LENSAPOST.NET— Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Gampong Binaan (PKM-BGB) Universitas Syiah Kuala (USK) melakukan audiensi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh terkait pengembangan ekowisata berkelanjutan di Gampong Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar.
Audiensi dipimpin Ketua Tim PKM-BGB, Ir. Freddy Sapta Wirandha, S.T., M.Eng, didampingi anggota tim Irwandi, S.Si., M.Si., Ph.D serta mahasiswa pelaksana program, dan diterima langsung oleh Kepala Bidang Destinasi Wisata Disbudpar Aceh beserta jajaran.
Dalam pertemuan tersebut, tim PKM-BGB memaparkan program pengembangan ekowisata berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Augmented Reality (AR) yang telah dilaksanakan sejak Juli 2025. Gampong Lamreh dengan penduduk sekitar 1.900 jiwa memiliki potensi wisata alam, sejarah, dan geowisata yang besar, namun belum terkelola optimal.
“Program PKM-BGB ini bertujuan memberdayakan masyarakat melalui integrasi teknologi digital dalam pengelolaan ekowisata berkelanjutan. Kami telah memetakan 40 titik potensi wisata, membangun aplikasi Android ‘Explore Lamreh’, serta menyusun modul pelatihan pengelolaan wisata ramah lingkungan,” ujar Freddy.
Pemetaan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pemuda dan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS). Masyarakat dilatih menggunakan Geotracker untuk pengumpulan data spasial, dokumentasi foto, dan deskripsi destinasi. Pelatihan dilaksanakan pada 25 Oktober 2025 di Balai Gampong Lamreh.
Tim juga menyusun enam modul pelatihan, meliputi penggunaan GIS dan Geotracker, edukasi sejarah, geowisata, simulasi bencana, serta pengelolaan ekowisata berkelanjutan. Modul diserahkan dalam bentuk cetak dan digital sebagai sarana pembelajaran berkelanjutan.
Aplikasi “Explore Lamreh” menghadirkan empat fitur utama:
- Wisata: peta interaktif 40 titik destinasi lengkap dengan akses dan navigasi real-time.
- Sejarah: narasi sejarah Kerajaan Lamuri, Benteng Inong Balee, dan situs lain dengan visualisasi AR.
- Ekowisata: edukasi pengelolaan wisata ramah lingkungan dengan tiga kategori pengguna (wisatawan, pemandu, warga lokal).
- Kebencanaan: informasi mitigasi, status kewaspadaan, dan jalur evakuasi tsunami dan gempa.
Program ini juga menghasilkan Peta Potensi Wisata SIG serta memfasilitasi pembentukan POKDARWIS Lamreh beranggotakan 25 orang.
Disbudpar Aceh mengapresiasi tinggi inovasi yang dilakukan tim PKM-BGB USK.
“Program ini sejalan dengan visi kami mengembangkan destinasi wisata berbasis teknologi dan berkelanjutan. Integrasi SIG dan AR sangat relevan dengan perkembangan industri pariwisata digital. Keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci keberlanjutan,” kata Kepala Bidang Destinasi Wisata.
Disbudpar Aceh menyatakan siap berkolaborasi dalam promosi, pendampingan pengelolaan aplikasi dan peta digital, pelatihan lanjutan POKDARWIS, peningkatan infrastruktur, hingga mendorong Lamreh sebagai desa wisata unggulan tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional.
Dengan dukungan pemerintah, Freddy optimistis Lamreh akan berkembang sebagai destinasi ekowisata berkelanjutan yang memberi dampak ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan, budaya, sejarah, serta ketangguhan bencana.
Sebagai tindak lanjut, tim PKM-BGB juga akan melakukan audiensi dengan BPCB, BPBA–BPBD, Dinas Kelautan dan Perikanan, serta mendorong pengakuan potensi geowisata Lamreh dalam jaringan Geopark serta penetapan Lamreh sebagai Desa Wisata.
“Ini bentuk nyata kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun pariwisata berkelanjutan,” tutup Freddy.












