Opini  

Kiai yang Tak Punya ID Card: Wajah NU yang Sering Luput dari Panggung Muktamar

Gus Masrur

Ada sebuah perjumpaan sederhana di tengah hiruk-pikuk Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 yang justru meninggalkan kesan paling mendalam bagi saya. Di salah satu gang sekitar arena muktamar, saya bertemu seorang kiai sepuh. Tidak ada kartu identitas yang tergantung di dadanya. Saya bahkan tidak tahu siapa nama beliau.

Saya menyapa, “Dari mana, Yai?”
Beliau tersenyum dan menjawab singkat, “Dari jauh.”
Hanya itu. Saya tidak mengejar pertanyaan berikutnya. Rasanya tidak pantas. Beliau berjalan sangat pelan. Sandalnya sederhana.

Songkoknya tampak agak pudar dan tidak sepenuhnya pas di kepala, seolah dikenakan dengan tergesa-gesa. Tidak ada kesan mewah. Tidak tampak rombongan besar. Tidak ada tanda bahwa beliau datang untuk mencari perhatian.

Beliau kemudian masuk ke masjid, duduk, diam, dan khusyuk. Sementara di luar, suasana muktamar begitu ramai. Kamera bergerak. Televisi melakukan siaran. Para peserta dengan ID card berwarna-warni berjalan cepat. Ada yang dikejar jadwal, ada yang dikejar pertemuan, ada yang dikejar kamera, dan mungkin ada pula yang sedang mengejar posisi serta pengaruh.

Kiai itu tidak dikejar siapa-siapa. Ia juga tidak mengejar siapa-siapa.Mungkin memang itu tujuan kedatangannya. Ia tidak datang untuk menjadi siapa-siapa, tidak datang untuk masuk kamera, tidak datang untuk mendapatkan pengakuan.

Ia mungkin hanya ingin melihat Nahdlatul Ulama, melihat jamaah berkumpul, dan merasakan kembali suasana rumah besar yang selama puluhan tahun telah menjadi bagian dari kehidupannya.

Saya kemudian membayangkan kehidupan beliau di kampung. Mungkin ia datang dengan biaya sendiri. Mungkin naik kendaraan umum. Mungkin berangkat dari desa yang namanya tidak pernah masuk berita, desa yang bahkan tidak memiliki media sosial.

Namun, di desa itu, setiap malam Jumat mungkin ia memimpin tahlil. Setiap subuh menjadi imam. Setiap sore mengajari anak-anak membaca Al-Qur’an. Ketika ada orang meninggal, ia datang lebih dahulu. Ketika warga bertengkar, ia yang didatangi. Ketika seorang anak menikah, ia diminta menjadi saksi sekaligus penasihat.

Tidak ada kamera, siaran langsung, subscriber, atau tombol suka. Tetapi jamaahnya ada. Dan mungkin, justru dari orang-orang seperti inilah Nahdlatul Ulama sesungguhnya bertahan.
NU yang Hidup di Bawah Panggung
Kita sering membicarakan NU dari atas. Kita membicarakan struktur, kepengurusan, jabatan, konferensi, muktamar, siapa yang terpilih, siapa yang kalah, dan siapa yang memperoleh amanah. Semua itu memang bagian dari dinamika organisasi.

Namun, NU tidak hanya hidup di ruang-ruang struktural. NU juga hidup di kampung, desa, masjid kecil, mushala yang bahkan mungkin tidak tercatat di peta digital, madrasah sederhana, pengajian dengan jamaah terbatas, dan rumah-rumah warga yang setiap malam Jumat dipenuhi lantunan tahlil.Di sanalah akar NU sesungguhnya berada.

NU bertahan bukan hanya karena gedung, kantor, kepengurusan, atau forum-forum besar. NU bertahan karena ada orang-orang yang terus menjaga tradisi, merawat jamaah, mendidik anak-anak, mendampingi keluarga, menyelesaikan persoalan warga, dan mengajarkan agama tanpa pernahbertanya apakah semua itu akan membuat nama mereka dikenal.

Mereka mungkin tidak hafal seluruh struktur organisasi. Mereka mungkin tidak mengikuti setiap perdebatan elite. Tetapi mereka memahami sesuatu yang paling mendasar: jamaah harus tetap bersama.
Bagi mereka, NU bukan sekadar nama organisasi. NU adalah tahlil, istighasah, pengajian, madrasah, masjid, mushala, silaturahmi, gotong royong, dan cara menjaga masyarakat agar tetap memiliki pegangan agama sekaligus hidup rukun.
Belajar dari Para Muassis
Wajah NU yang sederhana itu sesungguhnya merupakan kelanjutan dari teladan para muassis. Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah mendirikan NU bukan untuk membangun kemegahan pribadi. Mereka merespons kebutuhan umat, menjaga tradisi keilmuan, merawat persatuan, dan mengorganisasi khidmat agar agama hadir sebagai kekuatan yang menenteramkan masyarakat.

Para muassis mengajarkan bahwa organisasi hanyalah sarana. Tujuan akhirnya adalah kemaslahatan. Struktur dibutuhkan agar pengabdian lebih terarah, tetapi struktur tidak boleh menggantikan ruh pengabdian. Jabatan penting untuk menjalankan amanah, tetapi jabatan tidak boleh menjadi ukuran tunggal kemuliaan seseorang.

Karena itu, peringatan para muassis tentang persatuan harus terus dihidupkan. Persatuan NU tidak dibangun dengan menyeragamkan semua pikiran, melainkan dengan mempertemukan perbedaan dalam satu niat khidmat.

