LENSAPOST.NET – Erosi yang terjadi di sepanjang aliran Krueng Babahrot mulai menjadi perhatian warga Desa Cot Seumantok, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).
Gerusan arus sungai secara perlahan terus mengikis lahan perkebunan masyarakat yang berada di sekitar daerah aliran sungai (DAS). Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dikhawatirkan akan terus mengurangi luas lahan produktif milik warga.
Salah seorang pemilik lahan, Saiful, mengatakan kebunnya menjadi salah satu yang terdampak erosi. Dari luas lahan yang sebelumnya diperkirakan mencapai sekitar 4 hektare, sebagian kini telah hilang akibat terkikis aliran sungai.
“Lahan saya sendiri lebih kurang ada 1 hektare yang sudah jadi sungai. Pemilik lahan lainnya juga merasakan hal yang sama,” kata Saiful.
Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan arah aliran Krueng Babahrot. Ia menyebut, sebelumnya pernah dilakukan pembangunan tebing penghalang di sisi lain sungai oleh salah satu perusahaan di Kecamatan Babahrot.
“Yang terparah saat ini berada di lokasi yang dulunya ada jembatan gantung penghubung antara Desa Cot Seumantok dan Desa Alue Jereujak. Jembatan tersebut sekarang sudah tidak ada,” jelasnya.
Meski demikian, Saiful menegaskan persoalan tersebut tidak ingin diarahkan untuk mencari pihak yang harus disalahkan. Ia berharap perhatian semua pihak lebih difokuskan pada upaya mencari solusi agar erosi tidak terus meluas.
“Dulu pernah disampaikan secara lisan kepada perusahaan tersebut, tapi tidak ada tanggapan dan tindak lanjut. Tapi bukan itu yang menjadi persoalan utama,” ujarnya.
Bagi Saiful, persoalan mendesak saat ini adalah bagaimana menyelamatkan lahan masyarakat yang masih tersisa. Sebab, semakin lama erosi berlangsung, semakin besar pula potensi berkurangnya lahan perkebunan warga.
“Kita tidak mencari siapa yang salah. Yang penting bagaimana mencari jalan keluar supaya kebun warga tidak semakin terkikis,” katanya.
Ia berharap pemerintah, baik Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya, Pemerintah Aceh, maupun pemerintah pusat, dapat melihat langsung kondisi tersebut serta melakukan kajian dan langkah penanganan yang tepat.
Menurut Saiful, terdapat ratusan hektare perkebunan milik masyarakat di sepanjang DAS Krueng Babahrot yang berpotensi terdampak jika erosi terus dibiarkan.
“Kami berharap ada solusi agar ratusan hektare kebun milik warga tidak semakin tergerus dan berubah menjadi aliran sungai,” ujarnya.
Ia menilai penanganan erosi perlu dilakukan secara terpadu dengan mempertimbangkan kondisi aliran sungai, lingkungan, serta keberlangsungan lahan produktif masyarakat.
Warga berharap persoalan tersebut menjadi perhatian bersama. Penanganan Krueng Babahrot dinilai penting, tidak hanya untuk mencegah kerusakan lahan perkebunan, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan mata pencaharian masyarakat di sekitarnya.












