ACEH  

Syekh Samunzir Ajak Jamaah Perangi Ujub, Riya dan Takabur

Pimpinan Majelis Zikrullah Aceh (MZA), Syekh Samunzir Bin Husein

LENSAPOST.NET — Pimpinan Majelis Zikrullah Aceh (MZA), Syekh Samunzir Bin Husein, mengajak masyarakat Aceh menghadapi tantangan perubahan zaman dengan memperkuat zikir dan membersihkan hati dari sifat ujub, riya, serta takabur.

Pesan itu disampaikan Syekh Samunzir dalam zikir rutin malam Jumat yang digelar di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (17/9/2026).

Menurut Syekh Samunzir, tantangan kehidupan saat ini tidak hanya berasal dari persoalan di luar diri manusia, tetapi juga dari penyakit hati yang dapat memicu perpecahan.

“Banyak yang sibuk menegur kesalahan orang lain, namun lupa memeriksa apa yang tersimpan di dalam dadanya sendiri. Padahal, musuh yang paling mampu meruntuhkan kemuliaan Aceh bukanlah yang datang dari perbatasan, melainkan yang berdiam di dalam diri kita masing-masing,” kata Syekh Samunzir.

Ia kemudian mengingatkan jamaah terhadap tiga sifat yang dinilai dapat merusak persatuan dan kehidupan bermasyarakat.

Pertama, ujub, yakni merasa kelebihan yang dimiliki semata-mata merupakan hasil kemampuan diri sendiri tanpa menyadari bahwa semuanya merupakan karunia Allah.

“Kita mulai mengukur orang lain dengan ukuran yang berbeda, memandang rendah niat saudara kita dan menganggap diri paling pantas dipatuhi. Inilah awal terpecahnya persatuan,” ujarnya.

Kedua, riya, yakni melakukan amal atau kebaikan dengan tujuan mendapatkan pujian manusia.

Menurutnya, riya dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk berbicara agar didengar, berbuat agar dilihat, serta berkorban demi mendapatkan pengakuan.

“Ketika amal digerakkan oleh hawa nafsu ingin dipuji, maka tidak ada keikhlasan yang tumbuh. Orang yang beramal karena pujian akan kecewa saat tidak dipuji dan akan berbalik arah saat tidak diakui,” katanya.

Ketiga, takabur, yaitu merasa lebih tinggi dari orang lain hingga menolak kebenaran.

“Takabur membuat seseorang merasa lebih mulia dari saudaranya, merasa pendapatnya paling benar dan merasa orang lain wajib tunduk kepadanya,” kata Syekh Samunzir.

Ia mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kedudukan, kekayaan maupun jumlah pengikut, tetapi oleh ketakwaan dan kerendahan hati di hadapan Allah.

Zikir sebagai Benteng Diri

Syekh Samunzir mengatakan zikir tidak semestinya dipahami hanya sebagai aktivitas di majelis, tetapi juga sebagai kesadaran untuk selalu mengingat Allah dalam setiap tindakan dan keputusan.

“Obat paling ampuh, paling sederhana, namun paling luhur di zaman apa pun adalah mengingat Allah. Zikir bukan sekadar gerakan bibir di majelis tertentu. Zikir adalah kesadaran yang menyertai setiap langkah, setiap perkataan, setiap keputusan yang diambil,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat, termasuk pemimpin, pemuda, orang tua dan anak-anak, menjadikan zikir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, mengingat Allah dapat menjadi pengingat agar manusia tidak terjebak dalam kesombongan maupun keinginan memperoleh pengakuan dari orang lain.

“Ujub akan luntur karena kita sadar semua ini titipan-Nya. Riya akan lenyap karena kita tahu Allah Maha Melihat apa yang tersembunyi di dada. Takabur akan runtuh karena kita sadar betapa kecilnya kita di hadapan kekuasaan-Nya,” katanya.

Syekh Samunzir juga menyebut zikir rutin malam Jumat di Masjid Raya Baiturrahman sebagai momentum untuk memperkuat keimanan dan kebersamaan masyarakat Aceh.

“Di hadapan Allah kita setara—hamba yang memohon rahmat-Nya,” ujarnya.

Di akhir pesannya, Syekh Samunzir mengajak masyarakat Aceh menjaga persatuan dengan menjauhi kesombongan, tidak mengorbankan kebenaran demi kepentingan pribadi maupun kedudukan, serta memperbanyak mengingat Allah dalam kehidupan sehari-hari.

“Hadapilah zaman ini dengan hati yang bersih: tidak menjual kebenaran demi kedudukan, tidak memecah belah demi keuntungan, tidak memuji diri sendiri di atas penderitaan rakyat,” katanya.