Tuntaskan Transformasi Teknologi, Nasabah BSI Capai Rekor Tertinggi

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (Persero) (BSI) menutup Semester I 2026 dengan kinerja solid seiring keberhasilan Perseroan memperkuat pondasi teknologi dan kapabilitas digital. Hingga Juni 2026, jumlah nasabah BSI mencapai 24,3 juta, tertinggi sejak BSI berdiri. Penguatan fondasi teknologi mendorong laba bersih Rp4,16 triliun meningkat 11%(YOY). Kinerja ini disampaikan oleh Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo (tengah), Wakil Direktur Utama Bob T Ananta (dua dari kiri), Direktur Finance & Strategy Ade Cahyo Nugroho (dua dari kanan), Direktur Risk Management Grandhis H.Harumansyah (kiri) dan Direktur Retail Banking Kemas Erwan Husainy (paling kanan) pada paparan kinerja perseroan triwulan II/2026 di Kantor Pusat BSI Jakarta (21/8).

 LENSAPOST.NET– PT Bank Syariah Indonesia Tbk (Persero) atau BSI menutup Semester I 2026 dengan kinerja yang semakin solid. Keberhasilan memperkuat fondasi teknologi dan kapabilitas digital mulai menunjukkan hasil nyata, ditandai dengan jumlah nasabah yang mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah BSI atau all-time high.

Hingga Juni 2026, jumlah nasabah BSI mencapai 24,3 juta, tertinggi sejak bank tersebut berdiri. Tren pertumbuhan nasabah terus terlihat sejak Januari 2026. Setelah transformasi teknologi rampung pada Mei 2026, jumlah nasabah bertumbuh lebih dari 200 ribu per bulan.

Pertumbuhan tersebut menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan BSI, sekaligus membuka peluang pengembangan bisnis melalui peningkatan dana murah, pembiayaan, transaksi digital, wealth management, bisnis emas, hingga layanan haji dan umrah.

Hal ini turut diperkuat dengan kombinasi dual licence BSI sebagai bank syariah dan bank emas atau bulion, yang mendorong pertumbuhan jumlah nasabah serta pemanfaatan layanan digital.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, investasi besar yang dilakukan Perseroan dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sistem teknologi informasi, tetapi juga membangun pengalaman transaksi yang lebih cepat, aman, dan andal bagi jutaan nasabah.

“Teknologi bukan lagi sekadar fungsi pendukung operasional. Bagi BSI, teknologi telah menjadi mesin pertumbuhan bisnis. Semakin baik pengalaman nasabah, semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar akuisisi nasabah, dan semakin luas peluang untuk mengembangkan seluruh ekosistem layanan keuangan syariah,” ujar Anggoro.

Menurutnya, penguatan kapabilitas teknologi telah meningkatkan kapasitas sistem BSI secara signifikan sehingga mampu mengakomodasi pertumbuhan volume transaksi dan jumlah pengguna digital yang terus meningkat.

BYOND Jadi Kanal Utama Transaksi

Fondasi teknologi yang semakin kuat menjadi landasan bagi BSI untuk terus mengembangkan layanan digital melalui BYOND by BSI, yang kini menjadi kanal utama transaksi nasabah dengan beragam layanan perbankan syariah.

Sepanjang 2026, interaksi nasabah melalui platform digital tersebut tercermin dari 1 miliar akses login.

Melalui BYOND by BSI, nasabah dapat mengakses layanan yang semakin terintegrasi, mulai dari transaksi harian, investasi, pembiayaan, pengelolaan emas, pengelolaan haji, hingga berbagai layanan keuangan lainnya dalam satu platform digital.

BSI juga terus memperluas solusi digital melalui Hasanah KKI Card Digital, kartu KKI syariah pertama di Indonesia yang menjadi salah satu strategi untuk memperkuat penetrasi pembiayaan ritel.

Melalui layanan Hasanah Digital, kartu pembiayaan virtual tanpa kartu fisik, nasabah dapat mengakses pembiayaan secara lebih mudah, fleksibel, dan real time melalui aplikasi BYOND by BSI.

