LENSAPOST.NET – Di tengah derasnya arus informasi dan pesatnya perkembangan teknologi, kemampuan membaca dan menulis saja dinilai belum cukup untuk menghadapi tantangan zaman. Masyarakat juga dituntut memiliki kecakapan literasi digital agar mampu memahami, memilah, serta memanfaatkan informasi secara cerdas dan bertanggung jawab.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan penting Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H., saat membuka Festival Literasi Lhokseumawe 2026, Senin (3/11/2026).
Dalam sambutannya, Sayuti menegaskan bahwa penguatan budaya literasi harus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Literasi tidak boleh hanya dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan masyarakat dalam memahami perubahan serta perkembangan informasi di era digital.
Menurutnya, kemajuan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh, mengakses, dan mengolah pengetahuan. Kondisi tersebut menuntut masyarakat agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan mampu memanfaatkannya untuk hal-hal yang produktif dan bermanfaat.
“Selain kemampuan membaca dan menulis, masyarakat saat ini juga dituntut menguasai literasi digital agar mampu mengikuti perkembangan teknologi dan informasi,” demikian disampaikan dalam sambutannya.
Sayuti menilai, penguatan literasi merupakan bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Budaya membaca harus terus ditumbuhkan, terutama di kalangan generasi muda, sehingga mereka memiliki kemampuan berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.
Festival Literasi Lhokseumawe 2026 dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai 2 hingga 5 November 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Lhokseumawe dalam memperluas budaya literasi sekaligus meningkatkan minat baca di kalangan pelajar dan masyarakat umum.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Lhokseumawe, Resi Nuridayati, mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai persiapan untuk menyukseskan pelaksanaan festival tersebut.
Persiapan itu meliputi kegiatan sosialisasi serta pendataan perpustakaan, khususnya perpustakaan yang berada di lingkungan sekolah. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat keberadaan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran, pengembangan pengetahuan, dan peningkatan kualitas literasi.
Melalui festival ini, pemerintah daerah berharap tumbuh kesadaran masyarakat bahwa literasi bukan sekadar kegiatan membaca buku, melainkan kemampuan memahami informasi, membangun pengetahuan, dan mengambil keputusan secara tepat.
Di tengah banjir informasi digital, masyarakat tidak cukup hanya cepat menerima dan menyebarkan informasi. Lebih dari itu, diperlukan kecakapan untuk memeriksa kebenaran, memahami konteks, serta menggunakan informasi secara bijak.
Dengan demikian, Festival Literasi Lhokseumawe 2026 diharapkan menjadi momentum untuk membangun masyarakat yang gemar membaca, kritis dalam berpikir, dan cakap menghadapi tantangan era digital.(*)












