Lensapost.net | Medan — Ada perjalanan yang tidak selesai ketika seseorang memperoleh gelar akademik.Justru setelah gelar itu disandang, perjalanan menemukan makna baru.
Kisah tersebut tergambar dalam perjalanan Tgk. Ishak, putra Kota Santri Samalanga yang tumbuh dari tradisi dayah, kemudian menapaki dunia perguruan tinggi hingga meraih gelar doktor.
Kamis, 10 September 2026, suasana akademik terasa berbeda di ruang sidang lantai II Gedung SBSN Kampus II UIN Sumatera Utara.
Di hadapan tim penguji dan promotor, Ishak mempertahankan disertasinya pada Program Doktor Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara.
Ia membawa sebuah tema yang sebenarnya telah sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Aceh: takzim.
Namun di tangan seorang akademisi, nilai tersebut tidak berhenti sebagai kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Takzim dibaca sebagai sebuah budaya pendidikan.Judul disertasinya cukup panjang:
“Manajemen Strategi Pendidikan Dayah dalam Membangun Budaya Takzim Santri: Studi Multisitus di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dayah Putri Muslimat Samalanga Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh.”
Pilihan tema itu seolah mempertemukan dua dunia yang selama ini hidup dalam perjalanan Ishak: tradisi dayah dan dunia akademik.
Ia meneliti sesuatu yang pernah dan masih menjadi bagian dari kehidupannya sendiri.
Ketika Dunia Berubah, Adab Diuji
Takzim dahulu mungkin cukup diajarkan melalui pertemuan langsung antara guru dan murid.Guru berada di depan.Santri duduk mendengarkan.Kitab dibuka.Nasihat disampaikan.
Adab dibiasakan.Tetapi dunia telah berubah.
Hari ini, seorang santri dapat membawa ribuan sumber informasi di dalam sebuah telepon pintar. Media sosial mempertemukan mereka dengan berbagai pemikiran. Mesin pencari menyediakan jawaban dalam sekejap. Otoritas pengetahuan tidak lagi hanya berada di ruang kelas dan balai pengajian.
Di tengah perubahan tersebut, pertanyaan tentang masa depan takzim menjadi semakin penting.
Apakah penghormatan kepada guru masih dapat bertahan ketika generasi muda memiliki begitu banyak sumber pengetahuan?
Apakah adab masih memiliki tempat ketika komunikasi digital sering berlangsung tanpa batas?
Ishak melihat persoalan tersebut bukan dengan pendekatan larangan semata.Baginya, pendidikan harus bekerja lebih jauh.Nilai harus masuk ke dalam kesadaran.
“Takzim tidak cukup dipahami sebagai bentuk penghormatan lahiriah kepada guru. Takzim harus tumbuh menjadi kesadaran santri dalam menghormati ilmu, guru, lembaga, dan nilai-nilai pendidikan yang diwariskan di dayah,” kata Ishak.
Di situlah letak penting penelitian tersebut.Takzim diposisikan sebagai budaya yang tidak muncul secara tiba-tiba.
Ia membutuhkan proses.Ada perencanaan, pembiasaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi.
Nilai yang hidup dalam keseharian Untuk membaca budaya tersebut, Ishak menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan desain studi multisitus.
Ia menggali pengalaman dan praktik pendidikan melalui wawancara mendalam, observasi serta dokumentasi di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dayah Putri Muslimat Samalanga.
Hasilnya menunjukkan sesuatu yang menarik.
Budaya takzim tidak hanya ditemukan dalam aturan tertulis.Ia justru tampak dalam berbagai kebiasaan sederhana yang dilakukan berulang-ulang.
Cara santri berbicara kepada guru.Cara guru memberikan teladan.Cara penghormatan kepada guru dibangun.Pengajian kitab.Pembiasaan adab.
Hingga bagaimana pelanggaran terhadap tata nilai ditangani.Semua itu menjadi bagian dari proses pendidikan.
Dalam temuan penelitian tersebut, pembentukan budaya takzim berjalan melalui empat fungsi manajemen strategis: perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi.
Pada tahap perencanaan, nilai takzim berangkat dari sumber-sumber keislaman, termasuk Al-Qur’an, hadis dan kitab Ta’lim al-Muta’allim.
