Komisi XI DPR Soroti Pengawasan BPK dan Celah Kompromi WTP

Gedung BPK

LENSAPOST.NET— Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Fauzi Amro mendorong Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI memperkuat pengawasan berbasis teknologi informasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mencegah kebocoran keuangan negara.

Fauzi mengatakan pemanfaatan AI diperlukan untuk mendeteksi potensi kerugian negara sejak dini, mulai dari pengelolaan APBN, APBD provinsi, perpajakan hingga bea cukai.

“Bagaimana AI ini bisa me-capture kerugian negara mulai dari APBN, APBN Provinsi, Pajak, Bea Cukai, dan seterusnya,” ujar Fauzi seusai memimpin uji kelayakan dan kepatutan calon Anggota BPK RI di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026.

Menurut dia, transformasi digital juga dapat mengurangi interaksi langsung antara auditor dan pihak yang diperiksa. Langkah itu dinilai penting untuk menekan potensi korupsi dan kompromi dalam proses pemeriksaan, termasuk dalam pemberian opini Wajar Tanpa Pengecualian atau WTP.

Fauzi juga meminta anggaran BPK yang besar diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan temuan, tetapi juga memperkuat fungsi pencegahan dan supervisi terhadap pengelolaan belanja negara.

Ia mengatakan kinerja anggota BPK terpilih perlu dievaluasi secara berkala dengan indikator yang terukur. “KPI daripada masing-masing anggota akan kita minta dan evaluasi laporan kinerjanya per triwulan,” ujarnya.

Terkait pengawasan auditor di daerah, Fauzi meminta BPK memperbaiki sistem pengawasan internal terhadap tim pemeriksa. Sistem tersebut, kata dia, perlu memungkinkan pemantauan pergerakan tim secara terintegrasi.

“Yang paling penting menghindari pertemuan antara yang diperiksa dengan objek yang diperiksa,” kata Fauzi.

Uji kelayakan dan kepatutan terhadap 23 calon Anggota BPK RI tersebut dibagi dalam dua panel untuk mengisi dua posisi anggota BPK yang kosong.

Panel pertama menguji 12 calon, yakni Anis Fauzan, Prof. Agung Nur Probohudono, Kiagus Ibrahim Kholil, A. Iskandar Zulkarnain, Martuama Saragi, Imbuh Agustanto, Jodi Purgito, Laksmi Wijayanti, Diana, Sofredi Ansyah, Bunyamin, dan Nyoman Adhi Suryadnyana.

Panel kedua menguji 11 calon, yakni Iggi Haruman Achsien, Hasbi Anshory, Asep Rahmat Suwandha, Muhammad Imam Bagus Asmara, Samsudin, Kartika Sismiantari, Yapit Sapta Putra, Sapta Haryana, Adrie Handria, Urip Nurhidayat, dan Khaidir Abdurrahman.