QRIS di Aceh Tembus 848 Ribu Pengguna, Digitalisasi Keuangan Makin Meluas

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti

LENSAPOST.NET – Penggunaan transaksi digital di Aceh terus meluas. Hingga Agustus 2026, jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Aceh mencapai 848.176 pengguna, tumbuh 22,46 persen secara tahunan.

Pertumbuhan juga terlihat dari sisi merchant. Jumlah merchant QRIS di Aceh tercatat sebanyak 347.497 atau meningkat 55,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data tersebut disampaikan dalam rangkaian Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo 2026 (FEKDI x IFSE 2026) yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, 24–26 September 2026.

FEKDI x IFSE 2026 diselenggarakan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH).

Peningkatan penggunaan QRIS di Aceh didukung semakin luasnya pemanfaatan transaksi digital pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pasar rakyat, pariwisata, hingga layanan publik.

Salah satu penerapan digitalisasi transaksi pemerintah daerah terlihat di Kota Banda Aceh melalui QRIS Dinamis untuk pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2).

Sistem tersebut mengintegrasikan QRIS pembayaran langsung ke dalam Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), sehingga pembayaran pajak dapat dilakukan secara lebih mudah, cepat, dan akurat.

Inovasi itu merupakan hasil sinergi Badan Pengelolaan Keuangan Kota (BPKK) Banda Aceh, Bank Aceh Syariah, dan Bank Indonesia. Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung optimalisasi penerimaan pajak daerah dan diharapkan dapat direplikasi pemerintah daerah lain di Aceh.

Bank Indonesia Provinsi Aceh juga mendorong peningkatan penggunaan QRIS melalui sejumlah program kolaboratif. Salah satunya Gerakan Pangan Murah, dengan pemberian paket sembako sebagai insentif bagi masyarakat yang bertransaksi menggunakan QRIS.

Program serupa diterapkan dalam pembayaran PBB-P2 bersama pemerintah daerah, melalui pemberian insentif bagi wajib pajak yang menggunakan QRIS.

Secara nasional, transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Agustus 2026 tumbuh 40,36 persen secara tahunan dengan jumlah mencapai 6,11 miliar transaksi. Akseptasi QRIS mencapai 69,32 juta pengguna dan 47,11 juta merchant.

Dari sisi infrastruktur pembayaran, volume transaksi ritel melalui BI-FAST mencapai 549 juta transaksi dengan nilai Rp1.346 triliun.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan transformasi digital perlu terus dipercepat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya risiko digital.

Menurut Destry, percepatan tersebut membutuhkan sinergi antarpemangku kepentingan, sekaligus penguatan keamanan sistem pembayaran dan perlindungan konsumen.

“FEKDI x IFSE 2026 menjadi wujud nyata sinergi untuk mengakselerasi ekonomi dan keuangan digital melalui kebijakan yang berdampak, inklusif, dan terintegrasi,” ujar Destry.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut ekonomi digital Indonesia memiliki potensi besar. Nilainya disebut mendekati US$100 miliar pada 2025 dan diproyeksikan mencapai US$180–340 miliar pada 2030.

FEKDI x IFSE 2026 mengusung tema “Mempererat Sinergi, Memacu Inovasi, Mencetak Talenta Unggul Berdaya Saing Global untuk Kemajuan Ekonomi Keuangan Digital Nasional”.

Selain membahas digitalisasi ekonomi dan keuangan, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi serta Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah.

Di Aceh, digitalisasi tersebut berjalan beriringan dengan agenda pengendalian inflasi. Pada Agustus 2026, inflasi Aceh tercatat 4,86 persen secara tahunan. Bank Indonesia Aceh bersama pemerintah daerah dan instansi terkait menjalankan sejumlah program untuk menjaga pasokan, distribusi, dan stabilitas harga pangan.

Sepanjang Agustus 2026, Bank Indonesia Aceh bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) merealisasikan 38 kali Gerakan Pangan Murah atau pasar murah di Aceh Singkil, Pidie Jaya, Aceh Besar, Aceh Barat, Nagan Raya, Banda Aceh, dan Subulussalam.

Selain itu, sebanyak 22,1 ton beras premium disalurkan melalui Fasilitasi Distribusi Pangan ke Banda Aceh dan Aceh Besar.

FEKDI x IFSE 2026 berlangsung selama tiga hari dengan agenda yang mencakup penguatan sinergi nasional, pengembangan talenta dan inovasi digital, serta penguatan konektivitas ekonomi dan keuangan digital antarnegara.