Haul Ke-2 Abu Lamkawe: Abi Jakfar Ungkap Kehebatan Abu Lamkawe, Orator Ulung yang Hafal Kitab dan Tawadhu

Abi Jakfar Lhok Nibong bersama Abati Muhammad Yusuf Pimpinan Dayah baldatul Mubarakah Al-Aziziyah yang merupakan putra Allayarham Abu Lamkawe

Lensapost. net I Pidie – Di tengah kedudukannya sebagai ulama dan pimpinan dayah, almarhum Tgk. H. Ishak Ahmad atau Abu Lamkawe tidak pernah meninggalkan kehidupan sederhana. Bahkan, sebuah sepeda motor yang membawa beberapa tumpukan rumput pakan ternak menjadi salah satu gambaran kerendahan hati ulama Aceh yang dikenal memiliki hafalan kuat terhadap kitab-kitab klasik tersebut dan ahli ilmu arudh (syair arab)

Kisah itu diungkapkan Abi Jakfar, Wakil Pimpinan Dayah Darul Huda Lhok Nibong sekaligus alumni Dayah Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Mesjid Raya Samalanga, saat membacakan manakib Abu Lamkawe pada peringatan Haul Ke-2 yang dirangkai dengan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.

Kegiatan berlangsung di Dayah Baldatul Mubarakah Al-Aziziyah, Gampong Kandang, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis (15/10/2026).

Dalam pembacaan manakib tersebut, Abi Jakfar mengungkap berbagai kisah yang memperlihatkan keluasan keilmuan, ketekunan bekerja, perjuangan hidup berkeluarga, penghormatan terhadap guru, serta ketawadhuan Abu Lamkawe. Abu Lamkawe merupakan guru dari ulama, diantara muridnya kini menjadi ulama kharismatik yaitu Abu Syekh H Hasanoel Basri HG (Abu MUDI pimpinan Dayah MUDI Samalanga Sekarang), Waled Nuruzzahri (Waled NU), Ayah Ismail Caleu (Ayah Tungkop) dan masih banyak lainnya.

Kisah-kisah itu memberikan gambaran tentang perjalanan seorang ulama yang tidak hanya mengabdikan hidupnya untuk pendidikan agama, tetapi juga menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi sebelum mendirikan lembaga pendidikan Islam.

Hafal Redaksi Ihya Ulumuddin Tanpa Membuka Kitab
Salah satu keistimewaan Abu Lamkawe yang dikenang Abi Jakfar adalah kemampuannya menghafal redaksi kitab-kitab klasik.Suatu ketika, seorang murid mengajukan pertanyaan mengenai persoalan agama. Abu Lamkawe langsung menjawab dengan membacakan redaksi berbahasa Arab tanpa melihat kitab.

Murid tersebut kemudian penasaran dan berusaha mencari sumber redaksi yang dibacakan gurunya. Setelah ditelusuri, ternyata teks tersebut bersumber dari kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din karya Imam Abu Hamid al-Ghazali.

Menurut Abi Jakfar, pembahasan tersebut berkaitan dengan pengelolaan harta, mulai dari cara memperolehnya melalui usaha, menyimpan, hingga membelanjakan dan menafkahkannya.Menariknya, Abu Lamkawe juga menerapkan pengelolaan harta tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Beliau memiliki dua tempat penyimpanan padi yang dikenal masyarakat Aceh sebagai krueng pade. Satu tempat disediakan untuk kebutuhan keluarga, sedangkan satu lainnya diperuntukkan bagi kepentingan orang lain.

Kebiasaan itu memperlihatkan bagaimana pemahaman kitab tidak berhenti pada hafalan, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sosial.Selain memiliki hafalan yang kuat, Abu Lamkawe dikenal mahir melantunkan syair-syair Arab dengan suara merdu.

Abi Jakfar mengenang bahwa Abu Lamkawe memiliki penguasaan irama dan pola syair Arab yang indah, bahkan sulit ditirukan olehnya.

Meskipun tidak mengikuti pengajian Abu Lamkawe secara rutin sebagai murid langsung, Abi Jakfar pernah memperoleh kesempatan belajar secara pribadi dalam beberapa pertemuan. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam mengenai kekuatan hafalan, kemampuan keilmuan, dan kehalusan akhlak Abu Lamkawe.

