Lensapost.net I Nasional- Tidak semua orang yang berhasil menyandang gelar doktor memulai perjalanan dari titik yang sama. Ada yang memperoleh beasiswa penuh, ada pula yang menikmati berbagai fasilitas yang memudahkan langkahnya. Namun, bagi Dr. Nanda Saputra, M.Pd., jalan menuju gelar akademik tertinggi justru dibangun melalui perjuangan panjang yang penuh tantangan, pengorbanan, dan tanggung jawab.
Perjalanan itu mencapai salah satu puncaknya pada 20 Juli 2026, ketika ia menjalani ujian tertutup disertasi di Aula Gedung G Lantai 3 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Di hadapan tim penguji, akademisi asal Pidie itu mempertahankan disertasinya yang berjudul Hadih Maja Aceh dalam Perspektif Ekokritik Cheryll Glotfelty dan Pemanfaatan dalam Penyusunan Buku Teks Apresiasi Sastra di Perguruan Tinggi. Namun, kisah perjuangan itu tidak dimulai di ruang sidang.
Sejak memulai studi doktor pada tahun 2022, Nanda Saputra menyadari bahwa jalan yang dipilihnya tidak mudah. Ia berulang kali mencoba memperoleh beasiswa agar dapat meringankan biaya pendidikan. Berbagai persyaratan dipenuhi, dokumen dipersiapkan dengan cermat, dan harapan selalu menyertai setiap proses pendaftaran.Sayangnya, hasil yang diharapkan belum pernah berpihak kepadanya.
Kegagalan demi kegagalan tidak membuatnya berhenti. Ia memilih membangun jalannya sendiri. Seluruh biaya pendidikan doktor ditempuh dengan hasil kerja keras sebagai dosen, penulis, pengelola penerbit, serta berbagai aktivitas profesional lainnya.
Pilihan itu tentu tidak ringan. Pendidikan doktor membutuhkan biaya besar, mulai dari biaya kuliah, penelitian, pembelian buku, seminar ilmiah, hingga penyusunan disertasi. Semua harus dipenuhi secara mandiri.
Di balik kesibukan akademiknya, Nanda tetap menjalankan profesinya sebagai pendidik. Baginya, mengajar bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan hidup untuk mencerdaskan generasi muda.
Perjuangan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tertinggi. Yang dibutuhkan adalah keteguhan hati, keberanian mengambil keputusan, serta keyakinan bahwa setiap ikhtiar akan menemukan jalannya.
Memikul Amanah Keluarga dan Organisasi
Perjuangan Nanda Saputra tidak hanya berlangsung di ruang kuliah. Ia juga harus membagi waktu antara keluarga, organisasi, pekerjaan, dan aktivitas sosial.
Pada tahun 2021, ia mendirikan Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, sebuah lembaga yang lahir dari kepeduliannya terhadap rendahnya publikasi ilmiah di kalangan akademisi. Melalui yayasan tersebut, ia membuka ruang bagi dosen, guru, mahasiswa, dan peneliti untuk menerbitkan buku dan karya ilmiah.
Baginya, buku bukan hanya media penyampai ilmu, tetapi juga warisan intelektual yang akan terus hidup sepanjang zaman.
Di tahun yang sama, ia juga mendirikan Asosiasi Dosen Lintas Perguruan Tinggi (DKLPT) sebagai wadah kolaborasi akademik lintas kampus. Organisasi tersebut aktif menyelenggarakan seminar, pelatihan, publikasi ilmiah, hingga pendampingan penelitian bagi dosen dari berbagai daerah di Indonesia.
Kesibukan itu semakin bertambah ketika ia dipercaya memimpin Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Pidie. Amanah yang diembannya sejak 2021 dan dikukuhkan secara resmi pada 2025 tersebut dijalankan dengan semangat membangun tradisi intelektual warga Nahdliyin.
Di bawah kepemimpinannya, PC ISNU Pidie menghadirkan berbagai kegiatan ilmiah, diskusi keislaman, seminar pendidikan, pelatihan kepenulisan, hingga pengabdian masyarakat.
Namun, amanah terbesar justru berada di lingkungan keluarga.
Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, Nanda harus menerima kenyataan kehilangan kedua orang tuanya. Sejak saat itu, ia mengambil peran sebagai sosok yang memikul tanggung jawab keluarga.
Di tengah perjuangan menyelesaikan studi doktor, ia tetap membantu biaya pendidikan kedua adiknya hingga berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana.