Ilmu dan adab tidak dipertentangkan.Keduanya justru dipertemukan dalam proses pendidikan.Namun, nilai yang dirancang di atas kertas tidak akan berarti tanpa keteladanan.
Karena itu, guru menempati posisi penting.
Santri tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan guru.Mereka belajar dari apa yang dilakukan guru.
“Santri tidak hanya belajar adab dari nasihat. Mereka melihat secara langsung bagaimana guru bersikap, berbicara, menghormati gurunya sendiri, serta menjaga etika dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan itu menjadi pendidikan yang sangat kuat,” ujar Ishak.
Barangkali seorang santri dapat melupakan sebuah nasihat.Tetapi sebuah teladan yang dilihat berulang kali dapat melekat menjadi kebiasaan.
Saat Guru Tak Lagi Mengawasi
Ada satu ukuran yang lebih tinggi dalam pendidikan karakter: bagaimana seseorang bersikap ketika tidak ada yang melihat.
Bagi Ishak, di sinilah pengawasan menemukan maknanya.Pengawasan bukan tujuan akhir. Ia hanya instrumen untuk mengantarkan santri menuju kesadaran.
“Ketika santri tetap menjaga adab meskipun tidak ada guru yang melihat, di situlah nilai takzim mulai menjadi karakter,” katanya.
Kalimat itu terasa semakin relevan dalam kehidupan generasi digital.Guru tidak mungkin mengikuti setiap langkah murid di dunia maya.
Orang tua pun tidak mungkin mengetahui setiap konten yang dibaca, ditonton, dibagikan atau dikomentari anaknya.
Karena itu, pendidikan tidak dapat selamanya bergantung pada pengawasan dari luar.Yang dibutuhkan adalah pengawasan dari dalam.Nilai yang telah menjadi kesadaran.Adab yang tetap bekerja meskipun tidak ada mata yang mengawasi.
Kabag Humas UNISAI Samalanga, Tgk. Mursalin, M.H., menilai penelitian Ishak memiliki arti lebih luas daripada pencapaian akademik seorang doktor.
Menurutnya, penelitian itu memperlihatkan bahwa tradisi pendidikan dayah sesungguhnya memiliki kekayaan yang dapat dikaji secara ilmiah.
“Selama ini budaya takzim sudah hidup sangat kuat dalam tradisi dayah. Penelitian Tgk. Ishak menunjukkan bahwa di balik tradisi itu terdapat pola manajemen pendidikan yang terencana, dilaksanakan secara konsisten, diawasi dan dievaluasi,” kata Mursalin.
Pendidikan, menurutnya, tidak boleh hanya mengejar kecerdasan.
“Pendidikan tidak cukup menghasilkan orang pintar. Ilmu harus berjalan bersama adab. Inilah salah satu kekuatan pendidikan dayah yang perlu terus dikaji dan dikembangkan,” ujarnya.
Mursalin melihat nilai tersebut juga relevan sebagai bekal menghadapi perubahan zaman.
“Benteng paling kuat bukan tembok lembaga pendidikan, tetapi nilai yang sudah tertanam dalam diri santri,” katanya.
Dari Lingkungan MUDI ke Ruang Doktoral
Jauh sebelum berdiri di ruang sidang doktoral, Ishak adalah seorang anak yang tumbuh di Kota Santri Samalanga.
Lingkungan pendidikan Islam Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga menjadi salah satu ruang yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan intelektualnya.
Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 6 Samalanga pada 1992–1997.Setelah itu, ia melanjutkan ke SLTP Negeri 1 Samalanga.
Pendidikan agama ditempuhnya di Aliyah Pondok Pesantren Makhadil Ulum Diniyah Islamiyah Samalanga pada 2000–2006.
Dari sana, langkahnya terus bergerak.Ia menyelesaikan pendidikan sarjana Komunikasi Penyiaran Islam di STAIA Samalanga.
Kemudian melanjutkan magister Manajemen Pendidikan Islam di IAIN Lhokseumawe. Perjalanan tersebut akhirnya bermuara pada Program Doktor Manajemen Pendidikan Islam UIN Sumatera Utara.
Namun perjalanan Ishak bukan hanya perjalanan mahasiswa dari satu kampus ke kampus lain.
Ia juga menjalani kehidupan sebagai pendidik.
