LENSAPOST.NET– Bank Indonesia (BI) menggelar Aceh Economic Forum (AEF) Triwulan II 2026 dengan mengangkat tema percepatan rekonstruksi dan rehabilitasi lahan pertanian untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh pascabencana hidrometeorologi akhir 2025.
Dalam forum tersebut, Plh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Hertha Bastiawan, menyebut ekonomi Aceh pada Triwulan II 2026 tumbuh 4,86 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan Triwulan I 2026 yang tumbuh 4,09 persen.
“Percepatan ini tidak lepas dari sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, Forkopimda, dan masyarakat yang turut membantu proses pemulihan,” ujar Hertha dalam AEF di Auditorium Teuku Umar, Kantor Perwakilan BI Aceh, Banda Aceh, Selasa (19/8/2026).
AEF dihadiri unsur Forkopimda, perwakilan perbankan, akademisi, serta awak media. Forum ini menjadi ruang diskusi untuk merumuskan langkah percepatan pemulihan ekonomi Aceh, khususnya rehabilitasi sektor pertanian yang terdampak bencana.
Sekretaris Daerah Aceh, Muhammad Nasir, mengatakan proses rehabilitasi dan rekonstruksi tidak hanya bertujuan memperbaiki kerusakan akibat bencana, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi Aceh agar lebih produktif, inklusif, dan tangguh.
“Kami berharap diskusi hari ini melahirkan langkah-langkah nyata yang terukur dan terkoordinasi,” katanya.
Dalam forum itu, BAPPEDA Aceh mengungkap total kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh mencapai Rp153,25 triliun. Pendanaan diharapkan berasal dari APBN, APBD provinsi, APBD kabupaten/kota, serta sumber pendanaan lainnya.
Sementara Balai Wilayah Sungai I Sumatera mencatat sebanyak 67 daerah irigasi dan 54 bendungan terdampak bencana hidrometeorologi. Penanganan tanggap darurat serta rehabilitasi dan rekonstruksi ditargetkan rampung 100 persen pada akhir 2026.
Di sektor pertanian, Kementerian Pertanian mencatat 40.852 hektare atau 71,5 persen lahan terdampak telah masuk program optimasi dan rehabilitasi. Namun, realisasi fisik di lapangan masih rendah.
Lahan yang telah kembali diolah baru mencapai 3.661 hektare atau 8,9 persen, sedangkan luas tanam baru mencapai 373 hektare atau sekitar 1 persen.
Direktur Perlindungan dan Optimasi Lahan Kementerian Pertanian, Dede Sulaeman, menegaskan percepatan pengolahan dan penanaman menjadi pekerjaan penting agar lahan yang direhabilitasi benar-benar kembali produktif.
Melalui AEF Triwulan II 2026, BI dan Pemerintah Aceh berharap sinergi lintas sektor terus diperkuat untuk mempercepat pemulihan ekonomi pascabencana, menjaga inflasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh yang berkelanjutan.









