat.