Ia pernah menjadi staf pengajar Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga pada 2010–2019.
Sejak 2015, ia menjadi dosen tetap UNISAI Samalanga.Kemudian sejak 2023, ia juga menjadi staf pengajar Dayah MIDA Simpang Mamplam.
Pengabdian kepada masyarakat turut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.Sejak 2023 ia bertugas sebagai Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Samalanga.
Sejak 2024, ia juga menjalankan tugas sebagai Pendamping Produk Halal Aceh.Maka ketika Ishak menulis tentang takzim, ada hubungan yang kuat antara objek penelitian dan perjalanan hidupnya.
Ia tidak sekadar mengamati budaya pendidikan dari kejauhan.Ia pernah hidup di dalamnya.Ia pernah menjadi santri.Ia pernah menjadi pengajar.Kini ia menjadi dosen dan doktor.
Doktor Bukan Akhir Perjalanan
Setelah seluruh rangkaian sidang selesai, satu fase penting dalam perjalanan akademik Ishak pun terlewati.
Tetapi ia tidak melihat gelar doktor sebagai puncak perjalanan.Justru sebaliknya.Gelar tersebut menjadi amanah untuk terus mengabdi.
Ia menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada orang tua, guru, keluarga, sahabat, promotor, penguji serta seluruh civitas akademika UIN Sumatera Utara yang telah memberikan dukungan selama proses akademiknya.
“Capaian ini bukan semata-mata hasil usaha pribadi. Ada doa orang tua, bimbingan guru, dukungan keluarga, sahabat, promotor, penguji dan banyak pihak yang telah membersamai perjalanan ini,” ujarnya.
Di balik pencapaian akademiknya, ada satu sosok yang secara khusus mendapat tempat dalam ungkapan takzimnya: Mursyid Abu MUDI.
Ishak menyampaikan doa agar Mursyid Abu MUDI senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan umur dan terus menjadi sumber ilmu serta bimbingan bagi umat.
Di titik ini, perjalanan akademik Ishak seperti kembali kepada awal.Ia meneliti takzim. Ia memperoleh doktor.
Tetapi gelar itu justru membuatnya semakin menyadari bahwa ilmu tidak pernah menjadi alasan seseorang untuk berhenti menghormati guru.
Semakin tinggi seseorang menempuh pendidikan, semestinya semakin rendah hati ia di hadapan ilmu.
Takzim yang Menjadi Warisan
Dari Samalanga menuju Medan, perjalanan Tgk. Ishak bukan hanya kisah tentang meraih gelar akademik.Ia adalah cerita tentang kesinambungan.
Tentang seorang alumni MUDI Samalanga yang membawa nilai dari lingkungan dayah ke ruang akademik.
Tentang tradisi lama yang dibaca kembali dengan bahasa ilmu pengetahuan.Tentang adab yang diuji oleh perubahan zaman.
Dan tentang keyakinan bahwa kecerdasan tanpa akhlak belum cukup untuk membentuk manusia yang utuh.Zaman akan terus berubah.Teknologi akan semakin maju.
Cara manusia memperoleh pengetahuan akan semakin cepat.Namun, ada nilai yang tidak seharusnya ikut hanyut oleh perubahan itu.
Sebab ilmu tanpa adab dapat melahirkan manusia yang pintar tetapi kehilangan arah.
Sebaliknya, ilmu yang berjalan bersama takzim dapat melahirkan kebijaksanaan.
Barangkali itulah pesan paling dalam dari perjalanan Tgk. Ishak.Menjadi doktor bukan berarti berdiri lebih tinggi daripada guru.
Menjadi akademisi bukan berarti meninggalkan tradisi.Dan menjadi orang berilmu bukan berarti selesai belajar.
Justru semakin tinggi ilmu yang diperoleh, semakin dalam pula kesadaran untuk menghormati ilmu, guru dan jalan panjang yang telah mengantarkan seseorang sampai ke titik tersebut.
Dari Kota Santri Samalanga, seorang alumni MUDI melangkah menuju ruang doktoral.
Ia membawa satu pesan sederhana, tetapi semakin penting di tengah derasnya zaman:
ilmu boleh menjulang tinggi, tetapi takzim harus tetap menjadi akarnya.