Kiai kampung yang berjalan pelan menuju masjid, guru ngaji yang mengajar tanpa bayaran, dan pengurus ranting yang bekerja dalam kesunyian adalah bagian dari mata rantai perjuangan yang sama.
Mereka mungkin tidak memiliki ID card. Namun, mereka memiliki tanda pengenal yang lebih dalam: kepercayaan jamaah.

Gus Dur dan Ukuran Kemanusiaan
Pada titik inilah pemikiran KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi penting. Gus Dur sering mengingatkan bahwa “yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Pesan itu tidak hanya relevan dalam politik kenegaraan, tetapi juga dalam dinamika organisasi.

Kita boleh berbicara tentang jabatan, struktur, dan arah kepemimpinan. Namun, semua itu harus kembali kepada pertanyaan sederhana: apakah keputusan kita membuat manusia lebih dihargai? Apakah organisasi semakin dekat dengan masyarakat? Apakah jamaah yang lemah memperoleh perlindungan? Apakah perbedaan dikelola tanpa merendahkan martabat sesama?

Warisan Gus Dur mengajarkan bahwa NU harus memiliki wajah yang terbuka, inklusif, dan manusiawi. Membela kemanusiaan bukan berarti meninggalkan tradisi. Justru tradisi keislaman yang matang seharusnya melahirkan penghormatan kepada manusia, kesediaan berdialog, dan keberanian membela kelompok yang dipinggirkan.

Kiai sepuh tanpa ID card itu mengajarkan pelajaran yang sama melalui kesunyian. Ia tidak perlu menjelaskan konsep khidmah. Hidupnya telah menjadi penjelasan. Ia tidak perlu berbicara tentang cinta kepada NU. Puluhan tahun pengabdiannya telah menjadi bukti.

Jangan Hanya Mengukur NU dari Panggung
Barangkali di situlah kekuatan terbesar NU. Bukan pada seberapa sering namanya disebut, melainkan pada seberapa dalam nilai-nilainya hidup di tengah masyarakat. Bukan semata-mata pada siapa yang duduk di kursi kepengurusan, tetapi pada siapa yang setiap hari hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Kita perlu berhenti sejenak dari kegaduhan tentang siapa yang berada di panggung dan mulai menoleh kepada mereka yang selama ini menjaga fondasi. Kita perlu melihat NU dari bawah: dari para kiai kampung, guru ngaji, imam mushala, pengurus masjid, pengelola madrasah, dan jamaah yang berkumpul tanpa kamera.

Sebab kekuatan NU tidak selalu tampak dalam gemerlap muktamar. Kadang ia hadir dalam kesunyian sebuah mushala, suara seorang kiai yang mengajari anak membaca Al-Qur’an, tangan seorang sepuh yang menengahi perselisihan warga, dan langkah seorang kiai yang berjalan pelan menuju masjid.

Mungkin suatu hari nanti kita tidak akan lagi melihat mereka. Usia mereka semakin jauh. Langkah mereka semakin pelan. Suara mereka mulai bergetar. Satu per satu mereka akan meninggalkan kita.

Ketika itu terjadi, barangkali kita baru sadar bahwa selama ini ada sesuatu yang sangat berharga tetapi luput dari perhatian: ketulusan orang-orang yang berkhidmat tanpa membutuhkan pengakuan.
Mereka tidak membutuhkan panggung untuk mengabdi dan tidak membutuhkan popularitas untuk menjadi berarti. Masyarakat di sekelilingnya sudah mengenal siapa mereka dan apa yang telah mereka lakukan.

Tanda Pengabdian yang Sebenarnya
Kiai yang tidak memiliki ID card mungkin tidak memiliki tanda pengenal di dadanya, tetapi masyarakat mengenal tanda pengabdiannya. Sejarah NU tidak hanya ditulis oleh mereka yang berada di atas panggung. Sejarah NU juga ditulis oleh langkah-langkah pelan para kiai sepuh yang datang dari jauh, duduk di masjid, berdoa, lalu pulang tanpa meminta apa-apa.

Di hadapan mereka, kita seharusnya belajar tentang ikhlas, khidmah, dan cara mencintai umat tanpa harus selalu terlihat. Ukuran pengabdian bukanlah seberapa sering nama kita disebut, seberapa banyak orang mengenal wajah kita, atau seberapa sering kita mengenakan ID card muktamar.

Ukuran pengabdian mungkin justru terletak pada berapa banyak hati yang pernah kita jaga, berapa banyak jamaah yang pernah kita rangkul, berapa banyak anak yang pernah kita ajari mengaji, dan berapa banyak persoalan masyarakat yang kita bantu selesaikan dengan ikhlas.

Itulah wajah NU yang sering kita lupakan. Wajah yang tidak selalu masuk kamera, tidak selalu muncul di televisi, dan tidak selalu memiliki kartu identitas. Namun, justru wajah-wajah itulah yang selama puluhan tahun menjaga agar rumah besar bernama Nahdlatul Ulama tetap berdiri.

Terima kasih, Yai. Terima kasih kepada para kiai yang tidak punya ID card. Rumah besar NU tidak berdiri hanya karena orang-orang yang tampak di panggung. Ia juga berdiri karena orang-orang yang diam-diam menjaga tiangnya di kampung, desa, masjid, mushala, madrasah, majelis taklim, dan tempat-tempat yang jauh dari sorotan.

Mereka mungkin tidak dikenal oleh kita, tetapi semoga mereka dikenal oleh Allah. Dan semoga kita yang masih diberi kesempatan bertemu dengan mereka mampu belajar satu hal yang paling mahal dalam kehidupan berkhidmah: tidak harus dikenal untuk menjadi berarti dan tidak harus berada di panggung untuk memberikan cahaya.

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq
Tgk. Masrur, MA, Komisioner KIP Pidie Jaya dan Mantan Ketua Ansor Pidie Jaya