Putra Sulung yang Menimba Ilmu di MUDI Samalanga
Tgk. H. Ishak Ahmad lahir pada 1945 sebagai putra sulung dari lima bersaudara, buah hati pasangan Ahmad dan Aisyah.Empat adiknya masing-masing bernama Muhammad Ali, Muhammad Shaleh, Fatimah, dan Salamah.

Perjalanan pendidikan Abu Lamkawe memasuki babak penting pada 1960, ketika beliau mulai menuntut ilmu di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga pada usia sekitar 15 tahun.Di bawah asuhan ulama kharismatik Abon Aziz Samalanga, beliau menjalani pendidikan dan pengabdian melalui tradisi beut seumeubeut selama 12 tahun hingga 1972.

Selama berada di lingkungan dayah, Abu Lamkawe dikenal tekun belajar sekaligus rajin bekerja. Aktivitas pertanian tidak mengurangi kesungguhannya memperdalam ilmu agama.Ketika mengikuti pengajian, beliau memusatkan perhatian pada pelajaran. Sebaliknya, ketika bekerja di sawah, beliau melakukannya dengan tekun dan penuh tanggung jawab.

Ketekunan tersebut kemudian mengantarkannya memperoleh kepercayaan besar dari Abon Aziz Samalanga. Menurut riwayat keluarga, Abu Lamkawe merupakan penerima rumah pertama yang diperuntukkan bagi dewan guru Dayah MUDI. Beliau juga disebut memperoleh sawah perdana yang diberikan kepada guru dayah.

Setelah Berkeluarga, Kembali Mengajar dan Membeli Rumah Papan dari Hasil Dakwah
Perjuangan Abu Lamkawe tidak berhenti setelah menikah dengan Ummi Syari’ah. Beliau tetap melanjutkan kegiatan beut seumeubeut di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga sembari menjalankan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Dalam menjalani kehidupan berumah tangga, Abu Lamkawe menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi. Meski demikian, beliau terus mengajar dan memperluas aktivitas dakwah yang memperoleh dukungan serta rekomendasi Abon Aziz Samalanga.

Penghasilan dari kegiatan dakwah dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk mewujudkan keinginan memiliki tempat tinggal sendiri.Dengan bekal uang hasil berdakwah, Abu Lamkawe akhirnya membeli sebuah rumah papan dari seorang toke atau pemilik rumah setempat.

Rumah itu kemudian didirikan di kawasan yang sekarang berada di sekitar STAI Al-Aziziyah Samalanga.Pada masa tersebut, kawasan itu belum menjadi kompleks perguruan tinggi seperti sekarang. Di lokasi tersebut dahulu terdapat sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) yang juga dimanfaatkan untuk kegiatan beut seumeubeut.

Seiring perkembangan pendidikan, pada 2003 berdiri STAI Al-Aziziyah Samalanga yang kemudian mengembangkan fasilitas pendidikan, termasuk pembangunan gedung bertingkat empat.Namun, perjuangan Abu Lamkawe untuk memiliki rumah sendiri kembali menghadapi cobaan.

Rumah papan yang telah dibeli dan didirikan itu tidak dapat dipertahankan karena terkendala persoalan izin penggunaan lokasi.

Akibatnya, Abu Lamkawe terpaksa menjual kembali rumah tersebut kepada Tgk. Muhammad, seorang warga kawasan Meunasah Papeun, Samalanga, dekat wilayah Krueng Batee Iliek.Tgk. Muhammad dikenal sebagai ahli urut yang memiliki hubungan dekat dengan Abu Lamkawe, bahkan telah dianggap seperti orang tua sendiri.

Setelah rumah tersebut dijual, Abu Lamkawe bersama keluarganya kembali menghadapi persoalan tempat tinggal.Dalam keadaan itu, datang bantuan dari Ummi Aini, yang dikenal dengan panggilan Ummi Blang.

Ummi Aini mengajak Abu Lamkawe dan keluarganya untuk tinggal di rumah yang berada di depan Meunasah Mideun Jok. Di rumah tersebut, mereka diberikan sebuah kamar untuk ditempati.

Kisah itu menjadi bagian dari perjalanan panjang Abu Lamkawe dalam mempertahankan pengabdian sebagai guru dan pendakwah di tengah keterbatasan kehidupan keluarga.