Putramas Juwanda berhasil meraih gelar Sarjana Administrasi Publik di Universitas Jabal Ghafur. Sementara Suhartina menyelesaikan pendidikan di STIKes Medika Nurul Islam Sigli.
Tidak hanya itu, ia juga memberikan dukungan penuh kepada istrinya, Nada Afra, untuk melanjutkan pendidikan magister hingga berhasil meraih gelar S2.
Semua tanggung jawab tersebut dijalankan secara bersamaan. Di satu sisi ia harus menyusun disertasi, di sisi lain ia tetap memastikan keluarga memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.
Baginya, pendidikan bukan hanya tentang keberhasilan pribadi. Pendidikan adalah investasi keluarga yang manfaatnya akan dirasakan oleh banyak orang.
Mengangkat Hadih Maja Aceh ke Panggung Akademik Nasional
Di balik seluruh perjuangan tersebut, Nanda Saputra memilih menghadirkan sesuatu yang berasal dari tanah kelahirannya sebagai karya ilmiah.
Ia mengangkat Hadih Maja Aceh, kumpulan petuah dan ungkapan bijak masyarakat Aceh, sebagai objek penelitian doktoralnya.
Melalui pendekatan ekokritik Cheryll Glotfelty, ia mengkaji hubungan manusia dengan alam sebagaimana tercermin dalam nilai-nilai yang terkandung di dalam Hadih Maja. Penelitian tersebut kemudian dikembangkan menjadi rekomendasi penyusunan buku teks apresiasi sastra di perguruan tinggi.
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan.Menurutnya, kearifan lokal Aceh memiliki nilai universal yang dapat menjadi rujukan dalam membangun kesadaran ekologis, etika sosial, dan pendidikan karakter.
Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap isu lingkungan, Hadih Maja justru menawarkan pandangan yang telah hidup dalam masyarakat Aceh sejak ratusan tahun lalu.
Melalui penelitian itu, Nanda ingin menunjukkan bahwa budaya lokal tidak hanya layak dilestarikan sebagai tradisi, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi kajian ilmiah yang diakui di tingkat nasional bahkan internasional.Usai menjalani ujian tertutup, ia mengaku bersyukur atas seluruh proses yang telah dilalui.
“Alhamdulillah, semua ini adalah karunia Allah SWT. Saya hanya berusaha semaksimal mungkin. Keberhasilan ini tidak lepas dari doa istri, anak-anak, keluarga, guru-guru, dosen pembimbing, tim penguji, sahabat, dan semua pihak yang selama ini memberikan dukungan. Saya berharap ilmu yang diperoleh dapat terus memberikan manfaat bagi dunia pendidikan, masyarakat, dan Nahdlatul Ulama,” ungkapnya.
Baginya, gelar doktor bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.Sebagai akademisi, ia ingin terus menghasilkan penelitian yang bermanfaat. Sebagai Ketua PC ISNU Pidie, ia ingin memperkuat budaya literasi dan tradisi intelektual warga Nahdliyin. Sebagai pendidik, ia ingin melahirkan generasi yang mencintai ilmu pengetahuan tanpa tercerabut dari akar budaya dan nilai-nilai keislaman.
Perjalanan Dr. Nanda Saputra menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari kemudahan. Sering kali, keberhasilan justru ditempa oleh kesulitan, kehilangan, dan tanggung jawab yang besar.
Dari Pidie menuju Surakarta, ia membawa bukan hanya cita-citanya sendiri, tetapi juga harapan keluarga, masyarakat, dan daerah yang dicintainya.
Kini, gelar doktor telah resmi melekat di depan namanya. Namun, yang jauh lebih bermakna adalah jejak perjuangan yang telah ditinggalkannya: tentang seorang anak yang melanjutkan amanah orang tua, seorang suami yang mendukung pendidikan istrinya, seorang kakak yang mengantarkan adik-adiknya menuju masa depan, seorang pemimpin organisasi yang menghidupkan tradisi intelektual, serta seorang akademisi yang menghadirkan Hadih Maja Aceh ke panggung akademik nasional.
Sebab pada akhirnya, ilmu pengetahuan tidak diukur dari tinggi rendahnya gelar, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada sesama. Itulah pesan yang tercermin dari perjalanan panjang Dr. Nanda Saputra, M.Pd., dalam menjemput gelar doktor dengan keringat, doa, dan tanggung jawab.