Nasabah dapat memperoleh limit pembiayaan mulai dari Rp4 juta hingga Rp100 juta, dengan berbagai fitur seperti cicilan 0 persen, sumber dana pembayaran QRIS, pemantauan limit dan tagihan, riwayat transaksi, hingga notifikasi transaksi secara real time.

Inovasi ini diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan sekaligus meningkatkan aktivitas transaksi digital nasabah.

Selain itu, BYOND by BSI semakin lengkap dengan berbagai fitur unggulan, mulai dari Nabung Rutin Haji, Gadai dari Cicil Emas yang Akan Lunas, hingga pembukaan rekening tabungan yang terintegrasi dengan tabungan emas dan tabungan haji.

BYOND by BSI juga menghadirkan fitur BYOND Affiliate, mekanisme referral yang mempermudah nasabah merekomendasikan BYOND sekaligus memperoleh reward menarik sebagai afiliator.

Penguatan digital tersebut turut memperbesar ekosistem bisnis BSI. Hingga Juni 2026, Perseroan melayani 7,69 juta nasabah haji, 1,22 juta nasabah emas, 594,6 ribu nasabah cicil emas, dan 209,7 ribu nasabah gadai emas. Selain itu, lebih dari 585 ribu merchant QRIS telah terhubung dalam ekosistem BSI.

Ekosistem yang terus berkembang ini semakin memperkuat posisi BSI sebagai pemimpin bank syariah nasional dengan layanan yang lengkap, modern, dan relevan bagi seluruh segmen masyarakat.

Kinerja Keuangan Tetap Solid

Penguatan fondasi teknologi berjalan seiring dengan pertumbuhan kinerja keuangan yang sehat. Hingga Juni 2026, BSI membukukan laba bersih sebesar Rp4,16 triliun, meningkat 11 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Pertumbuhan laba didukung oleh ekspansi bisnis yang berkualitas, peningkatan kontribusi bisnis emas, serta penghimpunan dana yang semakin kuat.

Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 22 persen menjadi Rp393 triliun, didorong peningkatan dana murah atau CASA menjadi Rp238 triliun.

Pertumbuhan CASA berasal dari tabungan yang mencapai Rp173 triliun dan giro sebesar Rp65,5 triliun, sehingga semakin memperkuat struktur pendanaan Perseroan.

Komposisi pendanaan yang semakin efisien juga berhasil menurunkan Cost of Fund (CoF) menjadi 2,19 persen, memberikan ruang yang lebih besar bagi BSI untuk meningkatkan daya saing sekaligus menjaga profitabilitas.

Di sisi intermediasi, pembiayaan BSI tumbuh di seluruh segmen bisnis. Pembiayaan wholesale mencapai Rp95 triliun, pembiayaan ritel dan UMKM sebesar Rp55,83 triliun, sedangkan pembiayaan konsumer meningkat menjadi Rp189,25 triliun.

Pertumbuhan tersebut tetap diiringi kualitas aset yang terjaga, tercermin dari NPF Gross sebesar 1,80 persen dan NPF Net sebesar 0,33 persen.

Diversifikasi sumber pendapatan juga semakin kuat. Fee Based Income meningkat 38,15 persen menjadi Rp4,1 triliun, didorong pesatnya perkembangan ekosistem bisnis BSI, termasuk bisnis emas dan transaksi digital.

Secara keseluruhan, total aset BSI mencapai Rp464,5 triliun, tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Teknologi Jadi Fondasi Pertumbuhan Berikutnya

Anggoro menegaskan, peningkatan jumlah nasabah bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari peluang pertumbuhan bisnis yang lebih besar.

“Dengan fondasi teknologi yang semakin kuat, kapasitas sistem yang semakin andal, dan basis nasabah yang terus bertambah, kami memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendalaman hubungan dengan nasabah melalui berbagai solusi keuangan syariah,” katanya.

“Ke depan, fokus kami bukan hanya menambah jumlah nasabah, tetapi meningkatkan nilai yang dapat kami berikan kepada setiap nasabah melalui layanan digital yang semakin relevan, mudah, dan terintegrasi,” pungkas Anggoro.