21 Tahun Damai Aceh, PBA Nilai Hasil Perdamaian Masih Hampa

Ketua Umum Lembaga Peumulia Bangsa Atjeh (PBA) Subki Bintang

LENSAPOST.NET — Memasuki 21 tahun penandatanganan kesepakatan damai antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Lembaga Peumulia Bangsa Atjeh (PBA) menilai hasil perdamaian yang dirasakan masyarakat Aceh masih jauh dari harapan.

Ketua Umum PBA, Subki Mohammad Bintang, mengatakan masih banyak persoalan yang membuat sebagian masyarakat Aceh mempertanyakan sejauh mana perdamaian telah membawa perubahan terhadap kesejahteraan rakyat.

Menurut Subki, perdamaian yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade semestinya mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Aceh, terutama dalam bidang kesejahteraan, pengelolaan sumber daya alam, serta pemenuhan hak-hak Aceh sebagaimana semangat kesepakatan damai.

“Sudah genap 21 tahun kesepakatan damai ditandatangani antara Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka. Namun kenyataan yang kami rasakan sungguh memilukan,” kata Subki dalam pernyataannya, Minggu (16/8/2026).

Ia menilai Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah, mulai dari hasil bumi hingga kekayaan laut. Namun, menurutnya, kekayaan tersebut belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Aceh.

“Selama puluhan tahun berada dalam pengelolaan Republik Indonesia, Aceh belum pernah merasakan kesejahteraan yang sebanding dengan apa yang kami berikan,” ujarnya.

Subki juga menyampaikan kekecewaannya terhadap kondisi masyarakat Aceh yang dinilai masih menghadapi berbagai persoalan ekonomi dan sosial.

Ia menegaskan bahwa perdamaian harus menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kehormatan masyarakat Aceh, bukan sekadar mengakhiri konflik bersenjata.

Atas kondisi tersebut, Subki menyerukan kepada masyarakat Aceh untuk bersatu memperjuangkan apa yang menurutnya menjadi hak-hak Aceh.

“Karena itu, atas nama Lembaga Peumulia Bangsa Atjeh (PBA), saya serukan kepada seluruh rakyat Aceh: mari bersatu, tarik mandat kembali dari Republik Indonesia. Kita kelola tanah air kita sendiri,” tegasnya.

Subki berpendapat bahwa pengelolaan sumber daya Aceh harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat setempat.

“Aceh kaya dan kekayaan itu harus kembali sepenuhnya kepada rakyat Aceh. Tidak ada alasan lagi kita menderita di tanah yang diberkati kelimpahan ini,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan PBA dalam momentum peringatan 21 tahun perdamaian Aceh. Subki berharap persoalan kesejahteraan dan pengelolaan kekayaan Aceh menjadi perhatian serius semua pihak agar perdamaian yang telah terjaga selama 21 tahun dapat terus dipertahankan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.