ACEH  

WWF-Indonesia dan Jerhemy Owen Galang Partisipasi Publik, 250 Ribu Bibit Pohon untuk Pulihkan DAS Peusangan

Dua peserta aksi penghijauan berpose sambil menunjukkan papan nama bibit yang ditanam dalam kegiatan penanaman pohon, menandai kontribusi mereka dalam upaya pelestarian lingkungan.

LENSAPOST.NET– Upaya pemulihan lingkungan di Aceh terus digencarkan melalui kolaborasi berbagai pihak. WWF-Indonesia bersama influencer lingkungan Jerhemy Owen menggalang partisipasi publik dengan menyalurkan 250.000 bibit pohon untuk pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan.

Program ini dijalankan secara bertahap melalui kolaborasi lintas pihak dalam kerangka Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI), yang tidak hanya fokus pada penghijauan, tetapi juga pemulihan ekosistem dan penguatan sumber penghidupan masyarakat.

Penanaman perdana dilakukan di sekitar Conservation Response Unit (CRU) DAS Peusangan, Sabtu (18/7/2026), dengan melibatkan masyarakat, relawan, komunitas, pemerintah daerah, hingga content creator. Sebanyak 2.000 bibit pohon ditanam pada tahap awal.

Selanjutnya, ratusan ribu bibit lainnya akan didistribusikan ke tujuh desa di Lanskap Peusangan, yakni Alur Cincin, Alur Gading, Blang Ara, Musara Pakat, Negeri Antara, Simpang Lancang, dan Salah Siron Jaya.

Direktur Konservasi WWF-Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki, mengatakan bahwa konservasi satwa liar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah yang sama.

“Upaya menuju koeksistensi harus menjawab kebutuhan keduanya, yaitu pemulihan habitat dan pengelolaan interaksi manusia dengan gajah, sekaligus memperkuat penghidupan masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan, konservasi tidak cukup hanya berfokus pada hutan atau satwa, tetapi harus berjalan seiring dengan pemulihan ekonomi warga yang terdampak perubahan lingkungan dan bencana.

Diketahui, Lanskap Peusangan merupakan habitat penting bagi Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang tersebar di wilayah Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Bireuen. Tekanan terhadap habitat serta meningkatnya konflik manusia dan gajah menjadi tantangan serius yang perlu ditangani secara terpadu.

Melalui program PECI, pendekatan berbasis lanskap diterapkan dengan mengintegrasikan pengelolaan satwa liar, pemulihan habitat, pengembangan agroforestri, serta penguatan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Jerhemy Owen selaku inisiator gerakan Wenanam menyebutkan bahwa gerakan ini lahir dari keinginan mengajak masyarakat luas untuk terlibat langsung dalam upaya pemulihan lingkungan.

“Menanam bukan hanya soal jumlah pohon, tetapi juga tentang memulihkan kehidupan masyarakat, memperbaiki habitat, dan membangun kembali hubungan manusia dengan alam,” katanya.

Bibit yang disalurkan tidak hanya tanaman keras, tetapi juga tanaman produktif seperti durian, jeruk, dan jambu yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Di wilayah tertentu, ditanam pula tanaman pionir, bambu, dan pakan gajah untuk memperbaiki kondisi lahan serta mendukung habitat satwa.

Program ini turut melibatkan berbagai pihak, di antaranya Kementerian Kehutanan RI, Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten terkait, akademisi, serta mitra internasional seperti FCDO dan HSBC Indonesia.

Selain itu, dukungan juga datang dari berbagai sektor swasta dan komunitas, termasuk platform penggalangan dana yang membantu mobilisasi partisipasi publik.

Melalui gerakan ini, 250.000 bibit pohon diharapkan menjadi simbol harapan bersama dalam membangun lanskap yang lebih lestari, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menciptakan kehidupan yang harmonis antara manusia dan gajah di kawasan Peusangan.