Abon Aziz Diam-Diam Menguji Kemampuan Dakwah
Kepercayaan Abon Aziz terhadap Abu Lamkawe tidak muncul tanpa proses.Berdasarkan riwayat yang disampaikan, Abu Lamkawe dikenal sebagai salah seorang ulama generasi awal lulusan MUDI yang memperoleh rekomendasi khusus dari Abon Aziz untuk menyampaikan dakwah di tengah masyarakat.

Dikisahkan, Abon Aziz beberapa kali mendatangi lokasi tempat Abu Lamkawe berceramah secara diam-diam.Bahkan, sang guru disebut menyamar di tengah masyarakat agar kehadirannya tidak diketahui oleh muridnya.Dari tempat tersebut, Abon Aziz mendengarkan isi ceramah dan memperhatikan kemampuan Abu Lamkawe menjelaskan persoalan agama.

Setelah beberapa kali melakukan pengamatan, Abon Aziz memberikan kepercayaan untuk memperluas aktivitas dakwahnya.Tidak hanya memberikan restu, Abon Aziz juga disebut turut memperkenalkan dan melakukan pendekatan kepada sejumlah pihak agar Abu Lamkawe memperoleh kesempatan berdakwah. Sosok Abu lamkawe di eranya dikenal sebagai ‘Singa Podium”.

Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana proses kaderisasi ulama berlangsung melalui pendidikan, pengamatan kemampuan, dan pemberian amanah.

Dayah Peudaya Awalnya dan Pengabdian Abu Lamkawe

Pada 1972, perjalanan pengabdian Abu Lamkawe memasuki babak baru ketika Abon Aziz Samalanga memberinya amanah untuk mengajar di Dayah Peudaya, Padang Tiji, Kabupaten Pidie. Namun, di balik penugasan tersebut terdapat kisah mengenai rencana awal pengasuhan Dayah Peudaya.

Berdasarkan riwayat yang disampaikan, Dayah Peudaya pada mulanya dipersiapkan untuk Abu Kasem TB, salah seorang murid Abon Aziz yang juga dikenal sebagai guru senior di lingkungan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga.

Abu Kasem TB dipandang memiliki bekal keilmuan dan pengalaman mengajar untuk menjalankan amanah pendidikan di dayah tersebut. Akan tetapi, karena adanya keadaan lain yang menghalangi, rencana tersebut tidak dapat terlaksana sehingga beliau tidak dapat menempati Dayah Peudaya sebagaimana yang telah direncanakan.

Dalam perkembangan berikutnya, amanah pengajaran di Dayah Peudaya dipercayakan kepada Abu Lamkawe. Penugasan itu sekaligus menjadi bagian dari upaya Abon Aziz mengembangkan pendidikan Islam melalui murid-muridnya di luar lingkungan Dayah MUDI Samalanga.

Bagi Abu Lamkawe, amanah tersebut menandai perluasan pengabdiannya sebagai guru agama, setelah sebelumnya menempuh pendidikan dan mengajar di bawah asuhan Abon Aziz. Selama sekitar 15 tahun, sejak 1972 hingga 1987, Abu Lamkawe menjalankan kegiatan beut seumeubeut di Dayah Peudaya. Dalam masa tersebut, beliau juga harus membagi perhatian antara tanggung jawab mengajar dan kehidupan keluarga.

Perjalanan pengabdiannya tidak selalu mudah, terlebih sarana transportasi pada masa itu masih terbatas. Namun, amanah pendidikan tersebut tetap dijalankan dengan penuh kesungguhan.
Setelah menjalani pengabdian panjang, sekitar 1987 Abu Lamkawe memohon izin dan ijazah kepada Abon Aziz untuk mendirikan dayah secara mandiri.
Dalam riwayat keluarga, permohonan tersebut disebut sebagai ijazah pertama untuk pendirian dayah yang diberikan di lingkungan MUDI Samalanga.Restu tersebut menjadi bagian penting dari perintisan Dayah Baldatul Mubarakah di Gampong Kandang, Kembang Tanjong, pada periode 1987–1988.

Tetap Mengangkut Rumput Meski Menjadi Pimpinan Dayah
Di antara berbagai kisah yang disampaikan, Abi Jakfar menaruh perhatian khusus terhadap sifat tawadhu’ Abu Lamkawe.Salah satu pengalaman yang dikenangnya terjadi ketika ia singgah di sebuah terminal dan bertemu seorang sahabat.

Saat itu, Abi Jakfar melihat sepeda motor yang membawa empat tumpukan rumput untuk pakan ternak. Karena penasaran, ia menanyakan siapa pemilik kendaraan tersebut. Sahabatnya kemudian menjelaskan bahwa kendaraan itu merupakan milik Abu Lamkawe.

Bagi Abi Jakfar, kisah tersebut menunjukkan kesederhanaan seorang ulama yang tidak merasa rendah melakukan pekerjaan sehari-hari.Kedudukan sebagai pimpinan dayah tidak membuat Abu Lamkawe meninggalkan aktivitas bertani dan mengurus kebutuhan ternak.Beliau tetap bekerja keras meskipun telah dikenal sebagai guru agama dan pendakwah. Sikap tersebut menjadi pengingat bahwa kemuliaan ilmu seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.

Enam Syarat Menuntut Ilmu dan Pentingnya Bimbingan Guru
Dalam pembacaan manakib, Abi Jakfar turut mengingatkan para santri mengenai enam syarat menuntut ilmu yang dikenal dalam tradisi pendidikan Islam.Keenamnya meliputi dzakā’in (kecerdasan), ḥirṣin (kemauan kuat), ijtihādin (kesungguhan), bulghatin (bekal), irsyādi ustādzin (bimbingan guru), dan ṭūli zamānin (waktu belajar yang panjang).

Abi Jakfar menekankan bahwa kecerdasan saja tidak cukup untuk membentuk seseorang menjadi alim. Diperlukan ketekunan, kesabaran, kesungguhan, serta bimbingan guru yang memiliki otoritas keilmuan.

Ia secara khusus menyoroti pentingnya irsyād, yakni pembinaan langsung dari seorang guru.
Menurut pesan yang disampaikannya, mendengarkan ceramah melalui media sosial tidak serta-merta dapat menggantikan hubungan pendidikan langsung antara guru dan murid.

Sebab, pendidikan agama tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk adab dan memberikan keteladanan.Demikian pula dengan ṭūli zamānin, yang mengajarkan pentingnya menjalani proses pendidikan dalam waktu panjang.

Menghormati Guru dan Menjauhi Kesombongan
Abi Jakfar juga mengingatkan pentingnya peuneuduek guree, yakni memuliakan kedudukan guru dan menjaga adab terhadap orang yang telah membimbing dalam ilmu agama.
Nilai itu tercermin dalam perjalanan Abu Lamkawe yang tetap menghormati dan melaksanakan amanah Abon Aziz meskipun telah menjadi ulama.

Dalam kesempatan tersebut, Abi Jakfar turut mengenang pesan Abon Aziz kepada sejumlah muridnya, termasuk Tgk. Ghazali dan Muhammad Syam, agar terus mengembangkan kegiatan beut seumeubeut setelah kembali ke kampung halaman.Pengembangan pengajian dinilai penting untuk memperluas pendidikan agama dan membentengi masyarakat dari praktik khurafat.

Dalam pesan yang dikisahkan Abi Jakfar, satu gampong tidak harus hanya memiliki satu dayah apabila masyarakat membutuhkan lebih banyak pusat pendidikan agama.Menutup pembacaan manakib, Abi Jakfar mengingatkan para pencari ilmu agar tidak menyombongkan pengetahuan, keturunan, maupun kedudukan.

Ia menekankan bahwa kecerdasan sejati harus mengantarkan seseorang kepada ketakwaan kepada Allah SWT.

Pesan tersebut dikaitkannya dengan sabda Rasulullah SAW, “Ittaqillāha ḥaitsumā kunta,” yang berarti, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.”

Peringatan Haul Ke-2 Abu Lamkawe menjadi momentum mengenang perjalanan ulama yang mengabdikan kehidupannya bagi pendidikan Islam, sekaligus menunjukkan bahwa kedalaman ilmu dapat berjalan beriringan dengan kesederhanaan dan kerja keras.

Melalui kisah yang disampaikan Abi Jakfar, warisan Abu Lamkawe tidak hanya terletak pada Dayah Baldatul Mubarakah Al-Aziziyah yang didirikannya, tetapi juga pada ketawadhuan, penghormatan kepada guru, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian yang diwariskan kepada generasi penerus.